Waktu Baca: 4 menit

Sudah hampir 2 tahun kita melakukan aktivitas di rumah saja karena pandemi yang tak kunjung usai. Salah satunya adalah PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh ). Sebenarnya banyak pro kontra dari kalangan anak sekolah mengenai PJJ ini. Tak jarang dari mereka mengeluhkan masalah – masalah yang sering terjadi saat PJJ, misalnya jaringan yang bermasalah, kuota internet tidak mencukupi, device tidak memadai, dan lain – lain. Diantara permasalahan tersebut, hal yang sering menjadi obrolan anak sekolah adalah “Guru”. Kita tahu bahwa semua guru memiliki karakter yang unik walaupun kadang bikin pegel juga sih. Saya sudah melakukan wawancara kepada teman seangkatan dan juga adik kelas saya mengenai tipe–tipe guru online ini. Penasaran ? Yuk, kita bahas!

Sambil bepergian

Tipe guru seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Saya sih nggak ada masalah kalau harus belajar online, tapi saya agak kesal juga kalau gurunya nggak bisa fokus hanya mengajar saja. Pernah sekali waktu guru saya mengajar ketika sedang berada dalam perjalanan.

“Dimaklumi aja sih, mungkin dia juga lagi ada keperluan mendesak”

Saya bukan mempermasalahkan perjalanannya dia, tapi dia mengajar sambil naik ojek online. Apa kalian pernah dengar orang berbicara tetapi suaranya bertabrakkan dengan angin ? (bahkan suara anginnya lebih besar). Omongan dia sama sekali nggak terdengar. Parahnya, ternyata guru itu sedang memberikan tugas kepada muridnya. YA TUHAN, COBAAN APA LAGI INI.

Tidak hanya itu, guru ini terkenal galak karena selain wajahnya yang tampang judes, beliau juga sering menyalahkan murid nya padahal kita nggak tau apa – apa. Alhasil waktu itu saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau (saya sudah menyiapkan mental karena tahu akan dimarahi). Yap, benar saja baru satu kalimat yang saya ucapkan, ia sudah menyerang bertubi – tubi dengan beragam kalimat.

 

Ngasih Tugas Banyak Tapi Nggak Dinilai

Hal ini masih ada hubungannya dengan kejadian yang di atas. Ending nya saya dimarahi dan sekelas diberi hukuman berupa tugas – tugas yang tak terhitung jumlahnya. Saya nggak apa – apa kalau ada guru yang memberi tugas banyak, tapi kan kalau nggak mendapat nilai sia – sia dong ?. Saya bertanya kepada salah satu teman dan tanggapannya cukup membuat saya terkejut ;

“Gue nggak ada masalah dengan guru yang sering kasih tugas banyak. Menurut gue sudah sepatutnya sebagai murid cukup mengikuti saja apa yang diperintahkan guru. Jangan banyak protes, toh juga kalo protes sedikit kemungkinan merubah keputusan guru itu”

Awalnya saya sebel banget serius deh. Saya berpikir “Kok bisa – bisanya ada teman yang mash nurut ?”

Ceroboh dan pelupa

Kita semua tahu bahwa guru hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan. Saya dan teman – teman yang lain pun memaklumi hal seperti itu. Namun lain cerita kalau beliau yang salah, tapi tetap salah kita. Mau ngelawan, takut dosa.. Mau protes, tapi percuma.. Serba salah ya ? Saya menanyakan hal ini kepada teman saya dan berujung jadi curhatan anak sekolah ;

“Lo harus tau ini. Gue nggak tahu ini guru kesibukannya sebanyak apa, tapi yang jelas di sekolah kita beliau statusnya hanya sebagai pengajar kelas 12 aja. Waktu itu h-2 mau UAS, tiba – tiba ini guru chat lewat grup Whatsapp untuk kasih kabar kalau dia nggak bisa ngajar. Gue udah tebak, pasti dia langsung kirim tugas – tugas. Nah, ternyata bener tuh tugas banyak banget. Singkatnya, gue ngerjain semua tugasnya dan ngumpulin bahkan sebelum deadline. Setelah itu, beliau ngajar dan bertanya perihal tugas. Pas di check itu beliau bilang gue belum ngumpulin tugas padahal jelas – jelas gue masih ada history chatnya yang gue ngirimin tugas itu. Tapi beliau nggak percaya.. gue disuruh kirim ulang.Fatalnya, file tugas itu udah gue hapus…

Nggak pernah ngajar, Tahu nya Cuman Kasih Tugas

Sudah banyak kejadian seperti ini yang menjadi makanan sehari hari anak sekolah. Saya salah satunya, hanya mendapat perintah mengerjakan tugas tanpa tahu materi dasar pelajarannya. Dari awal tahun ajaran baru, guru itu memberti tugas terus tanpa menjelaskan sesuatu kepada kita. Ia mengira kita semua Isaac Newton yang hanya dengan melihat apel bisa menemukan teori gravitasi. Saya jadi bingung, kalau ujian nanti apa yang harus saya isi? Apakah harus saya isi dengan wasiat seandainya otak saya kejang kejang karena kesulitan memproses informasi? Saya benar- benar tidak tahu apa – apa! Lalu saya memutuskan untuk ikut bimbel dan juga belajar mandiri lewat youtube atau platform digital lainnya. Saya juga kurang paham apa alasan guru berbuat seperti itu, mungkin ia lelah. Padahal sudah menjadi tanggungjawabnya untuk memberi ilmu kepada anak murid.

Guru Voice Note

Wah ini saking gapteknya, dia gak mengetahui kalau ada teknologi bernama Zoom dan Gmeet. Karena itulah, cara ia mengajar adalah dengan mengirimkan berbagai voice notes tanpa henti. Itu juga sering nggak jelas. Saya kadang kadang merasa sedih. Pak, bu, belajar zoom gak sesulit itu. Yuk bisa yuk!

Guru Advance

Ada guru voice note, ada juga guru yang advance. Mereka sudah mengerti cara menggunakan zoom dengan benar. Mereka kadang menggunakan apps notes sehingga mereka bisa corat coret di layar dan mengajar layaknya ngajar beneran di kelas. Ia juga tahu caranya melakukan mute sehingga kondisi kelas kondusif. Guru ini juga memiliki zoom premium sehingga kita tidak harus gonta ganti room saat ia mengajar. Bisa saya katakan guru ini the best lah.

Guru Ilang Ilangan

Ada juga guru yang sudah menyerah dengan cobaan ini sehingga dia sering absen mengajar. Paling pol ngirim permintaan tugas, itupun juga nggak sering sering amat. Guru model ini antara surga dan neraka bagi siswanya. Ada yang merasa ini berkah dan ada yang menganggap ini masalah karena di akhir tahun ajaran kita bener bener gak tahu belajar apa sebenarnya.

Kalau guru salah, tetap jadi salah murid

Segala hal yang saya ceritakan di atas tadi nggak akan ada soal salah atau benar. Tipe tipe guru online memang banyak juga ajaibnya. Sekalipun gurunya salah, Pasti murid juga memiliki andil dalam kesalahan tersebut. Tak jarang juga anak sekolah yang mengeluhkan sikap seperti ini. Saya menanggapinnya dengan santai dan tidak terlalu ngotot (bagaimanapun juga beliau adalah orang tua kita di sekolah). Walaupun kadang saya sedikit memberi masukkan terhadap sikap – sikap guru yang seperti itu. Diterima atau tidaknya, itu sudah menjadi urusan beliau. Saya hanya ingin membuat guru tersebut berubah menjadi lebih baik.

Sebagai anak sekolah, kita harus menghargai seorang guru. Apapun jabatannya, jangan pernah meremehkan tugas atau sikap beliau terhadap kita. Seseorang yang terpelajar, berusahalah memberi masukkan dengan baik dan sopan. Apabila guru tidak menerima, itu urusan belakangan saja. Hal yang terpenting, sebagai anak sekolah kita sudah menjalankan tanggungjawab dengan sebaik – baiknya.

 

Teruntuk semua guru di manapun itu, semoga kita bisa sama – sama menjadi lebih baik. Akan lebih indah dan nyaman apabila antara guru dan murid bisa saling bekerja sama. Berbagai tipe-tipe guru online ini hanyalah variasi sekaligus cobaan dalam kehidupan era pandemi ini. Semangat!

 Baca juga kisah kisah lainnya mengenai sekolah online dari kami:
Pengajar Online dan Suka Duka Yang Harus Dihadapinya

Wajah Muram Siswa dan Kenyataan Yang Harus Dihadapinya

Eksklusivitas Yang Tidak Melahirkan Apa Apa

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini