Waktu Baca: 3 menit

Mungkin untuk masyarakat non-Tionghoa, semua orang keturunan Chinese di Indonesia sama. Padahal enggak. Sebagai seorang keturunan Tionghoa, ada dua dikotomi besar yaitu Chinese Jawa dan Sin Gek. Konon Sin Gek ini memiliki arti harafiah tamu baru. Ya, mereka adalah keturunan Tionghoa yang masih fresh karena kakek/nenek mereka langsung datang dari daratan Tiongkok. Mereka belum banyak berakulturasi dengan budaya setempat. Banyak dari mereka masih bicara dengan bahasa Hokkian/Cantonese/Mandarin di kalangan mereka sendiri. Sementara Chinese Jawa, apalagi yang dari Jawa Tengah atau Jawa Timur sudah medok dengan bahasa Jawa. Banyak perbedaan di antara kami. Sama sama Tionghoa tapi tidak sama. Meski demikian, perbedaan antara Sin Gek dan Chinese Jawa ini memberi banyak inspirasi buat saya terutama soal filosofi hidup mereka yang menarik.

Lelaki Tak (Terlalu) Perlu Bersekolah

Nah, jadi banyak Sin Gek yang saya kenal tidak terlalu cemerlang di bidang akademik. Ya mungkin karena ada perbedaan level pendidikan di Jawa dan di luar Jawa. Namun, meski mereka tak terlalu cemerlang di bidang akademik, mereka ini jago cari duit. Ya, otak bisnisnya jalan banget. Otak bisnis ini tak selalu linear dengan kepintaran akademik by the way. Cerita punya cerita, saat saya mengobrol dengan salah satu teman luar pulau saya. Orang tua mereka memang tidak menuntut anak laki laki pintar secara akademik.

“DOpun tidak masalah!” kata mereka. What? Tapi emang bener. Salah satu teman saya drop out dari jurusan Teknik Kimia di Bandung. Setelah DO, ia berjualan biji kopi. Sekarang duitnya banyak. Insting bisnisnya tajam sekali.

Kenapa kok tidak perlu pintar akademik?

Kata mereka: “Ya namanya juga cowok kan memang tugasnya mencari uang. Jadi sekolah pintar pintar tiada guna juga kalau tidak bisa cari uang!”

Chinese Jawa Wajib Minimal S1

Sayapun lalu membandingkan dengan didikan Chinese Jawa. Kalau di keluarga saya, rasanya gelar S1 minimal wajib didapat. Setelah lulus S1 kami diminta untuk mencari kerja di perusahaan besar dengan gaji UMR+dikit/ dikit banyak. Di situ, kami sering merasa sudah bangga sekali. Tapi, buat orang Sin Gek, bisa kerja di perusahaan tak pernah terpikirkan. Orang harus dagang! Bisnis!

“Kok harus bisnis?” tanya saya.

“Kalau ikut orang terus, kapan kayanya?” tanya teman saya.

Iya juga sih. Kemarin Michael Joeedan juga sempat menulis betapa gaji 16 juta itu hampir gak dapat apa apa di Jakarta. Padahal, mungkin secara nasional, hanya manajer ke atas yang dapat gaji sebesar itu. Lebihpun cuma sedikit. Kalau kita ‘ikut orang’ terus memang jadi pertanyaan besar kapan kita akan kaya atau merasa cukup. Nah, teman teman Sin Gek ini sudah menemukan solusi permasalahan si Michael bahkan sebelum Michael merumuskan pertanyaannya: dagang!

Jujur, banyak Chinese Jawa akhir akhir ini lupa bahwa jiwa dagang itu penting, termasuk saya.

Cewek Harus Sekolah Tinggi, Bahkan S2!

Mungkin keturunan Chinese luar pulau punya pemikiran yang sangat feminis sekali. Kita sama sama Tionghoa tapi kayaknya Chinese Jawa kalah feminis dengan Sin Gek. Menurut mereka, cewek harus bersekolah sampai jenjang yang sangat tinggi, bahkan Master! Sama sama Tiong Hoa, tapi saya dan keluarga gak pernah kepikiran dengan pendapat ini. Kenapa gitu?

“Lho, besok kan istrimu yang bersama anak anakmu dan mendidik anakmu. Kalau mereka bodoh, anakmu ikutan bodoh,” kata teman saya.

Eh, bener juga ya…

“Makanya kalau cowok ngapain pintar secara akademis, yang penting efisien mencari uang. Kalau cewek, nah itu baru harus pintar supaya anak anakmu pintar juga!”

Gak Semua Salah dan Gak Semua Benar

Saya manggut manggut ketika share perbedaan saya dan kaum saya dengan Sin Gek. Kita punya perbedaan pandangan. Gak ada yang salah atau benar seratus persen. Namun, menyenangkan sebagai sesama Tiong Hoa bisa saling belajar nilai nilai positif. Saya yang dulu bangga kerja di perusahaan besar, kini berani keluar mengelola dan menjawab tantangan di Pakbob.id.

Ya, daripada galau dan terus menerus memberikan kritik, kenapa enggak kita membuat langkah positif dan berani yang potensial membawa perubahan?

Gambar oleh : Sergio Capuzzimati

Jangan lupa, baca juga kisah Tiong Hoa Indonesia lainnya:
Saya Orang Indonesia Saja

Crazy Rich Asian Yang Sering Disalah pahami

Bidadari Mencari Sayap Malah Mempertajam Perbedaan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini