Waktu Baca: 3 menit

            Drama bursa transfer memasukki plot twist yang tak terduga. Kylian Mbappe kini secara resmi berhasil memaksa klub kaya Paris Saint Germain untuk menjualnya. Tujuannya kemana? Ah, kayaknya tinggal menunggu waktu untuk melihat Kylian Mbappe berseragam Real Madrid. Isu Mbappe ke Madrid ini bagaikan mitos yang sudah menjadi kepercayaan setiap orang. Mbappe tentu memiliki alasan kenapa sampai tega meninggalkan Les Parisien yang kaya dan seksi di mata banyak pebola dunia. Ia ingin mengejar sejarah karena bermain di Prancis doang tak membuat Mbappe membuktikan apa apa. Di saat bersamaan, Harry Kane, penyerang ciamik Tottenham memutuskan untuk bertahan di timnya. Nah, bisa dibilang hal ini membuktikan Harry Kane pemain setia. Tapi seriusan, ngapain lagi ia bertahan di Tottenham??

Proyek Les Parisien Tak Ubahnya Ngurus Brand Doang

Mbappe mungkin sabar menunggu selama musim panas dan juga musim lalu untuk melihat perkembangan tim Paris. Setelah beberapa waktu, iapun memgambil kesimpulan: PSG kayaknya peduli dengan brand doang. Ya, PSG memang membeli banyak pemain bintang. Bahkan bintang sepak bola dunia, the GOAT, Lionel Messipun bergabung dengan PSG. Namun, ya itu tadi, apa benar Les Parisien membutuhkan Messi? Singkatnya, strategi transfer PSG bak aji mumpung mengumpulkan bintang bintang dunia tanpa maksud dan tujuan yang jelas dalam aspek sepak bola. Apalagi bintang yang datang kebanyakan berumur.

Mbappe mungkin merasa dirinya masih muda. Ia tidak mau menjadi bagian sirkus bola bernama PSG. Ia lebih memilih bergabung dengan tim yang memang ingin membangun tim beneran. Hal itu bisa ia dapatkan ketika bergabung dengan Madrid. Mbappe ke Madrid karena ia ingin bermain sepak bola yang berpotensi menjadi sejarah, bukan sekedar koleksi bintang ala PSG.

Bukan tidak mungkin Mbappe berkaca pada Thomas Tuchel. Tuchel yang mengaku capek mengurus bintang PSG yang sibuk ngurusin egonya akhirnya mendapat kejayaan bersama Chelsea. Kenapa Mbappe juga tidak keluar supaya mendapat kejayaan sejati? (baca: Liga Champions).

Harry Kane Basi!

Mbappe ke Madrid

Sementara langkah Mbappe ke Madrid bisa kita sebut sebagai langkah progresif. Keputusan Harry Kane bertahan di Tottenham tak ubahnya drama basi. Mau ngapain lagi Kane di Tottenham? Tottenham tidak berkembang kemana mana dan bahkan semakin njlungup. Jika Jose Mourinho saja tidak mampu mengangkat Tottenham, mau berharap apalagi Kane ini?

Mungkin inilah yang kita sebut cinta itu buta. Tapi beneran deh, Kane seharusnya berhenti bersikap buta. Ia sudah berumur 28 tahun dan belum pernah merasakan gelar kolektif sebagai tim. Masa ia mau dikenal seperti Matt Le Tissier sebagai striker yang bagus tanpa gelar? Orang hanya mendengar Tissier bak dongeng masyhur namun tanpa ada bukti konkret.

Kane terlalu bagus hanya untuk menjadi dongeng masyhur. Namun, Kane kayaknya tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko seperti Mbappe.

Perlu Keberanian Dalam Membuat Sejarah

Mbappe di PSG itu enak. Ia adalah pemain muda paling disayang. Mbappe juga bisa memenangkan liga dengan mudah tiap tahunnya. Selain itu, suasana Prancis yang akrab dengannya juga masih bisa ia rasakan. Tapi, sepak bola PSG saat ini ya masih sepak bola selebritis. Artinya apa? PSG ya masih mengejar brand saja. Padahal Mbappe tahu karir jadi pemain bola itu pendek. Masuk akallah kalau Mbappe ingin ke Madrid karena ia sudah ogah mengejar brand doang. Ia mau menjadi sejarah.

Konsekuensinya ya meninggalkan kenyamanan hidup. Kata siapa ia tidak bisa flop di Real Madrid?

Di sisi lain, Harry Kane tampak nyaman nyaman saja di Tottenham. Ia mendapatkan jaminan pemain inti dan posisi kapten tim, ia juga emang lahir di London. Tapi, sikap Kane ini akan membuatnya membayar mahal. Ia beneran bisa jadi Matt Le Tissier jilid dua. Sungguh disayangkan karena Kane kalah dengan Mbappe yang berani membuka jalannya sendiri. Yah, bisa dikatakan inilah penyakitnya pemain Inggris. Mereka suka mencari kenyamanan dengan berlindung dengan kata loyalitas pada klub. Sementara itu, pemain dari Prancis, Portugal atau Belanda berani merantau demi pengalaman dan pengembangan diri.

Plot Twist

Setelah kita melihat dua kejadian yang bertolak belakang ini, kita masih bisa melihat plot twist yang terjadi. Bagaimana kalau misalnya ternyata Real Madrid tidak mampu menebus Mbappe? Sementara itu Manchester Biru kini punya dana luar biasa tapi tidak bisa dicairkan untuk memboyong Harry Kane? Ya, Mbappe bisa ke City!

Hal ini jelas akan menjadi nyinyiran banyak pihak karena Mbappe cuma pindah dari satu klub kaya ke klub kaya lainnya. Eh jangan salah, City berbeda dengan PSG. City benar benar membangun klub sepak bola. Mereka tidak membeli pemain bintang hanya untuk agar kelihatan keren saja. City juga bermain di liga yang sulit. Melihat hal ini, jikapun Mbappe tidak pindah ke Madrid, kepindahannya ke City tetaplah layak. Ya iya, daripada nunggu ayam jantan bertelur di London, iya kan?

Baca juga kisah bal balan lainnya:
Richarlison Gacor, Tapi Belum Memikat

Lukaku Kuat dan Cerdas, Chelsea Bakal Menyebalkan

Arsenal Pasrah Tapi Tidak Ikhlas

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini