Waktu Baca: 3 menit

Thrifting dan perspektif masyarakat, ada yang menganggap thrifting keren karena kita bisa menemukan ‘hidden gem’ begitu, ada juga yang nyinyir. Kenyataannya gimana sih?

Siapa disini yang gemar thrifting? Thrifting atau yang dikenal dengan kegiatan menggunakan kembali barang-barang preloved atau eks. impor sudah cukup populer di kalangan millennial. Bahkan, banyak dari kita yang mungkin terjun secara langsung ke dunia thrifting. Bagi para pelaku usaha, tentu mereka kerap sekali mendapat pertanyaan “Barang thrift kok mahal sih?”  Mungkin juga banyak diantara kalian yang berpikir bahwa barang bekas kok bisa jadi mahal karena apa ya? Yuk, kita simak!

Menelaah Stigma dan Perspektif Masyarakat Tentang Thrifting

Konotasi barang bekas yang sangat lekat dengan barang thrift memang acapkali menuai beberapa kontroversi. Ya, biasanya masyarakat menyukai hal yang baru, anyar gress begitu. Jika memilih barang bekas, tentu pertimbangannya adalah ekonomi. Makanya, masyarakat suka berharap kalau barang thrift bakal miring banget harganya.

Di situlah masalahnya, banyak sekali masyarakat yang beranggapan bahwa barang thrift merupakan barang bekas yang kurang layak dijual dengan harga tinggi. Terlebih, fakta bahwa budaya thrifting sendiri berangkat dari kata “awul-awul” yang biasanya merupakan obralan segala jenis dengan harga super miring berkisar dari mulai lima ribu rupiah sampai dengan sepuluh ribu rupiah.

Thrifting Itu Bukan Pakai Barang Sisa!

Jelas salah kalau kita menganggap thrifting itu barang sisa. Banyak pelaku bisnis ini juga heran sampai menggelengkan kepala. Sebab, barang hasil thrift ini banyak juga yang limited edition dan layak mendapat penghargaan setinggi tingginya.

Pembenaran dan pembelaan bahwa barang thrift merupakan barang bekas tidak tepat. Namun hal ini seolah menjadi keyakinan berlebihan dari konsumen. Bahkan, tak jarang konsumen menawar barang dengan harga super bawah dengan dalih “barang bekas”. Permasalahan seperti ini tentunya bukan lagi menjadi sesuatu hal yang baru bagi para owner thriftshop ataupun penjual barang bekas kerap temui. Banyak dari para penjual pun merasa tersinggung dan kecewa. Mereka merasa bahwa konsumen menilai barang mereka kelewat ‘ngawur’.

Perspektif dan Stigma Masyarakat: Barang bekas kok mahal sih?

Tentunya, kegiatan memakai dan memanfaatkan barang bekas (preloved/eks.impor) tidak selamanya harus berharga murah. Pemahaman masyarakat dalam mengolah barang bekas pun juga tidak bisa disamaratakan atau bahkan dijadikan standard untuk para penjual yang ingin berkreasi.

Pada faktanya, sekarang ini banyak sekali penjual thrift atau owner thrift shop yang mampu mempermak barang bekas ini dengan kreatif sehingga menghasilkan produk bernilai tinggi. Proses pengolahan barang bekas ini pun tidak cuma-cuma karena banyak pertimbangannya.

Tidak hanya itu saja, proses pengolahan memakan waktu cukup lama dan menguras energi. Belum lagi proses packing dan pengiriman yang tidak mudah. Pelaku thriftshop harus benar benar hati hati. Melejitnya stigma bahwa barang bekas haruslah murah membuat para penjual cukup kecewa. Pelanggan terkesan mengesampingkan usaha dan perjuangan yang telah dilakukan tiap para pelaku usaha untuk menghasilkan produk yang layak pakai.

Padahal produk thriftshop sangat layak untuk mendapat apresiasi lebih. Fakta bahwa ketersediaan barang thrift (preloved/eks.impor) yang sangat terbatas tiap modelnya menjadi tambahan nilai jual atau value. Kan seneng ya bisa memakai barang limited edition? Lantas, sebagai konsumen baiknya bagaimana sih?

 

Antara Konsumen dan Produsen: Yuk, bangun hubungan yang positif!

 

Melihat stigma yang terus berkembang di masyarakat, baiknya apabila antar konsumen dan para pelaku usaha saling mengerti satu sama lain. Kebijakan para penjual dalam memasang harga yang cukup tinggi pastinya sudah melalui pertimbangan matang oleh tiap penjual.

Jika konsumen merasa keberatan dengan harga barang, maka tidak perlu memaki dan memojokkan penjual dengan latar belakang barang thrift harus berharga murah. Sebaliknya, konsumen hanya perlu merasa bahwa penjual yang memasarkan produk tersebut mungkin bukan marketnya ataupun sebaliknya.

Lagi-lagi, komunikasi antar penjual dan pembeli seharusnya dapat melalui pemikiran netral dan perasaan saling memahami satu sama lain. Harapannya tidak akan ada lagi perdebatan soal mahal dan murah yang akan merugikan salah satu pihak di kemudian hari. Mari kita bersama menjadi masyarakat yang berwawasan dan bijak dalam berkata-kata! Thrifting dan perspektif masyarakat yang salah soal kegiatan ini seharusnya tidak dilanjutkan.

Baca juga kisah Thrifting lainnya:

Thrifting Online Untuk Pemula

Coat dan Mix-Matchnya, Biar Kelihatan Seru!

Thrift Shop Korean Style: Gingerline Jawabannya

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini