Waktu Baca: 2 menit

Beberapa kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyebutkan potensi Learning Loss. Dalam kesempatan formal, bahkan informal di podcast nya oom Deddy, mas menteri menyebutkan dua kata itu : Learning Loss. Emang apaan sih itu?

Gampangnya sih, learning loss itu situasi di mana orang mengalami kemunduran pengetahuan dan keterampilan. Ini terjadi ketika orang sekian lama tidak mengalami kemacetan proses belajar. Putus sekolah, itu salah satu pemicu learning loss. Nah di masa pandemi, learning loss terasa sekali. Apa yang dulu bisa dipelajari saat sekolah offline, sekarang tidak bisa dipelajari. Ingat lho, tidak semua hal bisa di online kan.

Hilangnya Keterampilan

Dulu kita bisa belajar berorganisasi di sekolah dan kampus. Kalo perlu debat dengan temen, debat deh. Kalo perlu lembur project sampai subuh pun kita jalanin. Manajemen waktu, daya juang, daya tahan, kreativitas, dan negosiasi adalah keterampilan yang kita dapatkan dari proses belajar itu. Bisa lewat organisasi, bisa juga lewat project project bersama. Cuma sayangnya, ketika sekarang temen-temen harus belajar secara online, tidak ada kesempatan itu semua. Aktivitas di depan laptop jelas beda rasanya dengan interaksi langsung. Sekarang bayangkan kalo 2 tahun lagi para fresh graduate mengalami learning loss dan tidak punya keterampilan itu semua. Bagaimana mereka bisa dengan mudah dapat kerjaan? Siapa yang mau percaya dengan kualitas pekerjaan mereka?

Putus sekolah gegara akses internet

Meski sekarang semua orang bisa online, tapi urusan pembelajaran itu beda tuntutan, bung. Pembelajaran itu tidak sekadar buka WA atau google classroom. Belajar itu butuh download video, browsing gagasan, dan berbagai aktivitas yang butuh gadget dan internet yang lancar. Nah, gimana kalo orang nggak punya gadget yang mumpuni dan akses internet yang cukup? Nggak bisa sekolah dong. Meski pemerintah bilang bahwa semua anak harus dapat layanan pendidikan, tapi ketika urusannya dengan internet, bisa beda nasib. Yang berpeluang mengalami learning loss nggak cuma yang malas-malasan belajar. Yang tidak punya cukup modal alat belajar pun juga terancam kena learning loss.

Hafal materi, tapi tidak dapat pengetahuan apapun

Soal materi belajar, entah di bangku sekolah atau bangku kuliah, kita bisa temukan di internet. Banyak sumber belajar di internet. Bahkan tanpa guru pun kita bisa aja belajar banyak hal. Cuma persoalannya, apa kita sungguh-sungguh belajar? Jangan-jangan kita sedang bermain peran aja. Pura pura belajar karena sangat berharap ada sekolah offline. Efeknya sih pada pemahaman kita. Hafal segala macam rumus kimia bisa aja. Tapi kalo nggak tahu hubungannya antara materi dengan kehidupan sehari-hari itu berat. Memangnya, pemahaman macam apa sih yang bisa kita harapkan dari komunikasi pembelajaran lewat WA?

Baca juga : Yang Hilang dari Pendidikan Indonesia

Tatap Muka dalah Koentji

Saya sih sepakat dengan keinginan mas menteri untuk sesegera mungkin menerapkan pembelajaran tatap muka. Ini supaya learning loss tidak semakin parah. Soal protokol kesehatan, rasanya kita tidak perlu memperdebatkan itu. Prokes harga mati. Tapi perjumpaan dengan teman sebaya di sekolah juga jadi harga mati buat anak-anak. Berapapun anak yang hadir dalam satu ruang kelas, itu bisa diatur. Tetapi setidaknya mereka bertemu dengan teman yang sebaya. Syukur bila antar mereka boleh berinteraksi atau bekerja sama menyelesaikan persoalan.  Tetapi kalo belum memungkinkan berinteraksi, setidaknya mereka menyadari bahwa bukan satu-satunya makhluk bumi yang paling kesusahan. Mereka punya teman-teman yang sebaya, yang menghadapi persoalan yang sama.

Yah, semoga sekolah tatap muka segera diberlakukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini