Waktu Baca: 3 menit

Alkisah saya melakukan wawancara dengan seorang marketing director dari sebuah brand kopi ternama di Indonesia. Kami ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya mulai berani ngomongin bab masalah sensitif: narkoba. Kayaknya barang haram ini jauh sekali dari kehidupan saya. Tapi, menurut teman bicara saya ini, narkoba sebenarnya bukan barang luar biasa, sudah umum sekali. Dia beralasan: Jakarta bikin stress jadi wajar narkoba cepat laku.

Saya si anak polos terkejut. Tapi lama lama saya paham betapa stressnya Jakarta itu. Sudah bikin stress, orang Jakarta minim pelarian yang halal.

Jakarta yang Penuntut

Bagi saya, Jakarta memang penuntut. Kotanya sebenarnya sudah penuh sesak. Belanda mendesain Jakarta untuk jumlah populasi sekitar sepuluh kali lebih kecil dari kondisi sekarang. Kepadatan penduduknya terlalu ngawur. Karena penuh sesak, tidak heran untuk makan jadi persoalan rumit. Semua orang bersaing dengan mental dan kemampuannya. Manusia di Jakarta hampir tidak pernah mendapat jeda untuk seenggaknya dipeluk atau diberi pujian. Pokoknya tuntutan tuntutan dan seterusnya.

Hari sudah mulai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul empat pagi. Nanti, waktu akan berakhir bahkan di atas jam sepuluh. Begitu setiap hari kecuali hari Minggu, itupun kadang enggak juga. Biasanya masih ada saja kerjaan yang harus kita kerjakan. Padahal semakin tua kan semakin capek badan dan kita bener bener nggak boleh beristirahat.

Manusia Adalah Aset

Ya, di Jakarta, manusia adalah aset. Jakarta bikin stress sejauh itu gaes. Kita sudah berusaha keras namun kemudian bisa saja digantikan dalam waktu singkat. Kalau sudah begitu, kita ya tidak bisa bicara banyak karena memang begitu kondisinya. Menambah nilai skill dan pengalaman rasanya harus menerus terus kita lakukan tanpa istirahat. Dalam hati, duh…biyung..sampai kapan? Kadang orang terdekat di rumah bukannya memberi semangat malah menambah tekanan. Mana uang sekolah naik, uang kesehatan naik, cicilan rumah belum lunas dan seterusnya. Gila ya?

Narkoba Adalah Solusi

Ya, akhirnya narkoba menjadi solusi bagi banyak orang. Karena Jakarta bikin stress makanya obat yang bisa menyembuhkan rasa capek itu menjadi teman akrab. Tidak heran pil koplo pernah mengalami masa kejayaan bersama Inex. Ya, Jakarta terus menerus menekan manusianya hingga manusia manusianya mencari cari cara agar tekanan itu berkurang bahkan dengan ‘pil ajaib’.

Lalu apakah melarang penggunaan narkoba menjadi solusi orang tidak menggunakan narkoba? Ah, rasanya ya enggak. Banyak orang tahu kok bahaya narkoba. Tapi mereka masih saja menggunakan narkoba. Ya, karena masalahnya mereka yang memakai narkoba bukan karena narkoba itu asyk tapi karena mereka memang membutuhkan pelarian.

Penangkapan orang yang terkena narkoba tidak akan menimbulkan efek jera. Ya paling menambah bahan obrolan di kompleks. Makanya, bagi yang sekarang menghujat Coki Pardede ya mereka cuma menambah bahan ghibah. Enggak terus lihat Coki jadi takut pake narkoba. Enggak mas, enggak sama sekali.

Bukan Salah Narkoba

Narkoba itu hanya hasil dari kota yang tidak terurus dengan baik. Eits, ini bukan soal politik. Kita bicara mengenai kota yang sampai hari ini masih gagal memanusiakan manusianya. Karena manusianya gak merasa dimanusiakan sampai sampai sebagian dari mereka lari ke narkoba. Mungkin ada juga yang lari ke bunuh diri. Lari ke alkohol dan seterusnya. Jadi ketika hari hari ini kita masih ngomong penyalahgunaan narkoba karena bandarnya nekad, itu salah. Bandar ada karena pasar. Kalau mau beresin masalah narkoba gampang, tinggal gimana cara pemerintah bisa memanusiakan manusia Indonesia terutama yang di Jakarta.

Yakinlah kalau manusia merasa hidupnya nyaman dan tenang, ngapain dia lari ke narkoba yang jelas jelas merusak dan berbahaya. Udahlah, mungkin harus kita sudahi mengatai Coki Pardede. Bahkan banyak yang menyerang keyakinan Coki dan menghubung hubungkannya dengan narkoba yang ia pakai. Enggaklah. Banyak orang pakai sabu. Bahkan orang yang dari luar kelihatan normal normal saja. Jadi gak ada korelasi Coki yang kelihatan ngefly dan sabu. Emang mukanya saja yang kayak begitu.

Lebih baik kita perangi narkoba dengan memanusiakan (seenggaknya) diri sendiri. Saya kira saya sudah mencoba mengambil langkah berani dengan keluar dari Jakarta dan percaya bahwa hidup itu gak cuma soal Jakarta. Kalau kamu?

Sumber Gambar : Urai Zulkifar (Unsplash)

Baca juga :
Ingin Bahagia, Berbagi Tugas Harus Anda Lakukan

Lelaki Mau Menikah, Harus Mengerjakan Pe-Ernya Dahulu!

Coki Pardede Ternyata Juga Bisa Stress

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini