Waktu Baca: 3 menit

Memasuki ulang tahun bangsa Indonesia yang ke-76, kata “Merdeka” mungkin sudah akrab sekali terdengar saat upacara peringatan Hari Lahir Bangsa Indonesia. Sering juga kita menyanyikannya dalam beberapa lagu kemerdekaan yang mengandung kata “merdeka” dan meneriakannya spontan dengan suara yang lantang dan keras. Namun, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Sebagai kaum perempuan yang hidup di era milenial, saya pribadi merasa belum sepenuhnya merdeka. Perempuan dan kata merdeka belum bersinonim di Indonesia.

Terlebih dalam hal-hal yang sensitif seperti standar kecantikan (beauty standard), stigma kecerdasan pada perempuan, hingga pro dan kontra menikah untuk perempuan.

Perempuan di Era Millenial

Sebagai kaum perempuan yang hidup di era milenial, tentunya saya merasakan berbagai perubahan yang terjadi. Hal yang biasa saya lihat adalah perspektif dan cara pandang masyarakat terhadap perempuan seiring bertambahnya usia. Banyak sekali perspektif masyarakat yang masih terpaku pada pemikiran kolonial dan konservatif. Terlepas dari kompleksitas kehidupan, perempuan mendapatkan banyak perspektif dan stigma yang cenderung membatasi pergerakan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal kecil yang sering kita temui adalah eksistensi standar kecantikan (beauty standard) yang masih marak di kalangan perempuan Indonesia. Standar kecantikan yang diberlakukan masyarakat berfokus pada kondisi fisik/penampilan seorang perempuan. Kulit putih, rambut panjang, berat badan ideal, rambut lurus, kulit bersih, tinggi, dan masih banyak lagi. Tentunya standar ini bisa berkembang dan akan selalu berbeda-beda di tiap lingkungan dan masyarakat karena sifat dan ciri khas tiap masyarakat pun berbeda.

Standar Kecantikan Yang Menjajah

Mirisnya, praktik standar kecantikan tidak hanya terjadi antar lawan jenis, namun juga antar sesama jenis. Gerakan #womensupportwomen pun mulai ramai disuarakan sejak praktik standar kecantikan ini diberlakukan pada sesama perempuan. Kondisi dimana seharusnya sesama perempuan saling mendukung, malah terbalik menjadi saling menjatuhkan.

Tak jarang, kita mendapati antar perempuan saling lempar kata-kata yang menjatuhkan sesamanya hanya karena perbedaan fisik. Standar kecantikan seperti perbedaan warna kulit, perbedaan jenis rambut dan seterusnya menjadi perbincangan. Praktik standar kecantikan sendiri sepertinya masih sangat lekat menjadi perbincangan masyarakat umum. Hal ini hampir mempengaruhi berbagai macam latar belakang profesi.

Contohnya saja seperti, apabila ingin mengikuti casting sebagai pemain film, hal-hal utama yang dibutuhkan pasti berhubungan dengan penampilan/kondisi fisik. Contoh lainnya dapat kita temui pada profesi-profesi seperti model yang membutuhkan berat badan ideal, pramugari dengan standar postur tubuh yang ramping dan tinggi. Banyak diskriminasi pekerjaan pada perempuan.

Hanya Karena Fisik, Perempuan Mendapat Banyak Masalah

Stigma masyarakat pada tingkat kecerdasan perempuan juga masih sangat konservatif. Sering sekali kita mendengar kata-kata “Ngapain sekolah tinggi-tinggi, kan nanti juga ngurus rumah,” yang sering menjadi omongan banyak orang. Hal ini tentu menciptakan stigma bahwa perempuan tidak boleh menimba ilmu setinggi-tingginya karena nantinya hanya akan berakhir mengurus rumah tangga.

Padahal, pada praktiknya, mengurus rumah tangga bukanlah suatu hal yang mudah dan sederhana. Pendidikan dasar hingga perguruan tinggi penting untuk mengurus rumah tangga, terlepas dari nantinya perempuan akan berakhir mengurus rumah dan anak. Stigma dan perspektif seperti ini pun yang membuat kaum perempuan juga masih sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak, padahal pendidikan yang ada seharusnya berlaku untuk tiap individu tidak terpengaruh jenis kelaminnya.

Penjajahan Perempuan Pada Pernikahan

Selain kedua hal tersebut, pro dan kontra menikah juga menjadi salah satu hal yang sampai saat ini masih ramai di masyarakat berbagai kalangan. Seperti yang kita ketahui bahwa menikah merupakan suatu hal sakral. Sebagian orang berpikir bahwa menikah merupakan kewajiban, terlebih jika Ia adalah seorang perempuan. Kewajiban menikah tentu bukan semata-mata karena ingin melepas status lajang, namun lebih kepada perubahan status ekonomi.

Banyak kaum perempuan yang mendapat wejangan oleh orang tua untuk nantinya mencari pasangan dengan status ekonomi dan finansial yang mapan. Apabila konsentrasi dan orientasinya hanya terbatas pada perubahan status finansial, maka harga pernikahan yang seharusnya menjadi salah satu momen paling berharga akan luntur begitu saja.

Pada Akhirnya…

Melihat kondisi yang terjadi, tentu menurut saya, perempuan di Indonesia masih jauh dari kata merdeka. Eksistensi standar kecantikan, stigma kecerdasan, hingga pro dan kontra menikah menjadi bukti nyata bahwa perempuan di Indonesia masih terbatas dalam praktiknya menjadi diri sendiri. Keanggunan dan kecantikan perempuan Indonesia yang beraneka ragam masih kurang apresiasi dari masyarakat sehingga mereka tidak mendapat haknya untuk memiliki kata merdeka. Hari kemerdekaan ini menjadi pengingat bahwa masih cukup banyak kaum perempuan yang berjuang untuk merdeka tanpa batasan apapun dan standar apapun. Lantas, sudahkah kamu merdeka sebagai perempuan?

Baca juga kisah kisah mengenai feminisme lainnya:
Sama Sama Tionghoa, Tapi Sin Gek Banyak Memberi Inspirasi

Eksploitasi Orang Utan Dalam Cerpen “Bulu Bergincu”

Dilema dan Jebakan Filosofi Woman Support Woman

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini