Waktu Baca: 2 menit

Semua manusia butuh makan. Pun setiap makhluk hidup perlu makan. Urusan makan ini ternyata jadi media yang ampuh untuk mengakomodasi segala kepentingan, entah mencelakakan atau menguntungkan. Pesta pora dengan makan dan minum juga terbukti bisa mengubah kebijakan pemerintah. Oleh karena itu saya akan ulas makan bareng sebagai strategi diplomasi yang terbukti ampuh sepanjang jaman.

Diplomasi meja makan ala Jokowi

Kita ambil contoh cara Jokowi sewaktu dia menjadi Walikota di Solo. Dia memakai diplomasi meja makan untuk menata pedagang kaki lima di kawasan Taman Banjar Sari. Kala itu tahun 2014 terdapat 989 pedagang yang akan direlokasi ke beberapa pasar. Menurut riwayat di berbagai kabupaten / kota, pemerintah kalo mau merelokasi pedagang kaki lima, tidak bisa lepas dari tindakan paksaan hingga bentrokan fisik. Maka tak heran beberapa kesatuan satpol PP di daerah dilengkapi dengan peralatan untuk menangani demonstrasi. Tetapi diplomasi makan ala Jokowi terbukti ampuh untuk menata pedagang kaki lima tanpa kekerasan. Bahkan proses relokasi juga dimeriahkan dengan perarakan.

Seminggu sekali Jokowi mengajak para pedagang datang ke rumah dinas walikota untuk makan siang bersama. Selama makan bersama pun tidak banyak hal yang dibicarakan. Teknik ini ia gunakan sebanyak 54 kali hingga misinya untuk merelokasi PKL berhasil. Ya, 54 kali, sekali dalam sepekan, alias butuh waktu 1 tahun!

Barack Obama dan Dmitry Medvedev

Pada tanggal 24 Juni 2010 Obama mengajak Dmitry untuk makan bareng burger cheese di Arlington, US. Kedua penguasa negara ini berdiskusi serius soal traktat pengurangan senjata nuklir, hanya bermodalkan junkfood! Kalau kita bandingkan dengan diplomasi makan ala Jokowi, maka ini jelas tidak apple to apple. Biaya makan yang dikeluarkan Jokowi untuk negosiasi dengan 989 pedagang boleh dikata sebanding. Tetapi untuk Obama dan Dmitry, urusan dagang internasional dan persenjataan nuklir bisa dibereskan dengan makan burger cheese, ini sebuah hal yang fantastis!.

Diplomasi meja makan ala duo Korea

Kita tahu bahwa secara teknis Korea Utara dan Korea Selatan masih berperang, karena sejak 1953 status mereka adalah gencatan senjata, bukan perdamaian. Nah, pada tanggal 27 April 2018 Kim Jong Un dan Moon Jae In makan bareng di istana kepresidenan Korea Selatan. Menunya adalah kolaborasi antara masakan Korea Utara misalnya Pyongyang Naemyun dan masakan Korea Selatan misalnya salad gurita dingin. Hasil makan bareng ini adalah Deklarasi Panmunjeon yang isinya 9 poin kesepakatan untuk mengakhiri perang Korea yang telah berlangsung selama 65 tahun. Tetapi di bulan berikutnya, Korea Utara secara sepihak membatalkan deklarasi tersebut. Ini menggambarkan bahwa diplomasi meja makan tak selalu benar-benar berhasil. Terasa menyenangkan ketika di atas meja makan, tetapi beda cerita ketika sampai di rumah masing-masing.

Diplomasi Salak ala Soekarno dan Nixon

Tahun 1954 Richard Mulhouse Nixon yang kala itu menjabat Wakil Presiden Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia. Kunjungannya ke Asia berawal dari Indonesia dan mendapat sambutan hangat dari Presiden Soekarno. Sebagai tamu istimewa, Nixon mendapat jamuan makanan-makanan yang mantap dengan citarasa khas istana. Tak ketinggalan, Soekarno menawarkan Nixon untuk mencoba buah Salak. Belakangan kita tahu bahwa ada pasang surut hubungan Indonesia dan Amerika Serikat. Nixon merupakan salah satu pemimpin AS yang menaruh hormat dengan Indonesia. Tidak hanya saat ia menjabat sebagai wapres, tetapi juga saat ia menjadi presiden AS.

Nah itulah beberapa catatan sejarah tentang keberhasilan makan bareng sebagai strategi diplomasi yang terbukti ampuh sepanjang jaman. Dalam istilah perpolitikan, aksi ini namanya adalah gastrodiplomacy

Barangkali kamu juga perlu mencoba gastrodiplomacy untuk kepentingan bisnismu. Selamat mencoba !

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini