Kecerdasan Emosional Masyarakat Kita dan Kepolisian

Waktu Baca: 4 menitMungkin beberapa dari kita merasa kebingungan dengan respon kepolisian akhir-akhir ini. Banyak sekali yang mengkritisi tindakan-tindakan aparat yang dinilai “lebay” dalam menyikapi sebuah hal. Namun kenyataannya apa yang terjadi di instansi Kepolisian secara garis besar terjadi terhadap kita juga. Kok bisa? Mari kita ulas kepolisian kita dan kaitannya dengan kecerdasan emosional masyarakat kita.

Rekam Jejak Respon Kepolisian – Mural Tuhan Aku Lapar

Semua keanehan berawal dari cara kepolisian merespon mural-mural yang ada di masyarakat. Kasus “Tuhan Aku Lapar” yang disinyalir mengkritik pemerintah – meskipun pembuatnya mengatakan itu hanya curhatan saja untuk mewakili perasaan dia dan teman-temannya  – dihapus oleh aparat. Bahkan sang pembuat mural tersebut didatangi oleh kepolisian dengan tujuan memberikan sembako dan mengecek kondisi ekonomi mereka. Hal yang nampak lucu melihat respon Kepolisian ini. Pembuatan mural tersebut bukan berarti bahwa para pembuatnya butuh santunan dari pihak Kepolisian – di sisi lain mungkin ini inisatif baik dari aparat. Tapi tentu saja pemberian sembako bukan jalan jitu bagi aparat maupun kepolisian menghapuskan catatan buruk mengenai respon mereka terhadap mural “Tuhan Aku Lapar”.

Rekam Jejak Respon Kepolisian – Mural (yang Disinyalir) Jokowi Bertuliskan “404 Not Found”

Viralnya respon Kepolisian terhadap mural dilanjutkan dengan penghapusan wajah seseorang yang disinyalir Jokowi dengan bagian mata yang ditutupi oleh tulisan 404 Not Found. Mural, yang disebut oleh Faldo Maldini, sebagai vandalisme memang cukup mengherankan. Sebenarnya bukan hanya terdapat mural 404 Not Found namun juga mural abstrak di samping kiri dan kanannya. Sayangnya bila memang dianggap sebagai vandalisme ternyata hanya mural 404: Not Found yang dihapuskan. Bahkan ada seseorang yang membuat kaos berdesainkan mural tersebut yang pada akhirnya ikut diburu oleh pihak kepolisian.

Rekam Jejak Respon Kepolisian – Penangkapan Petani di Blitar dan Penangkapan Sepuluh Mahasiswa UNS

Respon Kepolisian yang mindblowing terakhir untuk saat ini adalah keputusan aparat menangkap petani di blitar yang membentangkan poster bertuliskan “Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar” dan penangkapan mahasiswa UNS yang menyuarakan aspirasinya termasuk meminta tolong kepada Presiden Joko Widodo untuk membenahi KPK yang, kita tahu sendiri, sedang berantakan.

Mengapa Lebay?

Meskipun tidak ada keterangan resmi dari pihak aparat kenapa mereka merespon hal-hal yang menurut kita wajar saja, bahkan mural dan penyampaian aspirasi sebenarnya bukan hal yang aneh dan asing di masyarakat Indonesia, tapi respon Kepolisian ini bisa kita sepakati bersama dengan “menjaga citra”.

Kepolisian mencoba menjaga citra pemerintah Indonesia baik di mata masyarakat sendiri bahkan di mata dunia. Hal ini bisa kita lihat dengan pihak Kepolisian yang secara insting melibas mural-mural, poster-poster yang dinilai menjatuhkan nama baik pemerintahan meskipun Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan mural dan poster yang dijadikan alasan kepolisian melakukan pencarian bahkan penahanan. Namun yang sangat disayangkan adalah pihak aparat selalu terpeleset ketika menentukan bagaimana cara mereka menyikapi kebebasan masyarakat ini.

Cerminan Kecerdasan Emosional Kita

Menurutku, ini yang menarik dalam kasus respon kepolisian. Sebelumnya kita menyepakati bahwa cara Kepolisian merespon adalah untuk menjaga citra pemerintah dan respon kepolisian yang sangat kita sayangkan. Namun kesalahan dalam merespon ini juga terjadi kepada kita. Kita melakukan respon-respon ini secara insting, layaknya kepolisian (jika kita cermati video penangkapan petani secara utuh). Bila kepolisian merepresi mural dan poster serta pelakunya maka kita merepresi siapapun. Maksudnya?

 Masyarakat Indonesia sebenarnya adalah masyarakat yang sangat menjaga citra. Citra layaknya menjadi emas yang tidak boleh ada debu yang mengotorinya. Kesalahan dalam menjaga citra biasanya terjadi di generasi sebelum generasi milenial, meskipun sebenarnya milenial ke bawah pun bisa saja sangat mementingkan hal ini.

Baca juga : Mendengarkan Omongan Motivator Malah Jadi Emosi

Semangat Menjaga Citra

Penjagaan citra yang berlebihan layaknya Kepolisian nyata adanya. Bagaimana UU ITE sudah memakan korban karena ketersinggungan. Orang-orang yang ramai merundung akun Microsoft setelah mengeluarkan hasil survei bahwa warganet Indonesia termasuk yang paling tidak ramah. Layaknya Kepolisian kita merepresi orang-orang yang mengganggu kita atau mungkin kepentingan kita (bukan soal bisnis tapi tetap soal citra). Kita bahkan lebih parah dari Kepolisian yaitu merundung mereka tanpa memandang siapa yang kita rundung. Kita adalah Kepolisian yang salah dalam merespon namun dengan cara kita sendiri. Itu adalah contoh-contoh besar. Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Aku lebih ingin mengajak kita semua sama-sama melihat diri sendiri dan lingkungan kita, merefleksikan apakah benar kita juga seperti itu? Dan pernahkah kita merespon secara tidak tepat? Memang pada akhirnya kita sama seperti Kepolisian yang kita protes. Kita sering luput dalam merespon. Kita adalah Kepolisian dengan cara kita sendiri.

Apa Akarnya ya?

            Akarnya adalah kecerdasan emosional. Ya, kecerdasan emosional. Respon-respon berlebihan oleh polisi dan kita sendiri merupakan cerminan dari keharusan kita untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Kurang baiknya kecerdasan emosional sebenarnya wajar terjadi di Indonesia. Kok bisa? Karena memang kecerdasan emosional seperti tidak tersentuh dalam pendidikan maupun pola didik.

Di sekolah, sebuah tempat kita menimba ilmu selama 12 tahun, pikiran kita penuh dengan hal-hal yang bersifat akademik saja. Semua bersifat akademik. Masih sedikit instansi pendidikan yang mulai secara serius menyikapi pentingnya kecerdasan emosional. Terlebih mereka dari kepolisian yang mungkin saja pada zamannya, sekolah sama sekali tidak menyadari pentingnya kecerdasan emosional.

Sejalan dengan dunia pendidikan, dunia parenting pun dapat kita jadikan akar dari segala problematika mengenai respon yang kurang tepat. Dalam hal ini secara didikan orang tua, tidak jarang orang tua yang lebih mementingkan prestasi anaknya daripada kesehatan psikis dan emosional yang nantinya akan berpengaruh terhadap kecerdasan emosional ini. Banyak orang tua yang lebih sering memilih bekerja dan mencarikan les secara akademik kepada anaknya tanpa memastikan apakah anaknya mendapatkan “pendidikan” yang sesuai atau tidak.

Cueknya kita terhadap kecerdasan emosional, terhadap pengelolaan emosi sejak kecil, sejak di lingkungan keluarga, sejak di sekolah membuahkan berbagai masalah respon di Indonesia. Akarnya cukup sederhana bukan? Namun kita sering tidak menyadarinya. Nah, sekarang adalah tugas kita bersama untuk membenahi pengelolaan dan kecerdasaan emosional yang sudah “amburadul” ini.

Raditya Saputra
Penikmat fotografi yang mencoba mengusir kejenuhan

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

TERKINI