Waktu Baca: 2 menit

Promosi coffeshop lewat tiktok, itulah yang kemarin dilakukan Rumah Sekara. Hasilnya, coffeeshop di Bandung itu jadi terkenal dan viral. Tetapi sayangnya yang terjadi adalah infamous, bukan famous. Niat baik Sekara untuk mengedukasi konsumen justru berbalik jadi drama dan dapat rating bintang satu di mesin pencarian google. Drama Rumah Sekara menjadi bukti pentingnya peran content writer untuk meracik gagasan promosi.

Konteks

Rekaman video TikTok yang diunggah oleh akun @Rumah Sekara jadi viral. Dikisahkan dua orang barista yang kesal mendengar konsumen mengucapkan expresso, yang mestinya Espresso. Barista tersebut memasang muka bingung dan kesal. Lewat akun instagram, @rumahsekara memuat klarifikasi :
“Hai semuanya, sebelumnya kami mau minta maaf untuk video TikTok yang kemarin kami post. video kami viral dan udah menyinggung banyak banget orang.Video TikTok kami sebelumnya itu adalah untuk bikin konten mocktail expresso kami, tapi kami juga gak nyangka akan jadi mispersepsi sebesar itu.”

Pesan berubah jadi mispersepsi lantaran netizen menganggap Rumah Sekara mengejek konsumen yang tidak paham cara membaca menu di coffeeshop. Nah, mengapa bisa begitu jauhnya mispersepsi?

Baca juga : Teraloka tempat ngopi mepet sawah nan aduhai

Kebiasaan salah mengucap

Sebetulnya hal ihwal salah membaca itu adalah persoalan biasa banget. Tengok saja dalam keseharian kita, Facebook dibaca pesbuk. Voucher menjadi vocer, charge menjadi cas, dan seterusnya. Itu baru bicara istilah bahasa Inggris. Begitu kita ulas bahasa lain, apalagi yang bersangkutan dengan merek, kita akan menemukan lebih konyol lagi. Louis Vuitton jadi terbaca luis fiton, padahal mestinya lubutang. Salah ucap itu, sekali lagi, biasa banget.

Niatan edukasi konsumen

Edukasi itu baik adanya. Tak ada yang salah dengan niatan itu. Cuma masalahnya, ketika niatan itu tidak dijaga arah komunikasinya, bisa-bisa yang terjadi justru ejekan. Tak ada salahnya membetulkan hal-hal yang salah kaprah. Tapi jangan sekali-kali mengejek orang yang sudah salah kaprah. Tengok saja cara Ivan Lanin ketika mengedukasi netizen soal cara membaca. Entah lewat akun twitternya, atau ketika bicara langsung, Lanin tetap istiqomah untuk membetulkan cara berbahasa netizen tanpa bumbu ejekan.

Satu hal yang perlu kita perhatikan, karakter masyarakat kita itu tidak suka mendapat koreksi. Untuk hal-hal besar yang prinsipil, orang bisa menerima koreksi. Bahkan orang bisa mengatakan, “kalau ada kritik dan saran, jangan sungkan-sungkan untuk sampaikan langsung”. Tetapi ketika ada pihak yang mengkoreksi hal remeh temeh semacam pengucapan, maka orang kita sudah defensif. “Apaan sih? Gitu aja jadi masalah.” Untuk mengkoreksi hal sepele, orang harus tampil rendah hati,

Pentingnya sosok content writer

Sekarang ini semua orang bisa membuat konten. Kalau orang mempersiapkan konten dengan kerja cerdas dan strategi, maka konten jadi berdaya guna. Tetapi kalau orang tidak merancang konten baik-baik, maka itu sekadar menjadi bahan upload belaka. Atau malah sialnya, seperti nasib Rumah Sekara. Saya sih percaya bahwa tim promosi Rumah Sekara membuat konten tersebut dengan proses olah gagasan yang tidak singkat. Analisis fungsi tiap pesan pasti juga ada. Cuma masalahnya, mereka tidak peka dengan konteks masyarakat Indonesia yang tidak suka dapat koreksi untuk hal sepele.

Saran saya sih untuk kawan-kawan yang ingin mempromosikan produknya lewat media sosial, libatkanlah content writer. Produksi konten itu tidak sesederhana yang dilihat. Meski durasi video hanya sekian detik, tetapi tiap detik dalam promosi itu bisa memuat banyak pesan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here