Waktu Baca: 3 menit

Kita sering mendengar cerita tentang siswa yang merasa kurang nyaman dengan sekolah dalam jaringan (daring). Jangankan aktif bertanya dan menjawab, kamera dan mikforon dalam temu virtual kelas saja dimatikan. Motivasi akademik menurun drastis. Sulit memelihara fokus. Tidak sedikit pula cerita tentang perubahan perilaku di rumah. Kesulitan mengungkapkan perasaan, lebih sering menyendiri, juga mudah marah. Raut wajah muram siswa pun menghiasi dunia pendidikan kita.

Siswa belajar dengan memelototi layar komputer atau ponsel pintar. Duduk sendirian di ruang tamu atau kamar. Belajar sambil ditemani perabotan bisu. Seorang siswa yang saya kenal menulis kalimat bernada muram di media sosial ‘kenapa harus ada sekolah?’ Seperti itu gambaran wajah muram siswa sekolah dewasa ini. Kegiatan sekolah tidak semenyenangkan dulu.

Wajah Muram Siswa Semakin Nyata!

Siswa belajar tanpa kehadiran teman kelas. Tidak bisa menepuk teman untuk meminjam pensil atau penghapus. Tidak tercium aroma tubuhnya. Tidak bisa di-kelitikin saat bercanda. Tidak bisa disalip saat berlari di pelajaran olahraga. Pun tidak ada guru yang wajahnya turun mendekat dan tersenyum saat memeriksa hasil pekerjaan. Atau tercium parfumnya saat berjalan mengelilingi kelas.

Hubungan antara siswa dengan lingkungan sekolah (teman, guru, peraturan, dan bangunan sekolah) berperan penting untuk membangun rasa kepemilikan. ‘Saya adalah bagian dari ini’. Indera siswa menangkap ragam hal yang semuanya mengarah ke belajar mengajar. Siswa terkondisikan untuk belajar. Pikiran fokus. Singkirkan dulu les piano, bermain bersama adik, memijati orang tua, atau merapikan kamar. Fokus itu pada akhirnya akan meningkatkan motivasi akademik dan perkembangan sosial. Semangat untuk mengembangkan diri jadi lebih tinggi karena mereka berada di sebuah tempat yang memang didesain untuk belajar.

Baca juga : Karakter Han Seo Jun dan Perspektif Kedewasaan: Belajar Banyak lewat Drama Korea!

Situasi pandemi yang tak jelas kapan berakhir memunculkan banyak pemikiran cara mengoptimalkan kegiatan belajar daring. Tidak ada salahnya dicoba meski mungkin kegiatan belajar tatap muka, bagi sebagian orang, tetap merupakan pilihan paling jitu.

Motivasi siswa bisa dibangkitkan dengan memberi mereka tanggung jawab. Tanggung jawab untuk membuat target harian. Target haruslah masuk akal dan bisa jelas diukur keberhasilannya. Siswa juga bisa membuat sendiri time line pengerjaan tugas dan cara memonitor kemajuannya. Di sini siswa bisa berkreasi membuat time line dengan format sesuai kesukaan. Bisa berupa tabel kotak-kotak di kertas dengan warna-warni tempelan gambar atau catatan detil di gawai. Semakin besar kontrol siswa atas berbagai detil aktivitas belajarnya, semakin tinggi pula keterikatan (engagement) yang memacu motivasi.

Siswa juga bisa membuat jadwal aktivitas rutin harian, baik belajar maupun aktivitas menyenangkan lainnya (bermain musik, olahraga, berkebun, bermain, atau memasak). Adanya rutinitas atau pola pada hidup harian siswa bisa memberikan rasa aman. Juga tidak ada salahnya berpakaian rapi dan wangi saat bersekolah daring, bukan?

Komunikasi personal perlu dibangun secara intens. Intinya adalah menemani siswa agar mereka tidak merasa sendirian. Tidak usah bermuram sendirian. Rasa aman dan nyaman menjadi lebih penting dari sebelumnya. Saat ada tugas yang terlalu sulit, orang tua atau guru bisa membantu siswa memecah tugas tersebut menjadi lebih kecil dan spesifik. Apresiasi saat siswa berhasil mencapai satu langkah kemajuan kecil juga diharap bisa menyingkirkan wajah muram dari diri siswa. Terkadang, siswa memilih untuk melihat gelas setengah kosong ketimbang setengah isi. Guru atau orang tua bisa menyemangati dengan menjelaskan kemajuan yang sudah siswa capai sebelumnya.

Perkembangan emosional anak dan remaja juga menjadi fokus. Satu yang harus dipahami adalah perilaku buruk selalu muncul akibat adanya emosi negatif. Contoh seorang murid perempuan remaja yang marah dan menangis saat mengikuti beberapa les daring. Setelah ditelusuri, ternyata ia merasa lelah dan tidak nyaman akibat seluruh aktivitas berpindah ke rumah. Ia merasa tidak lagi punya privasi. Itulah yang menjadi akar masalah dan harus mendapat perhatian dari orang terdekat.

Baca juga : Reuni Sekolah dan Tiga Hal Menyebalkan yang Menyelimutinya

Orang tua bisa menceritakan perasaan pada anak meskipun mungkin sedang merasa kurang nyaman. Orang tua tidak harus melulu memasang senyum. Juga ingat, orang tua harus membuka ruang anak untuk bercerita. Lewat sambungan telepon, sesekali orang tua dan anak bisa berbincang dengan teman dan saudara dekat. Meski mungkin cuma lima atau 10 menit, komunikasi yang dilakukan sepenuh hati dan sadar bisa membawa dampak positif.

Dalam temu panggilan video, satu orang tua murid menyampaikan mereka tidak sedang mementingkan kemajuan signifikan dalam les piano anaknya. “Survive mode, Kak Inug. Kita tidak mengejar sempurna. Akan ada banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan setelah pandemi berakhir,” ujarnya sambil melirik anaknya yang berwajah lebih muram ketimbang biasanya.

Daftar Pustaka :

https://www.apa.org/news/apa/2020/online-learning-mental-health

http://infoaboutkids.org/blog/helping-kids-stay-motivated-for-learning-during-social-distancing/

https://www.apa.org/topics/covid-19/parenting-caregiving/childrens-emotional-well-being.pdf

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini