Waktu Baca: 3 menit

Kita masih ada di pertengahan tahun 2021, tapi udah ada aja yang semangat berkampanye. Seolah-olah tahun depan udah ada pemilu. Hantu-hantu baliho mulai bertebaran di ruang publik kota-kota di Jawa. Muncul pertanyaan, sebetulnya siapa wajah politisi yang cocok dipasang di baliho ?

Saat ini setidaknya kita punya 3 pemain baliho. Mbak Puan, Oom Airlangga, dan Cak Imin. Kalo soal kepantasan, ketiganya sama sekali nggak mashook untuk dipajang di Baliho. Wajah yang sama sekali nggak menarik bikin kita makin fokus mengemudikan kendaraan di jalanan.

Cak Imin sang pemain bertahan

Kita bahas dulu pemilih baliho berwarna hijau ini. Meski ia sudah membuktikan kegagalan kampanye lewat baliho, tapi ia punya mental baja. Gagal di periode lalu, coba lagi sekarang dong. Cak Imin dengan segala kontroversinya dalam tubuh partai dan relasinya yang buruk dengan keluarga Gus Dur memang jadi bahan pembicaraan yang abadi. Belakangan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus menyindir baliho Cak Imin lewat status media sosial beliau. Bagi orang pesantren, kalo udah disindir sama kyai yang levelnya tinggi, itu berarti kartu mati.

Om Airlangga komandan PPKM Luar Jawa

Bagaimana dengan Oom Airlangga ? Sebagai pentolan partai pohon beringin dan bagian dari kabinet Pak Jokowi, ia punya kesempatan besar untuk menunjukkan prestasinya yang mletik. Itu pun kalo dia punya gagasan brilian. Kesempatan terkini adalah jadi komandan operasional PPKM area luar Jawa. Tapi berurusan dengan kebijakan pandemi itu bukanlah ranah yang populis. Kalo gagal ya pasti dihujat rakyat plus tenaga kesehatan, kalo berhasil pun tidak dapat pujian. Meski tujuan PPKM itu mulia demi menyelamatkan kesehatan, tetapi perekonomian masyarakat dikorbankan juga. Sialnya pula, Om Airlangga mau bicara apapun, yang disorot media tetap Opung Luhut kok.

Mbak Puan the Infamous

Nah, bagaimana dengan mbak Puan ? Posisinya sebagai ketua DPR itu bukan prestasi yang keren bagi rakyat. Keren bagi dirinya sendiri, iya. Tapi bagi rakyat sih ketua DPR itu biasa-biasa saja. Para pengamat politik juga tahu bahwa mengajukan wajah mbak Puan ke publik adalah sebuah kartu mati bagi partai red bull. Prestasinya di masa lalu sebagai Menteri Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) cukup keren. Bikin website revolusi mental senilai 140 miliar 200 juta dan tidak berguna. Toh kualitas manusia Indonesia tidak beranjak kemana-mana kok.

Kalo bicara ketenaran, antara Cak Imin, Mbak Puan, dan Om Airlangga, yang dapat ketenaran dari mainan baliho ini adalah Mbak Puan. Ya terkenal, tapi masalahnya adalah infamous, bukan famous. Lumayan, jadi bahan konten video dan meme buat anak-anak. Buat lucu-lucuan lah.

Baca juga : Partai Politik Penganut Asas Kekeluargaan

Behind the scene baliho mbak Puan

Belakangan terungkap dari cerita mas Bambang Gage, pemilik usaha advertising di Solo, baliho mbak Puan dicetak oleh kelompok usahanya mas Bambang. Billboard dan Baliho dipesan oleh para kader PDI-P. Termasuk juga oleh mas Gibran. Di balik segala macam nyinyir soal mbak Puan, tapi project baliho ini cukup membantu perekonomian para pengusaha advertising. Ya iyalah, di masa PPKM berjilid-jilid ini perusahaan mana sih yang masih dengan santainya mau merogoh kocek untuk marketing lewat baliho? Ya hanya dunia politik yang selo untuk mainan baliho.

Strategi basi

Apakah komunikasi lewat baliho cukup efektif ? Oh jelas tidak. Taruhlah contoh di Jogja, sewa tempat baliho 10 juta per bulan per 1 titik. Kalo ada 10 titik yang terpasang, uang 100 juta sudah mengalir. Kalo duit segitu dibelanjakan untuk Facebook Ads atau Instagram Ads, entah berapa juta netizen bisa terjangkau. Jelas media sosial lebih efektif dan efisien untuk kampanye. Tetapi berhubung mbak Puan udah nyindir bahwa “Pemimpin jangan cuma ada di media sosial doang,” , ya sudah. Itu jadi kartu mati. Strategi kampanye lewat baliho memang sangat cocok untuk pemilu 2024 2004, alias udah basi.

The Prime Minister

Lalu siapa politisi yang wajahnya cocok dipasang di baliho? Kalo menurut saya sih malah opung Luhut Binsar Panjaitan a.k.a perdana menteri kita. Jangankan mau jadikan opung Luhut sebagai bahan tertawaan. Mau mengkritik opung saja kita udah keder kok. Tatapan matanya yang tajam, wajah yang sangar dan kumis nan panjang, membuat para pengemudi kendaraan spontan ingin membetulkan posisi masker masing-masing. Jangankan kita masyarakat kelas teri. Tuan jenderal Prabowo beserta kadernya aja di masa pandemi ini nggak berani secara langsung mengkritik opung, kok. Opung ini dulu atasannya pak Prabs, bung !

Opung Luhut sudah membuktikan bahwa kalo mau memimpin masyarakat Indonesia tidak harus jadi presiden kok. Bercokol di posisi perdana menteri saja sudah cukup efektif. Jadi kita udah tahu siapa wajah politisi yang cocok dipasang di baliho. Cuma kan realitasnya opung Luhut tidak pesan baliho. Datang ke podcastnya Deddy Corbuzier aja cukup kok.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini