Waktu Baca: 4 menit

Baru-baru ini warganet menjadi heboh dengan berita soal rasisme yang terjadi saat Olimpiade Tokyo. Pasalnya, pada saat berlangsungnya pembukaan Olimpiade Tokyo, salah satu stasiun televisi di Korea Selatan yang menayangkan pembukaan Olimpiade Tokyo tersebut melakukan suatu kesalahan fatal, yakni dengan memberikan profil beberapa negara dalam bentuk deskripsi yang dinilai kurang pantas oleh warganet.

Indonesia mendapat penggambaran tidak bisa dibedakan dengan Malaysia. Ukraina mendapat penggambaran sebagai ladang bencana nuklir dan beberapa negara Afrika mendapat penggambaran yang sangat buruk. Termasuk di dalamnya penggambaran orang Rumania sebagai keturunan Drakula!

Cenderung deskripsi yang ada adalah bentuk rasisme di Olimpiade Tokyo. Kasus lengkapnya dapat dilihat di sini.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Baru kemarin, atlet menembak legendaris Korea Selatan, Jin Jong Oh menuduh atlet tembak Iran, Javad Foroughi sebagai teroris. Belum lagi kita melihat ada atlet menolak bertanding dengan alasan ras/agama. Ada apa dengan Korea Selatan? Ada apa dengan Olimpiade? Mengapa sebegitu mudahnya menjadi rasis?

Isu Rasisme Dunia

Permasalahan rasisme memang menjadi suatu hal yang cukup krusial dan mengganggu jauh sejak jaman penjajahan berlangsung. Rasisme menjadi pembenaran dalam suatu penjajahan. Dengan mengatakan ras satu lebih tinggi daripada ras lainnya, maka penindasan menjadi hal lumrah. Itulah latar belakang daripada tindakan rasisme. Hal inipun terbawa dalam kehidupan modern termasuk dalam bentuk penjajahan ekonomi dan sosial budaya. Tentu ini tidak dapat dibenarkan sehingga muncullah perlawanan pada isu isu ini.

Sejak populernya Black Lives Matter, berturut turut muncul juga kampanye Stop Asian Hates. Ketika tampaknya isu rasisme mendapat sorotan tajam, rasisme malah terjadi di panggung dunia. Kejadian di Olimpiade membuktikan bahwa rasisme masih kuat, bahkan di ajang sekelas Olimpiade. Rasisme di Olimpiade boleh dikata sangat menyesakkan karena telah memenuhi ruang ruang publik.

Tanggapan Warganet Mengenai Isu Ini

Seperti yang sudah dilansir dari beberapa sumber, banyak dari warganet yang merasa kecewa dengan tindak rasisme yang dilakukan oleh stasiun tv Korea Selatan tersebut. Beberapa orang awam yang saya kenal pun merasa bahwa bentuk tindakan yang dilakukan oleh stasiun TV Korea Selatan tersebut merupakan suatu hal yang sangat disayangkan.

“Jujur aku sebagai awam agak kecewa, sekelas MBC yang menayangkan Olimpiade Tokyo 2020 dan disaksikan dunia tapi malah begini. Kaya ga menghargai tamu-tamu yang datang dan malah memperburuk imej negara penyelenggara kegiatan tersebut. Ya mungkin memang mereka ada unsur kesengajaan supaya semakin banyak dilihat beritanya. Tapi ini merupakan isu sensitif bagi beberapa pihak yang menurutku ga baik buat dilakuin,” – Agatha

“Mungkin mereka cuma milih informasi yang mencolok dari setiap negara tapi mereka gak peka mana yang pantes, mana yang engga. Kayak chernobyl kan semua orang tau, tapi ya gak gitu juga kali. Solusinya mungkin ga terlalu berdampak ya selain minta maaf, tapi biasanya kalau masalah Korea gitu ada mass email gitu dari netizen (kalau agensi K-Pop biasanya gitu),” – Gita

 

Dari tanggapan warganet, kita dapat melihat mereka menyayangkan tindakan  MBC. Warganet juga mengaku bahwa mungkin maksud dari pihak stasiun MBC adalah untuk meng-highlight ciri khas tiap negara dengan gambar-gambar yang ada, namun kenyataannya pemilihan gambar yang cukup sensitif malah menjadi bumerang bagi pihak MBC.

Permintaan Maaf MBC

Menanggapi permasalahan ini, stasiun televisi MBC menyatakan permintaan maafnya pasca penayangan pembukaan Olimpiade Tokyo 2020. Pada 23 Juli 2021, pihak MBC menyatakan permintaan maafnya melalui laman resmi akun Twitternya @withMBC. Direktur MBC Park Sung Je juga meminta maaf dalam Konferensi Pers di gedung MBC Management Center Seoul pada hari Senin (26/7). Beliau meminta maaf yang sebesar-besarnya pada beberapa negara yang telah tersinggung dan merasa bahwa kejadian ini merupakan kesalahan fatal. Menutup permintaan maafnya, beliau juga menyampaikan harapannya semoga kedepannya hal seperti ini tidak terulang kembali.

Lanjutan Masalah Rasisme

Namun baru sebentar kasus MBC mereda, masalah berlanjut ketika Jin Jong Oh menuduh atlet Iran sebagai teroris. Jin Jong Oh berdalih bahwa ia menggunakan data milik Amerika Serikat. Setelah ada penelusuran resmi, ternyata Javad Foroughi adalah seorang perawat. Ia memang pernah bekerja di Garda Nasional Tentara Iran. Amerika Serikat pernah menuduh organisasi itu sebagai organisasi teroris. Tapi, tentu saja tuduhan Amerika Serikat sangat politis. Jin Jong Oh seharusnya tidak menggunakan refrensi politis untuk kasus semacam itu.

Ya, tidak hanya masalah itu saja. Rasisme di Olimpiade Tokyo juga tidak lepas dari keputusan beberapa negara yang mengalah karena alasan politis. Bau politis ini menyebabkan Olimpiade Tokyo menjadi ajang bermasalah. Padahal seperti yang sudah pernah menjadi perhatian banyak pihak, politik dan olahraga seharusnya terpisah. Namun, hal sesederhana inipun masih banyak yang tak memahaminya.

Politik Berbuntut Rasisme?

Tidak bisa kita memungkiri bahwa faktor politik juga mempengaruhi isu rasisme. Misalnya saja dapat kita lihat di kasus Korea Selatan, rasismepun muncul karena politik domestik yang salah kaprah mengenai nasionalisme. Demi menyemangati warganya, politisi di Korea Selatan kerap menggaungkan slogan bahwa bangsa lain tidak sehebat Korea. Propaganda inipun ada di berbagai media massa seperti di MBC misalnya. Tentu hal ini sangat memprihatinkan meski secara hitungan politis memang isu rasisme lebih mudah untuk membangkitkan semangat di negara dengan ras homogen seperti Korea.

Jepang sebagai tuan rumah Olimpiadepun pernah melakukan propaganda serupa yaitu saat Perang Dunia ke II. Lebih buruk lagi, beberapa politisi Jepang sering mengunjungi Kuil Yasukuni. Kuil ini merupakan salah satu tempat para penjahat perang bersemayam termasuk PM Hideki Tojo. Politik rasis ini sungguh berbahaya karena bisa memicu konflik yang lebih besar.

Hari ini Olimpiade Tokyo, Besok?

Politik rasis benar benar harus mendapatkan penolakan. Hari ini mungkin insiden hanya terjadi di Tokyo, bagaimana dengan masa depan? Seperti kita ketahui, munculnya berbagai slogan anti rasisme juga menandakan bahwa masalah rasisme terus menguat dan menemukan momentum bahkan di ajang Olimpiade!

‘Keberanian’ MBC menjadi rasis, Kengawuran pernyataan atlet legendaris dan bahkan penolakan bertanding atas nama ras/ agama hanyalah sekedar gejala. Penyakitnya adalah politik rasisme yang menguat dan kita bisa membayar mahal kemudian.

Rasisme di Olimpiade semoga menjadi pengingat kita bersama.

Penulis : Maria Devaneira dengan tambahan dari Ardi Pramono

Baca juga kisah kisah mengenai rasisme lainnya:
Saya Orang Indonesia Saja…

Ketika Saya Menjadi Rasis

Beda Pendapat boleh, rasis jangan…

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini