Waktu Baca: 3 menit

Coki Pardede akhirnya ditangkap Polisi karena kedapatan menyimpan Sabu. Hasil tes urine nya menunjukan ada kandungan amfetamin dan metafetamin. Kenapa saya bilang akhirnya? Karena ternyata dia sudah memakainya sejak 8 bulan lalu. Ini rentang waktu yang lumayan, dan menempatkan dia bukan sebagai korban penyalahgunaan narkoba, tetapi sudah dinobatkan sebagai pengguna. Ya, pelanggan tetap. Banyak orang berteori bahwa orang menggunakan narkoba untuk mengatasi stress yang dialaminya. Soal Coki Pardede, barangkali kita heran, komika nan lucu ternyata bisa stress juga ya?

Saya sih sebetulnya tidak heran. Ya tentu saja. Komika juga manusia biasa, tetap bisa mengalami stress. sama seperti orang kebanyakan. Mampu menghibur orang lain, bukan berarti dirinya sudah bebas dari stress.

Narkoba untuk meningkatkan percaya diri

“Dia pertamanya nyoba untuk percaya diri tampil di depan publik,” ungkap Kepala Satuan Narkoba Polres Metro Tangerang Kota Ajun Komisaris Pratomo Widodo. Nah, bagian inilah yang aneh. Coki Pardede bukan orang yang baru tahun kemarin tampil di depan publik. Dia sudah memulai debut di depan kamera sejak tahun 2013 lewat serial Malam Minggu Miko. Sudah 8 tahun dia tampil di publik, dan baru tahun 2020 dia merasa perlu narkoba untuk meningkatkan kepercayaan diri?

Soal alasan bahwa narkoba dipakai untuk meningkatkan rasa percaya diri, sebetulnya ini sudah banyak cerita di kalangan selebritis tanah air kita. Sebelum kasus Coki Pardede, sudah ada Anji dan Nia Ramadhani. Soal pilihan menggunakan ganja atau sabu, itu sih tergantung relasi juga. Peredaran narkoba itu berkaitan dengan jejaring pertemanan pula.

Perlukah kita merasa kasihan?

Belakangan ini saya dekat dengan beberapa kawan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Propinsi DIY. Ada dua gambaran yang saya dapatkan tentang kasus narkoba. Orang yang tertangkap akan diklasifikasi : korban, pengguna, atau pengedar. Orang menjadi korban, ketika dia baru ditawari narkoba, memakai pertama kalinya, dan tertangkap pula. Nah kalo pengguna, itu seperti Coki Pardede. Dia membeli paket narkoba untuk konsumsi pribadi, bukan untuk dijual kembali.

Untuk korban dan pengguna, akan sampai pada proses rehabilitasinya. Bedanya, kalo para korban maupun pengguna secara mandiri melaporkan diri ke BNN, maka akan mendapat rehabilitasi tanpa proses hukum. Tetapi kalo sudah tertangkap, maka rehabilitasi harus lewat proses penahanan dan pengadilan yang melelahkan. Belum lagi dinamika dengan narapidana di dalam tahanan itu bisa memperparah situasi pengguna. Nah, pengedar ini hukumannya paling berat. Tidak ada celah untuk rehabilitasi. Hukuman maksimal adalah hukuman mati.

Apakah kita perlu merasa kasihan? Untuk korban, ya. Tetapi untuk pengguna dan pengedar, tidak. Sudah lebih dari sekali dia memakai narkoba, artinya dia merasa cocok nan ketagihan. Tidak perlu kita kasihani, cukup diantar ke tempat rehabilitasi. Meski begitu, tak ada jaminan bahwa yang sudah menjalani rehabilitasi akan benar-benar sehat dan sembuh. Itu tergantung tingkat kerusakan fungsi tubuh akibat narkotika.

Siapa bisa stress?

Siapapun bisa stress, mulai dari bayi baru lahir sampai lansia nan jompo. Stress itu tekanan psikologis yang terasa dalam diri kita, dan membuat kita tidak merasa nyaman. Ada banyak cara untuk mengurangi stress, mulai dari menghadapinya secara frontal, membelokkan, sampai dengan mengabaikannya. Siapapun boleh juga membereskan stress nya masing-masing, asalkan dengan cara yang benar. Tetapi kalo cara membereskannya malah membahayakan orang lain atau diri sendiri, itu yang tidak bisa kita terima. Kalo stress yang dialami semacam Dinar Candy dan ia lantas unjuk rasa dengan bikini, saya rasa silakan saja. 

Artis maupun selebgram juga bisa stress. Meski sudah puluhan kali manggung, tetap bisa juga merasa canggung di depan publik. Apalagi sebagai komika, tidak mudah membuat konten. Kalo nggak lucu, penonton nggak tertawa, itu bisa bikin stress juga. Untuk mengatasi stress itu, butuh waktu untuk mengolah diri dan menenangkan diri. Persoalannya, sebagai pekerja seni pertunjukan, orang semacam Coki Pardede mana mungkin punya waktu cukup untuk rekreasi? Jadwal harian sudah padat merayap. Dalam waktu singkat ia musti harus mengontrol emosi agar siap tampil. Jalan singkatlah yang ia pilih : suntik amfetamin alias sabu. So, jangan heran kalo ternyata komika semacam Coki Pardede juga bisa stress.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini