Orang Tua dan Dalih “Kalau yang Lainnya Bisa, Kenapa Kamu Enggak?” : Sebuah Refleksi!

0
42
Waktu Baca: 3 menit

Dalam menjalani kehidupan, tentunya tiap orang memiliki motivasi atau pegangan hidup masing-masing. Tak jarang, banyak dari kita yang juga percaya akan pepatah yang banyak disampaikan oleh orang-orang terdahulu yang dianggap sudah lebih berpengalaman dalam menjalani hidup. Bahkan, tidak berhenti disitu, kepercayaan pada pepatah ini juga kemudian dijadikan standar kehidupan oleh sebagian orang, hingga doktrin yang harus dipenuhi bagi generasi berikutnya. Melihat hal ini, sedikit banyak timbul masalah karena perbedaan pola pikir dan situasi atau keadaan yang terjadi di sekitar kita. Kira-kira apa aja sih masalah yang muncul? Yuk, kita simak!

“Kalau yang lainnya bisa, kenapa kamu nggak bisa? Kamu juga harus bisa!”

Kata-kata diatas tentu akrab sekali dengan teman-teman yang sedang menjalani studi baik di jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Saking seringnya, kata-kata ini bukanlagi diartikan sebagai sesuatu hal yang memotivasi, namun justru sebaliknya. Banyak orang yang terhipnotis suatu pepatah tanpa lebih dulu mengenal maknanya lebih dalam. Seperti halnya kata-kata diatas “Kalau yang lainnya bisa, kenapa kamu nggak bisa?” pada kalimat awal, konotasi yang dimaksudkan oleh sang pencetus bermaksud untuk encouraging (memberikan semangat) pada tiap orang yang mendengarnya sekaligus memotivasi orang untuk pantang menyerah. Tapi, pada kenyataanya, orang dengan pemikiran seperti ini cenderung memaksakan dirinya sendiri untuk menjadi seperti orang lain. Belum lagi ditambah kalimat kedua yang cenderung lebih aktif “Kamu juga harus bisa!” dimana hal ini makin memberi unsur pemaksaan terhadap diri sendiri. 

Baca juga : Orangtua Adalah Kunci

Orang Tua dan Dalih “Kami cuma gak mau kamu berakhir seperti kami,”

Tidak berhenti disitu, pemikiran seperti ini biasanya sering didapati pada orang tua dengan dalih menginginkan anaknya untuk tidak berakhir seperti mereka. Perasaan cemas yang kemudian berkembang menjadi ketakutan hingga berujung menuntut lebih dengan dalih “agar tidak berakhir sama” hanya akan menjadi beban bagi sang anak. Anak yang dituntut untuk selalu memberi lebih dan lebih lagi kemudian akan terbiasa untuk menetapkan standar tertentu pada tiap usaha yang dilakukannya. Kebiasaan ini pun pada akhirnya akan berpengaruh pada psikis/mental anak, karena dirinya selalu merasa harus memenuhi ekspetasi dan melebihi standar yang sudah Ia tentukan hanya untuk mendapatkan pujian (compliment). Pola hidup yang berkembang dari sikap orang tua yang seperti ini pun akan cenderung menjadi toxic relationship atau hubungan yang toksik karena pihak pertama hanya bisa demanding (meminta, menuntut) pada pihak kedua yang hanya bisa memaksa dirinya untuk terus memberikan lebih dari standar yang ditentukan.

Orang Tua dan Dalih “Kalau Papa sama Mama aja bisa, kamu juga harus bisa!”

Pola pemikiran tiap orang tua tentu berbeda-beda. Tak hanya berhenti pada satu pola pikir, pola pikir yang lain juga sering muncul dan kerab menghantui tiap proses yang telah dilakukan oleh sang anak. Pola pemikiran yang berdalih “Kalau papa dan mama saja bisa, kamu juga harus bisa!” nantinya akan berubah menjadi ajang kompetisi dan ajang membanding-bandingkan pencapaian orang tua terdahulu dengan pencapaian yang telah dilakukan oleh sang anak (comparing achievement).

Hal ini tentu mengusik apabila tidak ditindaklanjuti. Pemahaman yang terbatas serta dalih yang berlindung dibalik kata “kalau” tentunya akan terus menghantui pemikiran sang anak karena selalu merasa kurang dan dianggap tidak pernah cukup. Hubungan anak dan orang tua yang seharusnya suportif menjadi terbalik karena sang anak selalu merasa kurang dan dianggap tidak pernah cukup setelah proses membanding-bandingkan.

Baca juga : Anak Hebat Hancur Karena Orang Tua Gak Siap

Tak jarang, banyak sekali anak yang merasa stress hingga marah karena orang tuanya selalu menuntutnya untuk selalu perfect tanpa kesalahan sedikit pun. Tentunya, hal ini menjadikan hubungan antara anak dan orang tua menjadi kurang harmonis dan akhirnya hanya berujung bersitegang atapun pertengkaran.

Perasaan yang menghantui sang anak untuk terus berbuat sempurna Perubahan pola pikir dan perspektif yang seharusnya buat sempurna juga menjadi beban yang tak kunjung usai bagi sang anak dalam proses merealisasikannya. Bertambahnya pola pemikiran yang seharusnya sejalan dengan bertambahnya generasi baru masih sulit diterapkan apabila para orang tua masih terjebak dalam pola pikir yang konservatif.

Pengertian pepatah tidak seharusnya diterapkan sebagai doktrin atau bahkan standar untuk mencapai suatu kehidupan tertentu. Setiap orang tentu memiliki prosesnya masing-masing, terlepas dari kemampuan mereka dalam mengolah talenta atau bakat yang diberikan. Every progress is count, no matter how slow it is. Tidak perlu takut tertinggal atau merasa kurang karena tidak mampu melakukan suatu hal yang orang lain lakukan. Setiap orang punya cara dan kemampuan masing-masing yang tidak bisa digeneralisir. Keep going on your own speed, every progress matters. 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini