Waktu Baca: 5 menit

Yusra Mardini si perenang tangguh adalah perempuan kelahiran Suriah, ayahnya seorang pelatih renang. Menurut wawancaranya dengan New York Times, sewaktu dia kecil, dia hanya dimasukkan ke dalam air oleh ayahnya. Yusra mulai belajar renang sejak berusia 3 tahun. Setelah beranjak remaja, dia mulai berkompetisi untuk tim nasional Suriah, dan mendapat dukungan dari Komite Olimpiade Suriah.

Semua berawal di Suriah 2011

Suriah tahun 2011, keadaan mulai mencekam. Perang mulai meletus dan semua orang menjadi tak tenang, termasuk keluarga Yusra Mardini. Yusra seorang gadis merusia 13 tahun, tidak tahu apa yang sedang terjadi di negaranya. Dia menjalani masa remajanya, berbeda dari remaja lain. Masih dari New York time, dia berkata “ibuku selalu memanggilku, jika ada suatu hal yang terjadi saat aku sedang pergi, ayo Kembali ke rumah, ada sesuatu yang terjadi di sana, kata ibuku”

Sekolah tutup untuk beberapa saat, “atau seseorang tertembak, dan kamu harus lari dari sekolah”. Pada awalnya dia di sekolah bersama teman – temannya selalu bercerita soal perang, tetapi berselang beberapa tahun, dia berkata “ini menganggu, awalnya semua berbicara soal perang, tapi kelamaan menjadi, OK jika aku akan mati, aku akan mati”. Menurut perkataannya seperti tidak ada harapan lagi bagi anak – anak di Suriah, untuk melanjutkan hidup. Semua seperti pasrah akan takdir mereka di tengah perang.

Kelamnya 2012

Tahun 2012 menjadi tahun yang menyedihkan bagi Yusra sekeluarga. Tahun itu terjadi peristiwa pembantaian di Daraya, daerah tempat tinggal Yusra, rumah Yusra juga hancur saat kejadian itu. Hal mengerikan juga terjadi lagi, dua temannya sesama perenang, meninggal dunia akibat bom yang meledak di atap tempat latihan renang, dan menimpa mereka. Yusra saat remaja sudah harus melihat dan mengalami hal semengerikan itu.

Berenang ke Yunani

Pada tahun 2015, saat dia sudah berumur sekitar 17 tahun, dia berkata ke ibunya “Bu, sudah cukup” (yang dia maksud adalah, sudah cukup berada di negara yang sedang terjadi konflik, Yusra ingin keluar dari Suriah). Ibunya menjawab “oke, cari orang yang bisa ibu percaya untuk menjaga mu, dan ibu akan biarkan kamu pergi”.

Pada pertengahan Agustus tepatnya tanggal 12 Agustus 2015, Yusra, kakak perempuannya, keponakan ayah mereka beserta temanya, mereka terbang dari Damaskus ibu kota Suriah, menuju Beirut Lebanon. Setelah melakukan penerbangan itu mereka menuju ke Istanbul Turki, dan kontak dengan penyelundup, untuk membawa mereka ke pulau Lesbos Yunani, menggunakan sampan.

Mereka menunggu di daerah hutan di dekat pantai, untuk menunggu sampan yang akan membawa mereka berlabuh. Yusra berkata “ di sana ada 200 – 300 orang yang menunggu sampai tidak ada polisi laut, lalu mereka bisa pergi”. Dia juga berkata “pihak Turki tidak berani masuk ke daerah hutan, karena para penyelundup memiliki senjata”.

Pengalaman Mencekam

Setelah menunggu 4 hari, Yusra dan rombongannya berangkat bersama 18 orang lainnya (termasuk di dalamnya ada anak berusia 6 tahun). Mereka menaiki sampan, yang seharusnya hanya muat 6 orang, bisa dibayangkan betapa penuhnya sampan itu. Pada percobaan pertama, mereka ketahuan pengawas laut, dan disuruh Kembali. Pada percobaan ke dua, kemalangan yang sesungguhnya terjadi.

Setelah 20 menit mereka berlayar, mesin sampan mereka mati, dan air mulai masuk ke dalam sampan yang berisi 22 orang.  Keponakan ayah Yusra berinisiatif untuk terjun ke air, supaya mengurangi beban sampan, dan memerlambat tenggelamnya sampan. Inisiatif itu lalu diikuti Yusra dan beberapa orang yang bisa berenang. Mereka juga menelpon polisi Turki dan Yunani, untuk menolong mereka karena mereka akan tenggelam di laut Eagea, tetapi polisi hanya berkata “putar balik dan Kembali”.

Menurut wawancara Yusra di laman web resmi Olimpiade, dia dan beberpa orang yang terjun ke air, mereka semua berpegangan pada tali yang melingkar di sampan, supaya mereka tidak tebawa arus laut. Yusra Mardini si perenang tangguh benar benar mendapat ujian berat waktu itu. Waktu pun terus berjalan, dan Yusra masih berenang di laut Mediterania, kru sampan masih memperbaiki mesin supaya bisa bekerja lagi. Yusra dan saudarinya berenang selama tiga setengah jam, di laut mediterania, antara Turki dan Yunani. Sampai dua perenang pria yang ikut terjun bersama Yusra kelelahan, dan membiarkan tubuh mereka terseret sampan yang sudah bisa berjalan, sedangkan Yusra dan saudarinya masih berenang. Saat itu Yusra hanya berpikir “ aku seorang perenang, dan aku akan mati di air?”.

Perjalanan yang seharusnya direncanakan hanya 20 menit, malah menjadi tiga setengah jam. Setelah berenang tiga setengah jam di laut Mediterania, akhirnya Yusra dan rombongan berhasil berlabuh di Lesbos Yunani. Perjalanan ini barulah permulaan, karena rintangan masih menunggu mereka dari Yunani menuju ke jerman.

Berjalan dan berlari dari Yunani ke Jerman

Yusra Mardini si Perenang Tangguh

Setelah perjuangannya berenang ke Yunani, Yusra masih harus melewati jalur darat untuk sampai ke negara tujuanya yaitu Jerman. Selama di Yunani Yusra mendapat penolakan beberapa restoran dan taksi. Walaupun mereka punya uang, mereka mendapat penolakan karena status “Pengungsi”. Mereka melakukan perjalanan dari pagi sampai sore, lalu malamnya mereka beristirahat di lapangan atau gereja.

Yusra dan rombongan melakukan perjalanan itu menggunakan bus, berjalan kaki, dan bahkan berlari. Setelah Yunani, dia menuju ke Makedonia, lalu ke Serbia, disambung ke Hungaria, dan mereka beristirahat di Hungaria selama 1 minggu, dan setelah itu dia menuju Wina, Austria, dan akhirnya mereka sampai ke Jerman.

Sesampainya di Jerman, mereka tinggal di tenda pengungsian di Berlin, berbagi tenda dengan enam pria lain yang serombongan dengan Yusra.

Perjuangan menuju Tokyo 2020

Setelah Yusra sampai di Berlin, perjuangnnya untuk mendapat suaka dari negara Jerman ternyata tidak mudah, dia harus bolak balik menuju kantor urusan Kesehatan dan sosial, bahkan menunggu dalam antrian panjang di musim dingin.

Kemudian ia terpukul karena ada kabar bahwa saingannya berhasil menang di Asia, padahal dia merasa bahwa dia lebih baik dari saingannya itu dia berkata “ahhh ibu, harusnya aku yang ada di sana, bukan dia”.

Ia kemudian mendapatkan keberuntungan ketika ada pelatih klub renang yang menemukan dia, dan memberi dia kesempatan training untuk menunjukkan bakatnya. Singkat cerita Yusra berhasil masuk ke dalam klub renang itu, dan mendapat Beasiswa Latihan dari IOC untuk para Pengungsi yang konsen dalam dunia olahraga. Saat itulah Yusra Mardini menunjukkan bakat sebagai perenang tangguh.

Yusra sudah bergabung dalam delegasi pengungsi sejak Olimpiade Rio 2016. Ini kali kedua dia berlaga dibawah kontingen pengungsi. Perjuangan untuk mendapatkan kembali kehidupannya yang layak tidaklah mudah. Dia harus keluar dari negara tempat dia lahir dan tumbuh remaja, dan memulai perjalanan penuh rintangan di usia yang sangat muda. Berenang di laut mediterania (Eagea) karena sampan yang kelebihan muatan, dan masih harus naik bus, berjalan dan berlari dari Yunani sampai jerman.

Ada 82.4 Juta Yusra lain di seluruh dunia.

Pengungsi di seluruh dunia menurut data UNHCR sebanyak 82.4 juta jiwa. Bayangkan ternyata masih sangat banyak Yusra – Yusra lain di seluruh dunia, yang mengalami kekejaman perang, konflik, Krisis ekonomi, dan lain lain. Mereka semua berjuang keluar dari negara asal mereka, hanya satu yang mereka harap, “Mendapat Hidup Layak”.

Tidak semua pengungsi yang berhasil, selamat dan mendapat suaka dari negara tujuan, berani berbicara seperti Yusra. Mereka masih trauma dan mereka khawatir akan membuat saudara mereka yang masih di negara asal dalam bahaya.

Yusra memberi kita contoh, bahwa usaha dan kemauan pasti akan membuahkan hasil yang manis. Tidak ada pelaut hebat yang lahir dari ombak yang tenang.

Baca juga kisah Orang inspiratif lainnya:
Tim Kubur Cepat Jenazah Corona, Cerita Tentang Mereka

Adela Goenardi dan Seni Tehnya

Seorang Pedagang Jajanan Pasar Itu Bernama Mbah Satinem

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here