Waktu Baca: 4 menit

Alangkah kejamnya saya dengan judul artikel ini. Dengan berani saya mengatakan bahwa nikah dengan modal gaji 16 juta Rupiah perbulan adalah perbuatan yang nekad. Padahal, gaji 16 juta Rupiah itu ya besar. Wong usaha sendiri saja belum tentu mendapat uang sebesar itu. Namun mari kita berbicara konteksnya  kenapa saya bilang ini sebagai nikah nekad.

Ketika berbicara 16 juta Rupiah, kita bicara gaji ibu kota. Tentu hidup di ibu kota dan kota kecil seperti Muntilan adalah hal yang sangat njomplang. Di Muntilan, masih ada rumah dengan harga 200 jutaan dengan model kavling dimana paling hanya sepeda motor yang bisa melalui jalan yang ada. Dengan harga 200 juta sampai 300 juta, tentu nyicil selama sepuluh atau lima belas tahun dengan harga 1,6 juta per bulan masih memungkinkan. Nah, kalau di Jakarta, harga tanah mencapai Milyaran Rupiah, minimal tiga Milyar Rupiah, hal hal kayak gitu tidak memungkinkan.

Belum kalau kita bicara anak, belum kalau kita bicara investasi, belum bicara transportasi dan belum kalau kita bicara pandemi…Waduh… Melihat potensi pengeluaran di ibukota, penghasilan 16 juta Rupiah dan berani nikah itu nekad.

Strategi Teman Saya

Tulisan ini tidak mengajak anda untuk tidak menikah jika belum memiliki penghasilan di atas 16 juta Rupiah. Tulisan ini adalah tulisan reflektif sekaligus mengajak kita mikir. Angka 16 juta itu saya dapat dari teman saya yang baru saja menikah. Berhubung sedang pandemi ya dia memang nikah dengan sederhana saja. Pemberkatan di gereja dan langsung sah saja hubungan dia dengan calon istrinya. Waktu dia share soal gajinya, ya saya kaget. Wah apa ya bisa hidup di Jakarta dengan uang segitu? Kamu gak nikah nekad tuh?

Tapi ia membuat pembelaan. Ia menjelaskan pada saya bahwa rumah ‘kan gak harus di Jakarta. Ia bisa saja tinggal di kota satelit seperti di Bogor atau Tangerang. Malah kalau dia mau lebih hemat lagi, ia bisa membeli rumah di Sentul. Kira kira jaraknya dua jam dari Jakarta. Asal ia berangkat pagi pagi, bisalah ia sampai kantornya tepat waktu.

Soal makan kan bisa lah diatur. Kalau teman teman lain makan enak di mall, ia bisa membeli bekal misalnya. Soal anak, sekolah ‘kan gak harus selalu mahal. Bisa lah masuk ke SMP dan SMA Negeri. Kalau si anak kurang pintar, masih bisa diusahakan masuk swasta yang tidak mahal. Selalu ada saja strategi untuk survive. Saya manggut manggut meng-iya-kan.

Yang Diuntungkan Dalam Seorang Anak

Usaha teman saya itu joss dan di atas kertas mungkin sekali untuk diimplementasikan. Jika teman saya disiplin dan berusaha keras, maka ia bisa mencapai goalnya. Pertanyaannya sekarang, dengan segala usaha dan perjuangannya, benefit apa yang akan ia dapatkan? Siapa yang mendapat keuntungan terbesar akan lahirnya seorang anak?

Jawabannya: bukan dia!

Iya, pasti bukan teman saya. Yang mendapat keuntungan adalah negara dan perusahaan top. Coba kita lihat di Jepang, Singapura, Korea Selatan dan Australia, siapa pihak paling getol menyuruh warganya punya anak? Negara dan perusahaan besar termasuk beberapa organisasi keagamaan yang berjalan seperti korporasi di sana.

Padahal warganya ogah punya anak dan menikmati tidak punya anak. Tapi perusahaan dan negara butuh sumber daya manusia. Mereka butuh orang yang bekerja sebagai buruh, sebagai karyawan kantor dan administrasi. Para penguasa butuh massa untuk membayar pajak. Ada keinginan bahwa mereka butuh massa untuk terus menerus membeli produk mereka.

Yang tua harus diganti dengan yang muda. Tentu para pemilik perusahaan dan negara tidak bisa memproduksi anak. Makanya mereka menyuruh karyawan mereka untuk bekerja, merawat anak dan nantinya si anak ini menjadi aset mereka karena anak kaum menengah harus bekerja pada mereka. Sebuah sistem peternakan manusia yang luar biasa.

Negara negara maju, yang warganya sudah enggan beranak akhirnya mencoba ‘memaksa’ warganya punya anak baik dengan propaganda media, tunjangan dan lain lain. Sementara anak yang lahir dari kalangan menengah hanya akan menjadi oli untuk kekayaan sebagian oligarki saja.

Makanya saya bilang, kalau kamu berjuang mati matian demi punya anak dengan seadanya, kamu hanya berkontribusi menambah oli mesin pencetak uang bagi orang kaya. Iya nggak sih?

Lalu, Bagaimana?

Berharap anakmu akan merawatmu di masa tuamu juga saya kira tidak bijak. Kamu saja merasa menjadi generasi sandwich karena harus mengurus orang tuamu dan keluarga pribadimu. Masa anakmu mau kamu gitukan? Lalu, kenapa punya anak?

Saya jadi ingat ucapan seorang jendral perang Tiongkok. Ia mengatakan, dalam sebuah peperangan, kalau harus membunuh orang tua atau anak musuhmu, maka bunuhlah anak musuhmu. Kehilangan orang tua mungkin kayak ya sudahlah. Tapi kalau kehilangan anakmu, maka kamu kehilangan warisanmu, peninggalanmu.

Ya, mungkin punya anak adalah soal warisan. Bukti bahwa kamu berhasil mencapai sesuatu di hidupmu. Anak adalah simbol keberhasilanmu. Maka, kalau mau agak kasar, anak ini mungkin hobi mahal untuk orang super kaya. Wkwkwkwkwk..

Kok terkesan sangat kejam ya penggambarannya?

Tapi teman saya mengatakan pada saya: kamu mana tahu apa senangnya punya anak kalau kamu belum punya anak?

Bener juga sih…

Kalau Saya…

Saya pribadi, terlepas apa tujuan punya anak, kepengen yang terbaik buat anak saya. Jelas, ada keinginan agar anak saya ini tumbuh maksimal dan benar benar mencapai potensinya. Hemat saya, enggak mungkin juga menyekolahkan dia seadanya, semampu kantong saya. Lha wong saya aja melihat dengan mata kepala sendiri betapa talenta unggul kalau mendapat sokongan finansial bisa sukses hebat seperti Maudy Ayunda. Saya tuh takut, gimana kalau anak saya ini potensinya jadi Presiden, karena kegoblokan saya dia berakhir jadi bukan siapa siapa, semua karena salah saya. Ngeri tho?

Karena itulah, walau terkesan sombong, ya buat saya Nikah nekad dengan 16 juta Rupiah perbulan bukan keputusan yang bijak terlepas bisa dilakukan pada prakteknya apa enggak.

Gambar oleh : Shardayyy Photography

Baca juga tulisan tulisan kami lainnya soal perencanaan keluarga dan problemanya:

Fresh Graduate Ditanya Kapan Nikah, Kita Masih Cari Kerja!

Menikah di Kala Pandemi : Sebuah Penelitian Random

Menikah Untuk Apa? Suatu Jawaban Yang Bikin Galau

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini