Waktu Baca: 3 menit

Tak pernah kita menyangka Indra Sjafri akan ada di posisinya saat ini : musuh bersama. Ya, sejak insiden Sandy Walsh dan pernyataannya soal naturalisasi yang kontroversial, Indra Sjafri menjadi musuh bersama insan persepakbolaan Indonesia secara tidak resmi. Padahal, Indra Sjafri pernah mendapat banyak pujian. Salah satunya ketika berhasil mengantarkan Indonesia ke Piala Asia U-19 dengan mengalahkan Korea Selatan.

Saat ia akhirnya mendapat surat pemecatan karena gagal total di Piala Asia U-19 2014, banyak pihak membela Indra. Tak lama berselang, hanya dalam enam tahun, Indra Sjafri menjadi musuh bersama dan banyak orang ingin melihatnya diberhentikan dari posisinya. Sebenarnya apa yang terjadi?

Menyentuh Isu Sensitif

Indra Sjafri saya kira bukan politisi. Ia tidak memiliki rekam jejak pernah nyaleg misalnya. Hal ini ada bagusnya, juga ada jeleknya. Dengan ia tidak menjadi politisi, ia bisa fokus ke dunia olah kulit bundar. Namun sisi negatifnya, ia juga tidak paham mengenai isu politik di negeri ini dan konsekuensi dari pernyataan yang bermakna ambigu.

Pernyataannya yang mengatakan bahwa FIFA melarang pemain naturalisasi berbuntut panjang. Ia telah menyentuh isu yang panas di Indonesia : rasisme dan diskriminasi. Ya, sejak Pilkada Jakarta yang kacau lalu Pilpres yang memecah belah bangsa ini, isu rasisme dan diskriminasi menjadi hal sensitif. Apalagi banyak kelompok rasis dan diskriminatif yang tidak malu malu menunjukkan ideologinya dan menimbulkan kebencian. Tak heran sedikit saja aksi rasisme yang ambigupun akan menjadi masalah besar.

Mengharamkan pemain naturalisasi telah ‘meletakkan’ Indra Sjafri dalam kelompok pendukung rasisme versi masyarakat amam—meski saya yakin ia tidak seperti itu—namun publik sudah kadung curiga.

Apalagi kemudian pernyataan Indra Sjafri ini mendapat tanggapan dari beberapa pemain keturunan Indonesia dengan sinis. Hal ini telah meletakkan kesalahan komunikasi Indra Sjafri dalam konsekuensi fatal.

Isu Sensitif Lain : Nepotisme

Timnas kelompok umur seringkali mendapat kecurigaan sebagai ajang anak anak orang kaya dan berpengaruh mendapat ‘tempat khusus’. Kebetulan, pernyataan Indra Sjafri soal naturalisasi ini seakan mengatakan bahwa diskriminasi dan rasisme oke, demikian juga dengan nepotisme.

Memang, Indra Sjafri sedang sial dengan cara berkomunikasinya. Ia ikut terseret masalah nepotisme di Indonesia. Apalagi ada indikasi Indra mendapat keistimewaan saat ia bermasalah dengan pelatih Shin Tae Yong. Ya, saat itu bukannya Indra mendapat teguran, ia malah mendapat jabatan yang ‘lebih enak’. Banyak yang curiga bahwa Indra Sjafri dari dulu sudah menjalankan nepotisme dan menikmati budaya ini. Makin bencilah warga Indonesia pada eks pelatih Bali United ini.

Faktanya, timnas kelompok umur asuhan Indra Sjafri merupakan salah satu timnas kelompok umur dengan prestasi paling baik. Indra termasuk orang yang tekun mencari bibit bibit unggul sampai ke pelosok pedalaman. Tapi, ya, ada kritik keras karena timnas besutan Indra Sjafri tidak menyertakan anak Papua. Waduh, makin runyam saja kondisi Coach Indra ini.

Cara Indra Sjafri Memperbaiki Keadaan

Nasi sudah menjadi bubur, Indra tidak perlu mengucapkan pernyataan apa apa lagi untuk membela diri. Mungkin dalam waktu tak lama publik Indonesia akan memaafkan Indra Sjafri dengan melupakan apa yang pernah ia katakan. Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu juga sebenarnya. Indra harus menyadari posisinya kini adalah Direktur Teknik Timnas Senior, bukan coach timnas kelompok umur lagi.

Sebagai dirtek Timnas senior, tugasnya adalah menang, bukan pembinaan lagi. Kalau timnas kelompok umur kalah di kompetisi bagi saya ya sudah lah. Tujuan timnas kelompok umur memang bukan untuk juara melainkan untuk mendidik dan mengembangkan pemain muda junior agar nantinya bisa berprestasi di tingkat internasional. Nah, kalau sudah senior ya gak terus membina diri untuk menjadi pemain timnas lanjut usia gaes. Sudah saatnya Indra menang. Niscaya, masalah selip katanya akan termaafkan dan dia tidak lagi berperan sebagai Indra Sjafri si musuh bersama.

Gambar oleh : Widhie_86

Baca juga kisah bal bal an lainnya :
Marc Cucurella si Spesialis Kiri Lapangan

Tiki Taka Arsenal Bakal Lengkap?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here