Waktu Baca: 3 menit

Pagi hari tiba-tiba saya mendapat pesan foto dari kawan SMA saya. Dua gambar undangan pernikahannya, yang sedianya dilaksanakan 2 minggu lagi. Rupanya dia mengundang saya untuk hadir dalam resepsi. Sruput kopi saya di pagi hari rasanya jadi pahit. Dalam benak saya berkembang pertanyaan, kenapa dia sudah menikah? Kenapa tiba-tiba pagi ini saya harus bergulat dengan quarter life crisis? Di usia 26 tahun ini saya baru saja selesai menikmati petualangan ke pedalaman Papua dan tidak berpikir soal jodoh. Mengapa teman-teman yang lain sudah pada sibuk berpikir soal menikah?

Arti Quarter Life Crisis

Quarter life crisis itu soal perasaan krisis yang muncul di usia 25-30 tahun. Mengapa saya belum menikah? Kenapa saya belum punya pekerjaan tetap? Kok teman-teman yang lain sudah mulai panen kesuksesan sementara saya baru memulai karya? Apakah saya salah ketika menikmati hidup dengan traveling?

Dari berbagai literatur saya tahu bahwa quarter life crisis itu tidak ada kepastian timeline nya. Ada yang mengalami di usia awal 20 tahun, ada yang mengalami di akhir usia 30 tahun. Tetapi yang saya tahu juga, kalau pertanyaan-pertanyaan seputar quarter life crisis tidak terjawab segera, maka pertanyaan yang sama akan muncul di periode waktu berikutnya. Bisa jadi di usia 40 tahun, bisa jadi di usia 50 tahun pertanyaan yang sama muncul lagi. Tetapi pertanyaannya bukan soal jodoh. Pertanyaan yang kerap muncul adalah soal tujuan hidup, impian, visi hidup, dan ukuran kesuksesan. Bagi yang punya jawaban mantap akan lega batinnya. Bagi yang ragu dalam menjawab atau sekadar membuat jawaban belaka akan gelisah batinnya.

Baca juga : Menjawab Quarter Life of Crisis

Apakah tiap orang akan bergulat dengan quarter life crisis? Bisa ya, bisa pula tidak. Ini soal cara merespon persoalan saja. Ada yang mau merespon, ada pula yang mengabaikannya. Tetapi bahwa setiap orang pasti akan berjumpa quarter life crisis itu ya. Karena beda-beda itulah maka rasanya jadi aneh kalo kita membandingkan krisis yang kita alami dengan pengalaman orang lain. Keberhasilan untuk menjawab quarter life crisis itu prestasi personal saja, tidak layak untuk dibagikan pada orang lain, apalagi menjadi tolok ukur bagi hidup orang lain.

Pilihan Menikah

Seorang kawan saya sampai di usianya yang ke 32 menjalani hidup dengan gembira bersama istrinya. Ia tak punya pekerjaan yang bisa diandalkan untuk perekonomian. Ia tinggal masih di rumah orangtuanya. Ia pun belum memiliki anak. Tapi sekali lagi, dia bahagia menjalani hidup itu. Untuk ukuran pikiran saya, sulit memahami alur hidupnya. “Kok bisa ya, dia betah dalam kondisi begitu? Dia tidak berusaha memperbaiki kualitas hidup lho.”

Entah sudah berapa puluh kali orang menanyakan pada saya tentang rencana menikah. Kerabat keluarga besar maupun teman-teman lama tak jarang menanyakan tema yang sama. Kesal? tentu saja. Mengapa mereka ambil pusing soal pilihan hidup saya? Bukankah ada oom dan tante ku yang tidak menikah sampai hari tua nya, dan it’s okay? Lalu mengapa seolah saya harus segera menikah?

Pilihan Pekerjaan

Lain lagi situasi di keluarga besar saya. Ada yang getol mempersoalkan pilihan kerjaan saya. Yeah, generasi baby boomers. Di mata mereka, pekerjaan yang berharga adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kalo tidak jadi PNS berarti hidup sulit sejahtera. Sebagai pemilik Startup Digital, saya jadi bertanya-tanya “Emang salah ya, kerja berbisnis lewat startup digital?” Begitu saya menyadari soal gap usia, saya tahan pertanyaan itu. Yah, baby boomers. Generasi toko kelontong. Jangankan soal startup digital. Toko online aja mereka belum tentu paham skema kerjanya.

Soal quarter life crisis, saya lebih tertarik dengan pergulatan soal tujuan hidup. Okay, sampai di usia 25an ini, berikutnya saya mau mengarahkan hidup ke mana lagi? Ukuran kesuksesan macam apa yang mau saya gunakan?

Pada akhirnya mencari cari jawaban begitu terasa melelahkan. Ada yang mengatakan bahwa kehidupan itu ya memang benar ada timelinenya masing masing. Kenapa harus diburu buru? Toh ada pameo mengatakan, yang datangnya cepat perginya juga cepat. Bukan berarti yang sukses di usia muda itu salah, tapi tentu saja ‘menanggung’ kesuksesan di usia muda itu tidak mudah. Sama tidak mudahnya ketika kita tidak berjalan sesuai schedule versi orang tua. Pada akhirnya ya jalani saja menurut saya. Ojo mumet!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here