Waktu Baca: 2 menit

Barangkali di antara kita pernah merasakan cemas ketika sadar bahwa handphone kita tertinggal di rumah. Mungkin kita pernah merasa tidak nyaman ketika berada di area yang sulit mengakses sinyal internet. Atau kita merasa berat hati ketika handphone kita harus masuk ke tukang servis. Pikiran berkecamuk karena harus sabar untuk tidak membuka chat whatsapp. Nah, kalo kamu mengalami itu, tampaknya kamu perlu mengenal istilah nomophobia.

Arti Kata

Klasifikasi phobia dalam dunia psikologi selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dewasa ini makin banyak hal yang bisa jadi sumber kecemasan kita. Nomophobia sebetulnya singkatan dari no mobile phone phobia. Secara singkat, nomophobia berarti kecemasan kita ketika kita ada dalam kondisi tanpa ponsel. Kondisi itu bisa terjadi karena kesengajaan, atau ketidaksengajaan. Sengaja itu misalnya ketika kita sedang ada dalam kegiatan seminar yang mewajibkan seluruh peserta menitipkan ponsel pribadinya. Ketidaksengajaan itu misalnya ketika ponsel kita tertinggal di rumah, tertinggal di kantor, atau jatuh di jalan.

Gejala

Phobia, sebagai bagian dari gangguan psikologis memiliki ciri khas berupa kecemasan terhadap objek atau situasi tertentu. Kecemasan dalam hal ini tidak sekadar berpikir tentang sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi. Ketika bicara soal phobia, maka kecemasan bisa sampai mengganggu rutinitas keseharian kita. 15 tahun yang lalu, ketika ponsel kita tertinggal di rumah, itu bukan jadi suatu masalah. Kita masih bisa tahan diri untuk 6-9 jam berikutnya tanpa ponsel. Kini, bahkan baru 5 menit sejak kita meninggalkan rumah, kita bisa sangat cemas ketika menyadari ponsel tertinggal di kamar.

Phobia menjadi berbahaya ketika kecemasan itu berdampak pada kelancaran aktivitas kita sebagai manusia. Dampak yang mungkin bisa muncul misalnya kita jadi tidak produktif, kita tidak melakukan apapun dan hanya meratapi situasi. Kalau pada anak-anak, nomophobia bisa parah. Saya punya keponakan berusia 5 tahun, yang setiap kali makan harus disodori ponsel untuk menonton youtube. Tanpa itu, ia akan rewel dan tidak mau makan. Nah itu contoh gejala nomophobia.

Faktor Risiko

Nomophobia didukung pula dengan kebiasaan kita di rumah dan kultur hidup kita. Ya memang tak dapat dipungkiri, hampir semua lini hidup kita butuh perangkat ponsel. Maka hidup tanpa ponsel rasanya jadi aneh. Sementara kebiasaan di rumah juga ikut membentuk nomophobia ini. Misal ketika kita makan dan mandi, kita tetap membawa ponsel. Tidur pun tetap ada ponsel di samping badan kita. Kebiasaan ini membuat kita merasa aneh ketika tidak ada ponsel di dekat kita.

Efek samping

Nomophobia dalam klasifikasi Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV dikategorikan sebagai phobia spesifik. Nah, apapun bentuk phobia nya, ketika itu sudah berdampak serius pada kelancaran hidup kita, maka itu jadi masalah besar. Misal, ketika ponsel kita tertinggal di rumah lantas kita jadi tidak mood bekerja. Ketika ponsel kita sedang dirawat di tukang servisan ponsel, lantas kita pun menghentikan banyak aktivitas hidup. Atau gara-gara ponsel kita ketinggalan, lantas kita memarahi setiap orang yang dijumpai. Emosi kita jaid meledak-ledak. Atau ketika kita kehilangan ponsel maka badan kita jadi demam, pusing, dan mual. Soal ini jangan heran, ya. Ini sangat mungkin terjadi.

Penanganan

Kalo kamu merasa ada gejala nomophobia dan sudah mengganggu kehidupanmu, segera saja jadwalkan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Gangguan psikologi tidak selalu berakhir dengan pemberian obat. Seringkali terapi perilaku sudah cukup untuk mengurangi phobia. Mengapa perlu bantuan seorang profesional psikologi untuk membereskan ini? Karena yang namanya mengubah kebiasaan itu tidak bisa sim salabim dalam sekejap. Butuh identifikasi masalah, strategi penanganan, dan pemantauan proses yang detail. Kita tak bisa mengandalkan kemandirian diri kita untuk mengurangi nomophobia.

Baca juga : Tips Jitu Memulai Konsultasi dengan Psikolog

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini