Orangtua Adalah Kunci

0
29
Waktu Baca: 3 menit

Mengamati industri hiburan di tanah air akhir-akhir ini sangatlah menggembirakan. Salah satunya adalah geliat pertumbuhan film yang semakin meningkat. Film produksi dalam negeri mulai sering menghiasi bioskop-bioskop dengan berbagai genre. Namun di sisi lain, gairah dunia perfilman juga menjadi memprihatinkan dengan melihat banyaknya film yang tanpa sensor menembus ke Indonesia, bahkan hingga ke level terkecil, yaitu keluarga. Film-film yang dengan mudahnya dapat diunduh oleh berbagai usia menjadi sebuah ancaman bagi masa depan generasi muda. Lantas, apa yang bisa dilakukan sebagai orang tua dalam mencermati permasalahan tersebut?

Pembiasaan dan Sebuah Kebudayaan

            Lembaga Sensor Film (LSF) sebagai lembaga yang diberikan amanah melakukan sensor terkait film di Indonesia sebenarnya sudah membuat sebuah program yang layak diapresiasi. Sebuah program bertajuk sensor mandiri merupakan sebuah pintu masuk bagi orang tua dalam mengontrol dan mengedukasi tontonan bagi anak-anak serta anggota keluarga lainnya. Sensor mandiri akan berhasil, jika orang tua dan anggota keluarganya memiliki pondasi literasi yang kuat. Secara harfiah, literasi merupakan proses untuk membaca dan menulis. Tetapi pada kenyataannya, seperti yang diungkapkan dalam World Economic Forum tahun 2015, ada 6 dasar literasi yang harus dikuasai oleh masyarakat, termasuk juga orang tua. Selaku orang tua dan warga negara global, mereka harus memiliki literasi di bidang baca tulis, numerasi, sains, finansial, digital, budaya dan kewargaan.

Pada tulisan ini akan lebih memfokuskan kepada literasi di bidang digital. Cakupan literasi digital yang luas dan sesuai konteks era sekarang ini menuntut orang tua lebih aktif dalam mendampingi anak. Tayangan film yang berada di bioskop dan televisi memang masih bisa dikontrol oleh LSF. Tetapi jika membincangkan tayangan yang diperoleh dari gawai dan terhubung dengan internet maka itu menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua. Dunia digital telah mengaburkan semuanya, termasuk pula nilai yang berlaku di masyarakat. LSF tidak bisa melakukan kontrol secara penuh terhadap film yang beredar di dunia digital.

Orang tua sudah saatnya mengambil peran untuk memberikan sang buah hati sebuah pilihan yang mendukung tumbuh kembang ke arah positif. Saat ini yang terjadi adalah “kehangatan” keluarga dirampas oleh teknologi. Setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing. Sehingga yang terjadi adalah kehangatan semu. Parahnya, orang tua merelakan anak-anaknya menjadi asuhan dari konten digital yang tidak sesuai dengan umur dan kemampuan logikanya. Sensor mandiri bertujuan untuk memberikan lingkungan tontonan yang sehat bagi keluarga. Orang tua tidak bisa lagi berpangku tangan, mereka harus selalu belajar mengikuti perkembangan informasi yang terjadi.

Hal ini menjadi penting untuk memberikan informasi dasar mengenai tontonan yang nantinya akan diberikan kepada anak-anak. Para orang tua wajib memberikan edukasi mengapa film tersebut boleh ditonton atau tidak Di sinilah sebuah kebiasaan dibangun, orang tua secara tidak langsung membangun kembali ruang diskusi yang hilang selama ini. Orang tua dan anak akan berada dalam sebuah posisi yang setara dalam diskusi yang mengasyikkan dan bersifat dua arah. Keduanya akan saling berlomba mencari referensi untuk mendukung argumennya Kemampuan berpikir kritis anak juga dapat dilatihkan melalui program sensor mandiri.

Keuntungan lain dari adanya sensor mandiri adalah adanya sikap saling berbagi antar anggota keluarga. Orang tua dan anggota keluarga lainnya pun tidaklah boleh untuk egois untuk memaksakan kehendaknya. Jika tontonan yang dihadirkan memang tidak sesuai dengan umur, maka kita pun harus berani mengganti bahkan mematikan siaran tersebut. Interaksi seperti inilah yang sebenarnya diperlukan di era banjirnya informasi seperti saat ini. Selain itu, para orang tua juga akan mengalami peningkatan kreavitas. Mereka akan diajak untuk mampu memberikan masukan serta mengalihkan perhatian anak secara edukatif dan menyenangkan. Karena sebuah tontonan (film) memiliki genre dan gagasan yang berbeda satu dengan lainnya.

Kebiasaan sensor mandiri yang memiliki efek positif lainnya dalam sebuah keluarga hendaknya juga harus dibiasakan. Akan menjadi sangat percuma jika kebiasaan tersebut hanya berlaku beberapa saat saja. Konsistensi dan komitmen menjadi harga mati yang harus dijalani oleh orang tua. Lagipula, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan tempat lainnya. Secara jangka panjang, program sensor mandiri akan membentuk sebuah kebudayaan di dalam sebuah keluarga. Adanya kegiatan diskusi, bermain, dan membaca buku dalam sebuah keluarga merupakan sebuah upaya menanamkan nilai (value) bagi sebuah keluarga, khususnya anak-anak. Dengan adanya interaksi secara lisan yang sedang terjadi, sebagai orang tua sebenarnya sedang menata kognisi anak tersebut. Senada dengan dengan wujud kebudayaan yang berada dalam 3 ranah yakni, kognisi, tindakan, dan artefak (barang). Kebudayaan sendiri akan muncul sebagai respon dari lingkungan yang diatur dalam sebuah keluarga.

Jika seorang anak sudah memiliki pondasi nilai yang kuat di dalam pikirannya, maka ia tidak akan kesulitan untuk bertindak dalam menentukan pilihannya. Dan, hasil karya yang dibuat oleh anak tersebut juga akan memiliki kandungan nilai-nilai yang positif. Tentu proses pembiasaan hingga menjadi kebudayaan ini tidaklah secara cepat akan terwujud. Setidaknya LSF sudah memberikan orang tua sebuah wahana untuk melakukan sensor mandiri terkait dengan tontonan generasi penerus bangsa ini. Lagi-lagi, inilah peran kita sebagai publik untuk berpartisipasi menyebarkan energi positif dan membangun kebaikan bagi negeri ini.

Saatnya Bertindak!

            Kiranya tidak ada alasan lagi untuk diam saja dan tidak melakukan sensor mandiri. Kunci tersebut ada di orang tua, tinggal mereka mau tidak untuk membukanya. Orang tua pun sebenarnya bisa memanfaatkan aplikasi untuk memblokir tayangan yang tidak sesuai peruntukan umur. Cara lain yang dapat digunakan adalah pembatasan penggunaan internet di rumah. Arahkan anak-anak untuk melakukan kegiatan kreatif lainnya, semisal rekreasi, memasak bersama, atu bahkan olah raga. Jangan sampai anak-anak kita tidak memiliki imajinasi dan menjadi korban atas nama industri. Besar harapan saya, itu tidak akan terjadi.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini