Waktu Baca: 3 menit

Mencari sejarah angkringan itu gampang gampang susah. Saya mencari kemana mana dan hasilnya hampir nihil. Rata rata pemilik angkringan hari ini tidak tahu betul sejarahnya angrkingan ini. Mereka ya hanya mengikuti angkringan yang sudah ada sebelumnya atau menjadi pegawai angkringan yang lebih besar sebelum kemudian membuka usaha sendiri. Untungnya, saya akhirnya berhasil menemukan sejarah angkringan saat menjelajah kota Solo.

Awal Mula Penemuan

sejarah angkringan

Pada awalnya saya bertemu dengan Pak Dul. Pak Dul adalah generasi kedua pemilik angkringan. Konon ayahnya masih belajar langsung dengan pemilik angkringan paling pertama. Pak Dul lalu mengenang kembali kisah dari ayahnya. Ia menyebut bahwa pendiri angkringan pertama adalah orang Klaten. Namun, ia tidak menampik bahwa si orang Klaten ini memulai usahanya dengan berjualan di daerah Manahan Solo.

“Makanya, dengan demikian, menurut saya angkringan itu ya aslinya Solo,” kata Pak Dul. Saat itu pemilik angkringan pertama tidak berjualan dengan mendirikan tenda. Dia memikul dagangannya. Maka, seringkali angkringan juga disebut tenongan karena memang dagangannya ditenong (dipikul).

“Nah, waktu jualan, ia sering berteriak HIK! Makanya, orang juga mengenal angkringan sebagai HIK.”

Apa itu HIK?

Pak Dul, berdasarkan penuturan ayahnya, mengatakan bahwa kepanjangan HIK adalah Hidangan Istimewa Klaten. Meski demikian, ada juga yang menganggap bahwa HIK itu kependekan dari Hidangan Istimewa Kampung.

Pak Dul menjelaskan, “Ya memang si pendiri pertama ini memilih tidak berjualan di Klaten karena di Klaten banyak penduduknya yang merantau. Kalau Solo cukup ramai sehingga masih sangat potensial.”

Apa Saja Yang Dijual?

Pak Dul mengatakan bahwa yang paling utama jelas nasi kucing. Nasi ini berisi nasi sedikit, sambal dan potongan ikan. “Ya, diberi nama nasi kucing karena kayak seolah ngasih makan kucing gitu,” ujar Pak Dul menjelaskan. Versi berbeda pernah saya dapatkan bahwa nasi kucing berasal dari Semarang. Konon, bentuknya sama dan ikannya mengambil dari rawa rawa yang banyak ditemukan di Semarang.

“Lalu ya ada gorengan, sate satean dan wedang jahe,” ujar Pak Dul.

Asal Usul Wedang Jahe

Ketika membicarakan angkringan, entah kenapa pasti akrab dengan wedang jahe. Rasanya anehsejarah angkringan saja kalau tidak ada wedang jahe di angkringan. Pak Dul malah menampik hal itu. Menurutnya, setelah HIK populer, masih ada pedagang yang menjajakan secara kelilingan. Mereka tidak menetap di satu tempat dan memikul jualannya kemana mana. Biasanya mereka tidak menjual wedang jahe. Meski demikian, Pak Dul mengatakan bahwa untuk angkringan yang menetap, pasti menyediakan wedang jahe.

“Kenapa wedang jahe? Ya karena wedang jahe ini minuman yang pas untuk dihidangkan malam malam. Wedang jahe kan memberi kehangatan begitu,” kata Pak Dul. “Biasanya selain wedang jahe ya kopi mas. Cuman, wedang jahe ini memang lebih ikonik.”

Masa Depan Angkringan

Kalau membicarakan angkringan, Pak Dul yakin bahwa masa depan angkringan ini masih menjanjikan. Kenapa? Ya karena peminatnya makin banyak dari waktu ke waktu. Angkringan ini menurut Pak Dul lebih baik daripada ngikut orang. “Ya, hasilnya lumayan menjanjikan hitung hitung melestarikan budaya,” kata Pak Dul.

Saya setuju dengan Pak Dul. Angkringan adalah keunikan dari Indonesia. Dari Solo, angkringan kini menyebar ke berbagai tempat di Indonesia dan menjadi tempat sempurna bagi orang Indonesia untuk bertemu dan berbagi cerita. Keberadaan angkringan mempererat tali kekeluargaan dan silaturahmi.

Baca juga kisah makanan khas lainnya:
Kuliner Babi Jagalan Surakarta : Variatif dan Enak

Mencari Tahu Kupat Khas Solo di Jogja

Bubur Bakar 221 : Super Lembut

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini