Waktu Baca: 3 menit

“Don’t judge a book by its cover” Jangan menilai apa-apa dari luarannya. Pepatah itu saya terapkan betul untuk urusan menilai kualitas suatu tempat. Saya punya kebiasaan unik. Seringkali ketika saya datang ke ruang publik (Rumah Sakit, Kampus, Sekolah Mall, Resto, Kafe), saya akan masuk ke toiletnya. Tujuan masuk toilet ya memang untuk pipis, karena urusan metabolisme tubuh. Tapi tujuan utamanya, saya mau ‘merasakan’ toiletnya. Bagi saya yang paling asyik adalah ketika datang ke resto atau kafe. Saya akan menilai kualitas kafe dari toiletnya.

Mengapa harus toilet ? 

Peturasan alias toilet juga ada unsur kebudayaannya. Sepemahaman saya, dalam struktur rumah masyarakat Jawa, kamar mandi atau toilet ditempatkan di area paling belakang. Kalau bisa bahkan tersembunyi. Nah, karena tersembunyi di belakang, maka tidak sembarangan tamu bisa numpang pipis di belakang. Tamu juga jadi merasa sungkan karena akan melewati bagian dalam rumah yang sifatnya privat. Karena tersembunyi pula, maka seringkali pemilik rumah tidak terlalu peduli dengan kebersihan dan kerapian toilet. Yang penting fungsional. Berbeda dengan bagian depan atau kamar, yang akan dirapikan dan dijaga kebersihannya.

Pola pikir ini juga terbawa dalam fungsi bangunan lainnya. Sekolah, kampus, resto, kafe, dan berbagai ruang publik lainnya seringkali menempatkan toilet di belakang. Jarang yang menempatkan toilet di area depan. Tapi dalam hal ini, di manapun letak toiletnya, mindset higienis dari pemilik atau pengelola bangunan bisa dengan mudah terbaca. Orang bisa saja membuat kafe yang cozy, keren, dan nyaman. Tapi begitu kondisi toiletnya jelek, bagi saya sih pemilik kafe nya hipokrit.

Menilai Kenyamanan Toilet

Bagi saya luas ruangan tidak jadi masalah. Entah dia hanya 3m2 atau 16m2, yang penting bersih !. Urusan pencahayaan juga penting. Saya paling sebel kalo ada ruang publik yang lampunya remang-remang, kayak di film thriller. Ya memang lampu redup bakal membuat orang untuk tidak berlama-lama ada di toilet. Tapi orang beranjak dari toilet karena takut, bukan karena semangat produktif. Kalo mau membuat orang untuk produktif, ya pakailah lampu yang terang.

Beberapa kali saya menemukan toilet di rumah sakit yang lampunya remang-remang. Yang begini ini bikin saya heran. Apa sih isi kepalanya si manajer General Affair sehingga membiarkan toilet tidak nyaman untuk publik ? Kalo di kafe atau resto sih saya lebih sering menemukan toilet yang pencahayaannya nyaman. Misalnya dengan lampu 5 LED 5 watt atau pakai lampu warm white.

Kebersihan piranti toilet

Bagi cowok, urusan pipis itu sepele. Asal ada lubang pembuangan, beres. Entah di urinoir atau kloset, yang penting pipis lancar. Kalo ada air bersih untuk menyiram, syukur. Kepepetnya tidak ada air, ya sudah. Paling risikonya toilet jadi pesing. Itu juga urusannya pengelola bangunan. Tapi bagi cewek, urusan pipis bisa jadi perkara ribet. Apalagi kalo melihat ember, gayung, kloset, atau lantai yang berlumut. Pemandangan menjijikkan cukup membuat kaum hawa batal pipis, dan segera meninggalkan gedung untuk pulang dan pipis di rumah.

Saya sih berpikir, kalo piranti toilet sampai berlumut bahkan ada kerak, berarti pemilik bangunan tidak peduli dengan kebutuhan dan kenyamanan konsumen.  Apa susahnya menyewa cleaning service untuk membereskan toilet? Kalau pun dikerjakan sendiri, membersihkan toilet itu tidak butuh waktu lama. Satu jam beres, asalkan caranya benar. Kalau toilet menjijikkan ini ada di fasilitas ruang publik misalnya kantor Samsat, ya okelah. Konsumen mau ngomel-ngomel seperti apa pun toh mereka akan terpaksa datang lagi. Tapi kalo sampai kafe atau resto punya toilet yang menjijikkan, siap saja untk kehilangan konsumen.

Toilet yang ideal

Saya suka dengan resto atau kafe yang memperhatikan kualitas toiletnya. Tidak harus mewah, tetapi bersih. Misalnya ketika saya berkunjung ke resto Aroma Italia. Furnitur dan piranti toiletnya sih biasa saja, tetapi resik. Idealnya, toilet itu tidak berbau. Kalau pun pakai pengharum ruangan, ya biasa saja, tidak terlalu menyengat. Bagus lagi ketika itu konsepnya toilet kering, sehingga lantai tidak licin.

Baik juga kalo kondisi toilet selaras dengan konsep resto atau kafe nya. Misal kafe nya bertema retro, ya toiletnya pun ada ornamen retro. Tapi kalo penampilan restonya kumuh dan toiletnya pun kumuh, itu juga selaras menjijikkannya.

Nah, selamat menilai kualitas kafe dari toiletnya. Kalo kamu punya usaha kuliner dan toiletmu nggak beres, bertobatlah !

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini