Waktu Baca: 3 menit

Sejak saya menjadi wartawan, sudah menjadi kebiasaan bagi wartawan untuk membully pelaku kejahatan yang mereka anggap keterlaluan. Entah itu pemerkosa anak…entah itu pembunuh sadis..pasti ia tidak akan luput dari bullyan wartawan. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai tradisi itu. Meski tidak semua wartawan melakukannya, tapi ada aja yang melakukan itu di tiap konfrensi press mengenai pelaku kejahatan yang mereka anggap ‘keterlaluan’. Hal ini juga tak lepas terjadi saat Coki Pardede menjadi tersangka penyalahgunaan narkotika. Beberapa wartawan menganggap Coki adalah penjahat yang ‘keterlaluan’. Bagaimana tidak? Sudah sering mengkritik dan melecehkan agama melalui humor humornya, eh ternyata pengguna sabu juga. Jadi merekapun dengan ringan mengatai Coki dan bahkan menyuruhnya melakukan stand up ketika ia berada dalam posisi memalukan. Tapi kali ini, banyak yang membela Coki. Lha kok bisa? Suka tidak suka, bagi sebagian orang, Coki Pardede adalah pahlawan.

Kerinduan Akan Kehidupan Beragama Yang Sejuk

Lagi lagi saya enggan menggeneralisir. Bagi sebagian rakyat Indonesia, kehidupan beragama di Indonesia baik baik saja. Tapi banyak juga yang merasa bahwa kehidupan beragama di Indonesia tidak sebaik itu. Kelompok ini merasa kadang beragama itu ibarat parpol dengan seabrek ideologi dan tradisi kerasnya. Kadang, kerukunan beragama dianggap setara dengan sekulerisme. Orang yang ingin menjadikan persahabatan antar umat beragama bak saudara sering mendapat tuduhan hendak mencampur adukkan ajaran agama. Serasa di ruang sempit, mereka merasa engap. Kepengen ada perubahan dimana agama tidak menjadi alasan perpecahan apalagi kampanye parpol.

Nah, kelompok yang rindu akan hal ini lalu excited melihat kemunculan Coki Pardede. Coki adalah sosok yang membicarakan agama dalam konteks kasual bahkan kurang ajar. Coki seperti tidak menganggap agama sebagai sesuatu yang sakral dan harus menjadi hal yang ada di atas awan. Bagi beberapa orang, Coki keterlaluan. Namun, bagi yang rindu agama menjadi tempat yang sejuk (versi mereka), Coki adalah pahlawan.

Ya, di negara yang satu atau dua kalimat terpelintir bisa menjadi pasal penodaan agama. Coki Pardede bak rockstar nekad yang memberi utopia bahwa kita bisa menjadi diri sendiri di tempat paling konservatif sekalipun.

Bahkan Saat Memakai Sabu, Ia Masih Pahlawan

Coki Pardede Adalah Pahlawan

Di sisi lain, Coki sangat tenang ketika menghadapi cacian dan posisi yang tidak enak karena digrebek polisi saat memakai sabu. Ia terlihat sebagai orang biasa, tidak mengganggap kejahatan / pelanggaran pidana yang ia lakukan sebagai hal yang luar biasa. Karena, mungkin kejahatannya memang enggak separah itu.

Pengguna narkoba di Indonesia banyak. Kebetulan, yang lagi sial adalah Coki Pardede. Apakah ia merusak orang lain? Ah, dia pada akhirnya kan hanya merusak dirinya sendiri. Kalau ia memakai sabu untuk konsumsinya pribadi ya yang rusak hanya dia.

Justru, pendukung Coki yang balas mengkritik. Puluhan bahkan ratusan artis tertangkap menggunakan narkoba, lalu apakah ada perubahan di isu pemberantasan narkoba di Indonesia? Jujur, hampir enggak ada buat mereka! Bisnis narkoba tetap jalan jalan aja. Ya, seperti kata rekan saya, Thierry Chota, orang memakai narkoba karena butuh. Butuhnya karena tekanan kehidupan semakin ngawur. Percayalah kalau kehidupan ekonomi baik baik saja dan mental health serta situasi sosial politik tidak amburadul, enggak ada yang mau pakai narkoba.

Coki Pardede adalah kita (bagi pendukungnya). Dia cuma orang yang pengen bahagia dan gak stress. Lingkungannya tidak menolongnya dan kebijakan kebijakan yang ada juga seolah mengabaikan dirinya. Ketika mencari solusi untuk pribadinya sendiri. Ia masih saja mendapat kesulitan. Tidak dinyana, Coki mewakili banyak suara gelisah di negeri ini. Coki Pardede adalah pahlawan bagi yang suaranya hilang dalam hiruk pikuk kompleksitas (penting-gak penting) negara ini.

Pelajaran Apa Yang Kita Dapat?

Bagi saya yang melihat Coki Pardede sebagai manusia biasa bahkan sebagai pribadi yang agak ngawur, status kepahlawanannya mengusik saya. Ya, kok bisa seorang Coki Pardede menjadi pahlawan? Tapi ini juga sekaligus kritik buat kita, kritik agar kita mengubah banyak hal agar sosok sosok seperti Coki Pardede tidak menjadi pahlawan.

Kita bisa mulai dengan care pada kondisi sekitar kita, jangan sok gak peduli dan tidak empatik dengan teman teman yang ada dalam kesulitan. Kita juga harus membuktikan bahwa Coki itu salah. Saya sebagai orang beragama, ingin membuktikan Coki salah dengan cinta kasih. Jujur, saya tidak akan mentertawai kesialannya, saya tidak akan memaki makinya karena menjadikan agama lawakan tanpa hormat dan seterusnya. Sebaliknya, saya mau membuktikan ke dia kalau agama itu gak sekaku yang ia gambarkan. Niscaya, pendukung Coki tidak akan lagi membutuhkan pahlawan seperti Coki Pardede.

Baca juga artikel lainnya soal Indonesia :
5 Keajaiban Penanganan Pandemi di Indonesia

Corona dan Idul Adha: Soal Empati dan Tanggung Jawab

sumber foto : ngompod.id

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini