Gotong Royong Indonesia yang Pindah Cara Melalui Kasus KPI, Saipul Jamil dan Korupsi Bansos Juliari Batubara

0
31
Waktu Baca: 3 menit

Sudah bukan hal mengejutkan lagi bila masyarakat Indonesia dikenal dengan sifat gotong royongnya. Hal ini sempat menarik perhatian dunia yang terkejut dengan kolektivisme Indonesia. Namun akhir-akhir ini, bila kita melihat di lingkungan, gotong royong Indonesia sempat dianggap mulai memudar. Apakah benar? Hmmm…. Menurutku tidak. Gotong royong di Indonesia bukan memudar, hanya bentuk dan caranya yang berubah. Kenapa?

Gotong Royong Pada Era Sebelumnya

            Gotong royong, terutama pada saat kita mengenyam bangku sekolah dasar dahulu selalu diidentikan dengan kerja bakti, ronda, membersihkan kelas dan lain-lain. Pada awalnya memang hal-hal tersebut adalah hal-hal konkrit yang bisa dijadikan contoh sebagai perilaku gotong royong. Gotong royong juga sering diistilahkan dengan musyawarah warga baik itu warga yang sudah berumur ataupun karang taruna.

Gotong royong dengan cara-cara tersebut sering diidentikan dengan kehidupan desa. Namun, dengan berkembangnya daerah pedesaan menjadi sebuah kota atau maraknya urbanisasi, katanya gotong royong sudah memudar dari kehidupan bangsa Indonesia. Lho bener kah?

Baca juga : Lord Adi Masterchef, Majulah Sebagai Capres 2024!

Gotong Royong Pada Masa Modern

Banyak yang mengatakan dengan adanya urbanisasi dan semakin majunya sebuah wilayah maka gotong royong akan semakin memudar. Bila kita lihat secara lingkungan memang hal ini benar adanya. Pada daerah perumahan modern, bahkan sebuah apartemen, biasanya sudah ada petugas yang bertugas menjaga lingkungan, sehingga ronda tidak diperlukan dan orang yang bertugas membersihkan sebuah lingkungan. Namun memudarnya gotong royong seperti yang dipelajari ketika kita SD dahulu berubah menjadi gotong royong di Media Sosial.

Perpindahan gotong royong ke media sosial ini sering terjadi. Paling baru adalah kasus Saipul Jamil dan perundungan di KPI. Dari kasus-kasus itu kita bisa melihat bagaimana masyarakat Indonesia yang berstatus sebagai Netijen berbondong-bondong, bergotong royong, untuk sama-sama menyuarakan kebenaran yang seharusnya diwujudkan. Bahkan dalam kasus Saipul Jamil, bukan hanya masyarakat biasa namun orang-orang yang berada di industri hiburan seperti Angga Dwimas Sasongko bisa ikut nimbrung dalam penyelesaian kasus ini. Kasus-kasus lainnya adalah seperti gotong royong dalam mempromosikan dagangan seseorang yang dianggap perlu dibantu dan memprotes kasus bansos dengan caption “Juliari Ko***l”, yang terakhir jujur saja, itu lucu. Hahahaha….

Hasil Kolektivisme – Gotong Royong di Media Sosial

            Kolektivisme bangsa Indonesia ini memang tidak bisa kita anggap remeh. Bagaimana KPI dan Kepolisan akhirnya mengusut kasus pelecehan seksual yang dialami MS di KPI. Sejalan dengan kasus di KPI, akibat dari warganet yang secara berbondong-bondong membahas Saipul Jamil, pedangdut ini akhirnya diisukan diberhentikan oleh stasiun televisi yang bersangkutan.

Namun layaknya yin dan yang, di balik hal positif pasti ada saja hal negatif yang muncul, yaitu perundungan. Nampaknya warganet Indonesia bukan hanya kolektif dalam membantu diusutnya suatu kasus, tapi juga dalam hal merundung. Pernah terjadi sebuah kasus dimana warga Indonesia secara kolektif merundung warga negara Thailand yang memutuskan untuk menikah sesama jenis – Haduuhhh…. padahal pasangan ini bukan WNI  –. Maraknya kasus perundungan secara kolektif ini membuat Indonesia dianggap sebagai negara dengan warganet paling tidak sopan menurut Microsoft – dan tentu saja Microsoft jadi salah satu korbannya –.

Kolektivisme warganet Indonesia yang terbaru adalah menyasar akun Instagram klu sepak bola, Lechia Gedanks, yang dianggap hanya menggunakan Egi Maulana Vikri sebagai alat promosi saja – yaa… ada benernya juga sih kalau yang ini –.

Tapi… sepertinya untuk kasus Juliari Batubara nampak belum menghasilkan output yang sesuai.

Baca juga : 5 Keajaiban Penanganan Pandemi di Indonesia

Gotong Royong Cara Baru Jelas Harus Hati-Hati

Kita sudah membahas hasil dari kolektivisme bangsa Indonesia ini. Terutama mari kita menyorot sisi negatifnya. Nampaknya warga Indonesia sebenarnya memiliki kesulitan dalam bersosialisasi di media sosial, kontras dengan anggapan bahwa Indonesia adalah negara yang ramah. Tentu saja bersosialisasi ini perlu diajarkan kembali. Tidak usah kebanyakan penyuluhan maupun webinar Biasanya tidak semua orang akan memperhatikan webinar atau penyuluhan dengan baik bukan? Warga Indonesia sejak dini harus mulai dilatih dalam bertutur kata dan mempertanggung jawabkan segala perkataan yang dilontarkan baik secara verbal maupun secara tulisan di media sosial. Yaa… butuh proses memang. Tapi jelas kita yang sudah sadar akan hal ini harus bergotong royong juga untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat terutama para anak-anak yang akan hidup di dunia yang lebih modern kelak.

Bisa ditemui via surel di: fra.raditya22@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini