Waktu Baca: 4 menit

Cerita ini mengisahkan seorang yang mengalami kehidupan yang pelik. Kehidupan yang pedih. Seseorang asal Polandia yang dapat menemukan makna hidupnya. Mari kita simak kisah Viktor E. Frankl.

“Kita perlu menghadapi seluruh penderitaan kita, dan berusaha meminimalkan perasaan lemah dan takut. Tetapi, kita juga tidak perlu malu untuk menangis, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, yakni keberanian untuk menderita”

– Viktor E. Frankl

Siapa itu Viktor E. Frankl?

Bagi kalian yang mempelajari psikologi mungkin tidak asing dengan salah satu psikolog ternama ini, ya. Viktor E. Frankl adalah psikolog yang menemukan sebuah metode bernama logoterapi, yaitu metode penyembuhan psikis melalui pencarian makna, jalan hidup serta jati diri orang yang bersangkutan.

Viktor E. Frankl lahir di Wina, Austria pada tahun 1905 tepatnya pada tanggal 26 September 1905. Viktor memutuskan untuk mendalami psikologi dan ketika lulus dari sekolah menengah atas pada tahun 1923 ia menulis sebuah essay tentang psikoanalitik. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Viktor melanjutkan pendidikannya di University of Vienna. Viktor kemudian menikahi seorang perempuan bernama Tilly Grosser pada tahun 1941.

Setelah lulus, Viktor E. Frankl bekerja di Rumah Sakit Vienna untuk membantu perempuan yang mengalami depresi. Dalam tugasnya yang bisa kita bilang sangat mulia ini, kita sendiri dapat mengetahui betapa bahayanya depresi ini entah karena kita pernah mengelaminya, atau membaca literaturnya, Viktor melanjutkan studinya mempelajari neurologi.

Semua kehidupannya berjalan sebagaimana mestinya hingga pada tahun 1942 sebuah tragedi yang sangat serius terjadi.

Baca Juga : Menalar Kebijakan Stasiun Televisi untuk Menayangkan Saipul Jamil

Apa yang Terjadi dengan Viktor?

Tahun 1942, semua tahu apa yang terjadi dengan dunia pada periode ini hingga 1945. Ya, bentrokan antar senjata, antar negara. Ya, perang dunia kedua terjadi. Sebuah perang yang menewaskan banyak orang. Perang yang merenggut ayah para anak, suami dari para istri, dan anak dari orang tua yang sudah senja. Orang diminta memanggul senjata, berperang, dan melakukan segala tindakan yang tidak manusiawi. Orang-orang kehilangan hati dan nalurinya. Era ketika semua manusia menjadi hewan buas yang menerkam sesamanya untuk sebuah kekuasaan koloninya.

Tahun 1942, tahun di mana kisah Viktor E. Frankl mengalami kejadian yang bisa saja merenggut semua semangat hidupnya. Merenggut semua mimpi dan harapnya. Merenggut semua optimismenya dan berkubang pada pesimisme. Viktor E. Frankl menjadi tawanan perang bersama dengan orang tua, saudara dan istrinya dan dijebloskan ke Kamp Theresienstadt ketika Nazi menguasai Austria.

Masa Kelam di Kisah Viktor E. Frankl

Tak lama setelah mendekam dan menjadi tawanan di Kamp Theresienstadt Viktor dan keluarganya besarnya dipindahkan ke sebuah kamp yang terkenal akan ketidakmanusiawannya, yaitu Kamp Auschwitz.

Namun, dalam pemindahannya ke Kamp Auschwitz, Viktor harus berpisah dengan ayahnya. Bukan karena ayahnya tetap tinggal di Kamp Theresienstadt atau justru dibebaskan, ayah Viktor gugur di sana.

Viktor mengalami masa-masa buruk di Kamp Auschwitz. Dia dipisahkan dengan ibunya, dengan sepupu beserta istrinya. Viktor diminta untuk bekerja rodi di sana. Mengangkat balok-balok kayu dengan pundak mereka dan bertelanjang kaki di tengah dinginnya salju di luar. Bila ada yang tak mampu bertahan maka eksekusilah yang akan mendatangi mereka.

Bagaimana dengan makanannya? Sialnya, tahanan yang dipekerjaan seenaknya sendiri juga disediakan makanan yang seadanya. Sebuah sup encer dengan sedikit mentega dan sebuah sosis. Sebuah menu yang sungguh rendah kalori.

Viktor juga menceritakan bahwa dirinya, dan teman-temannya sudah hafal sebuah hal. Apakah itu? Hal itu adalah hal yang mengerikan. Viktor dan teman-temannya sudah menghafal bagaimana ciri-ciri orang yang akan gugur di sana.

Di Kamp Konsentrasi Auschwitz inilah Viktor berpisah dengan ibu, saudara serta istrinya. Mereka berada di tempat yang terpisah. Tempat yang memiliki sebuah cerobong besar yang mengarah ke pengapian yang digunakan untuk mengeksekusi tahanan. Saat itulah Viktor sadar, bahwa setelah ini dia hanya bisa berkomunikasi dengan ibu, istri dan saudaranya lewat doa.

Baca Juga : Sejarah Angkringan : Mulai Dari Kampung Sampai Solo

Menariknya – memang sedikit aneh mengatakan “menarik” di cerita ini – Viktor yang berkomunikasi dengan tahanan menceritakan terdapat hal yang menjadi patokan orang selamat atau tidak. Orang yang selamat bukanlah orang yang optimis, karena mereka yang optimis akhirnya meninggal karena harapan mereka yang tidak segera terwujud untuk bebas dari kamp, bukan orang yang pesemis karena mereka akan gugur karena tidak memiliki harapan apapun. Mereka yang realistis yang akan bertahan hidup. Ya, benar masih ada yang berhasil bertahan hidup ketika keluar dari kamp.

Gugurnya Hitler, Akhir Dari Mimpi Buruk

Hitler. Adolf Hitler. Pasti kalian pernah mendengar nama sang Fuhrer ini. Hitler yang merupakan pimpinan dari Nazi. Nazi yang bertanggung jawab atas segala siksaan di Kamp Auschwitz. Nazi yang akhirnya gugur bersama sang Fuhrer, Hitler. Gugurnya Hitler membawa terang bagi orang-orang yang sanggup bertahan. Mereka akhirnya menemukan terang yang selama ini mereka damba-dambakan, begitu pula dengan Viktor.

Viktor yang kehilangan ayahnya di Kamp Theresienstadt dan istri, ibu, serta saudaranya di Auschwitz pun melangkah keluar gerbang kamp. Menyeret kakinya yang terluka seperti tawanan yang lain. Banyak tanda tanya tentang apa yang terjadi sebelum mereka sepenuhnya sadar bahwa mereka sudah bebas.

Percikan gembira mereka muncul ketika mereka melihat seekor ayam dan bunga yang indah di musim semi yang indah. Mereka yakin mereka benar-benar bebas. Kamp yang merobek jiwa manusia sudah lenyap. Kini mereka yang bebas sudah bisa duduk di sebuah bar, bercerita tentang kapan mimpi mereka akan terwujud saat mereka di sana.

“Saya bertanya kepada Tuhan di penjara yang sempit dan Tuhan menjawab saya di ruang yang bebas.”

– Viktor E. Frankl

Apa yang Terjadi Setelahnya?

Viktor, yang melanjutkan karirnya sebagai psikolog turut ikut membantu para bekas tahanan yang jiwanya masih terpenjara. Dia berpikir bahwa mereka yang hidupnya dilanda kekelaman adalah orang yang perlu dibantu dalam pencarian makna hidupnya. Dia yang bukan hanya bebas secara fisik namun juga jiwanya bebas dikarenakan makna hidup yang ia dapatkan di sana. Viktor akhirnya menemukan sebuah metode penyembuhan psikologis seseorang lewat pencarian makna hidup dan tujuan hidup karena menurut Viktor, makna hiduplah yang akan menyelamatkan seseorang.

Dalam bukunya, Man’s Search For Meaning, Viktor menuliskan “Saya memandang hidup dengan penuh makna dan tujuan. Sikap yang saya terapkan pada hari yang bersejarah tersebut telah menjadi paham hidup saya: Leher Saya Memang Patah, Tapi Itu Tidak Mematahkan Hidup Saya”.

Viktor menemukan makna hidupnya melalui kamp yang mengerikan. Viktor telah berhasil dan semoga saja kita juga bisa menemukan makna hidup kita dalam segala hal berat yang kita alami

“Saya tahu, tanpa penderitaan saya tidak mampu berkembang”

-Viktor E. Frankl

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini