Waktu Baca: 3 menit

Pengen punya rumah sendiri sejak usia muda? Barangkali itu impian sebagian dari kita. Rumah sendiri, bukan sekadar pisah rumah dari orangtua. Ini rumah yang kepemilikannya atas nama kita sendiri, bukan karena warisan orang tua. Bukan pula karena pinjaman dari orang lain. Ketika kita melihat harga-harga rumah yang udah ratusan juta bahkan miliaran, mana mungkin kita membelinya? Tabungan kita mungkin tidak seberapa. Beruntung pemerintah punya program Rumah Subsidi untuk masyarakat dengan penghasilan kurang dari 4 juta per bulan. Barangkali kita mau ambil pilihan ikut program itu? Nah berikut adalah tips memilih rumah subsidi untuk millenial. Tapi sebelumnya, cek dulu info tentang rumah subsidi di website pemerintah yang namanya SIKUMBANG

Pangkas impian idealisme soal rumah

Pengen punya rumah dengan luas atau bentuk apapun itu boleh, asal tahu kemampuan diri untuk membayarnya. Jangan mimpi bisa beli rumah di area perkotaan kalo penghasilan kita belum tembus 2 digit. Minimal ya 7 kali UMR di tempatmu. Itu pun belinya nyicil, bukan cash. Jangan pula mimpi beli rumah yang luasnya ratusan meter. Bisa beli rumah dengan tipe 36 atau 45 saja sudah sip kok.

Kalo kita mau ambil rumah subsidi, siap aja tinggal di area yang jauh dari pusat kota. Hitungan perjalanannya sekitar 1 jam dari pusat kota. Siap-siap aja tinggal di area desa atau bahkan perkebunan.

Baca juga : Strategi Dahsyat Membeli Rumah Impian di Jogja

Konsep Pembiayaan Rumah Subsidi

Pemerintah memberikan patokan harga rumah subsidi di area Jawa maksimal Rp 150.500.000. Bisa juga developer menawarkan harga di bawah itu. Bentuk, bahan, dan luasan rumah pun sudah ditentukan oleh pemerintah. Kalo pada harga komersial, rumah dengan tipe yang sama harganya bis sekitar 200 juta rupiah. Nah, maka subsidi yang diberikan pemerintah nilainya sekitar 40 juta rupiah. Tapi ya kualitas bahan rumah pun standar, biasa-biasa saja. Asalkan tidak ada gempa hebat, ya rumah tetap utuh.

Besaran bunga nya pun umumnya flat 5 persen per tahun. ini juga bagian dari konsep subsidi. Kalo KPR non subsidi, bunga yang dikenakan sekitar 6-8 persen, atau mengikuti suku bunga yang ditetapkan BI. Bayangkan 5 persen per tahun, kalo kita nyicil 20 tahun, maka duit yang dibayarkan udah 2 kali harga pokok rumah.

Rumah subsidi dibayar dengan cara kredit alias KPR melalui bank milik pemerintah. Tenor cicilan bisa 5 – 20 tahun. Bahkan ada bank yang menawarkan tenor sampai 25 tahun cicilan. Kalo kita bisa berikan uang muka yang makin besar, maka cicilan makin rendah, tenor yang dipilih juga bisa makin singkat. Cuma pertanyaannya, kita punya tabungan berapa puluh juta, dan punya penghasilan berapa juta per bulan?

Berhitung kemampuan cicilan

Secara ringkas, hitungan maksimal cicilan KPR itu adalah sepertiga dari penghasilan rutin kita. Misal kita dapat gaji 3 juta per bulan, maka cicilan maksimal 1 juta per bulan. Ini udah aturan dari bank. Kalo kurang dari nominal cicilan itu maka tenor cicilan kita bakal makin panjang. Kalo mau lebih dari 1 juta per bulan, kita nya yang akan repot suatu saat, terutama ketika kebutuhan biaya hidup kita tiba-tiba membengkak.

Hitungan itu bisa menentukan, KPR  macam apa yang bisa kita ikuti? Kalo gaji kita tembus dua digit, maka cicilan KPR yang bisa dibayar sekitar 3 juta per bulan. Itu cukup untuk ikut KPR non subsidi. Rumah yang bisa didapatkan pun tentu lebih baik dan lokasinya lebih strategis dari rumah subisidi. Atau kalo pun lokasinya sama-sama jauh dari perkotaan, area rumah bisa lebih luas. Tapi kalo kemampuan cicilan kita hanya sampai angka 1.5 juta rupiah per bulan, mendingan ikut KPR subsidi deh. Toh kalo penghasilan udah lebih dari 4 juta, nggak bisa juga ikut program KPR subsidi.

Pahami persyaratan KPR subsidi

Sebetulnya syarat ikut KPR subisidi itu tidak ribet. Penghasilan sendiri nggak lebih dari 4 juta per bulan, atau kalo udah menikah, nggak lebih dari 8 juta kalo gaji 2 orang digabungkan. Berikutnya, udah ada pengalaman kerja selama minimal 2 tahun tanpa putus. Statusnya mungkin masih pekerja kontrak, nggak papa. Tapi kalo udah jadi pegawai tetap ya alhamdulillah. Itu dibuktikan dengan surat keterangan dari lembaga atau perusahaan tempat kerja kita. Kalo kita jadi wirausahawan pun juga bisa ikut. Nanti pembuktiannya dengan rekening koran untuk cek aliran dana rutin kita. Berikutnya juga, kita nggak bermasalah dengan BI Checking. Asal kita nggak ada tunggakan bayar kartu kredit, no problem.

Nantinya bank pemberi kredit juga akan mewawancara kita sebelum menyetujui kredit.

Soal renovasi rumah

Rumah subsidi memang rata-rata tampilannya biasa banget. Bahkan mungkin asal bangun aja, pokoknya ada bentuk rumah. Ketika kita berhasil beli rumah subsidi, bukan berarti kita bisa langsung pakai. Umumnya masih butuh renovasi, minimal untuk kebutuhan dasar seperti septic tank, urusan sumber air, dapur, dan pagar.

Tapi kita nggak bisa sembarangan renovasi. 5 tahun pertama kita pakai rumah subsidi, nggak boleh mengubah fasad atau tampilan depan rumah. Meski kita punya duit buat bikin rumah tingkat, nggak boleh juga mengubah rumah subsidi jadi rumah tingkat. Salah-salah renovasi, kita malah kena penalti dari bank berupa pencabutan subsidi. Skema KPR bakal berubah jadi KPR non subsidi, dengan cicilan yang lebih besar pula. Maka sebelum renovasi, beritahu bank untuk memastikan bagian mana yang boleh mendapat renovasi. Tapi setelah masa 5 tahun itu, silakan aja kalo mau renovasi rumah secara besar-besaran, selama kita ada anggarannya.

Nah itulah beberapa tips memilih Rumah Subsidi untuk millenial. Selamat mempertimbangkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini