Waktu Baca: 3 menit

Sejak Spanyol memenangkan Piala Eropa 2012 tanpa striker, peran seorang striker seolah terpinggirkan. Apalagi, pemain terbaik dunia, Lionel Messi mempopulerkan posisi False Nine. Hal ini membuat nomor 9 murni terkesan kuno dan mubazir. Yah, apalagi setelah itu muncul peran peran baru striker yang tidak melulu mencetak gol. Lihat saja Shinji Okazaki yang banyak bermain sebagai deep lying forward saat Leicester City menjuarai Premier League. Lalu ada juga Pep Guardiola yang secara bergantian memasang Ferran Torres dan Kevin De Bruyne sebagai nomor 9 palsu. Rasa rasanya nomor 9 murni klasik macam Emmanuel Adebayor atau Jan Koller tidak mendapat tempat. Namun, mulai musim ini, mendadak Liga Inggris berebut nomor 9 murni.

Perburuan City Pada Harry Kane

Salah satu contoh mudah adalah betapa ngototnya Manchester City selama musim panas kemarin mengejar tanda tangan Harry Kane. City mulai menyadari bahwa nomor 9 murni penting untuk skema permainan Guardiola. Final Liga Champions musim lalu membuktikan bahwa tanpa nomor 9, City kesulitan membongkar pertahanan Chelsea yang di atas kertas levelnya berada di bawah City.

Meski berakhir dengan kegagalan, seenggaknya City berusaha. Ternyata, saingan City juga berburu nomor 9 murni dengan gigih. Chelsea akhirnya berhasil mendatangkan Romelu Lukaku dan Manchester United mendatangkan Cristiano Ronaldo. Sementara itu, Arsenal yang gagal mendapatkan nomor 9 murni menderita. Pun dengan City yang langsung kalah di pertandingan pertama.

Nomor 9 Murni Itu Apa Sih?

Nomor 9 Murni itu sesimple striker yang memiliki atribut klasik striker. Tubuh besar dengan fisik kuat, first touch mumpuni, kemampuan memantulkan atau memasukkan bola dan kepintaran dalam lari mencari ruang. Perkembangan sepak bola modern akhirnya meminta tipe striker yang berbeda. Misalnya saja Ronaldo Nazario yang bertindak sebagai complete forward, ya mencetak gol, ya melakukan dribble dan membuat assist. Lalu ada juga model fox in the box  macam Jamie Vardy dan Filipo Inzaghi yang bergerak dengan random untuk mengacaukan lawan sebelum melakukan lari sprint untuk mencetak gol. Serta kemudian, model defensive forward seperti Didier Drogba yang tidak mencetak banyak gol tapi berperan besar dalam permainan. Striker di permainan modern akhirnya tidak melulu soal mencetak gol.

Nah, permasalahannya, kini di tengah sistem pertahanan yang ketat dengan pressing tinggi, perlu striker yang mampu memanfaatkan peluang sekecil kecilnya. Di sinilah peran no 9 murni kembali menjadi pembahasan. Apalagi terbukti Tottenham mampu naik kelas dengan mengandalkan nomor 9 murni selama tiga musim terakhir. Jadi kenapa harus mengharamkan pemain tipe ini? Bukankah sudah saatnya kembali ke mazhab klasik?

 Meski Murni, Tugasnya Bertambah

Ya, meski nomor 9 murni mulai laris, tapi tugasnya bertambah. Jadi, tim tim besar tidak bisa asal memilih nomor 9. Jika asal saja, maka si nomor 9 ini malah menjadi beban tim.

Sebagai contoh. nomor 9 murni saat ini (kecuali Cristiano Ronaldo) memiliki tugas untuk terlibat dalam build up atau juga menjadi benteng pertahanan pertama. Meski demikian, tugas utama mereka ya lagi lagi mencetak gol. Mereka diminta benar benar memanfaatkan peluang sekecil apapun termasuk dari pass pass yang gak visioner. Pada pertandingan kemarin, dua nomor 9 murni berhasil membuktikan diri.

Romelu Lukaku menggotong Chelsea yang sempoyongan melawan Aston Villa dengan mencetak brace. Sementara itu Cristiano juga berhasil menjebol gawang Newcastle United dua kali.

Tidak Bisa Terlalu Optimis

Namun, ini semua baru awal. Penyerang murni adalah posisi yang sangat menuntut fisik, apakah dua pemain itu dan striker lainnya dapat bertahan selama satu musim Premier League yang sulit? Apalagi tugas tugasnya bertambah. Mengingat kondisi inilah, sebuah tim wajib memiliki plan B dan C ketika skema striker murni gagal.

Namun demikian, namanya sepakbola kan dinamis. Semisal tiba tiba harus ada perubahan ya tim tim besar akan berubah lagi.

Yang jadi masalah sekarang adalah: ketika sepakbola menuntut striker subur, eh tim tim yang akan saya bahas di bawah ini malah belum punya striker yang dimaksud, cilaka lah mereka.

Pekerjaan Rumah Arsenal, Liverpool dan City

City pelan pelan memperbaiki diri, namun tetap saja mereka belum memiliki nomor 9 yang bisa mereka andalkan. Sedangkan Arsenal tidak bisa terus terusan berharap pada Aubameyang atau Lacazette, terbukti semalam hujan peluang melawan Norwich City hanya jadi satu gol. Liverpool juga harus berbenah karena satu satunya nomor 9 yang mereka miliki adalah Divock Origi. Sementara itu, Jota, Minamino dan Firmino bukan nomor 9 yang menjanjikan gol. Mungkinkan Klopp harus mencoba membujuk Lewandowski yang sudah mulai gerah di Bayern? Entahlah.

Untuk Arsenal, pilihan memang terbatas. Mereka gagal mendaratkan Lautaro Martinez, pun di pasar belum tampak ada striker yang bisa available untuk mereka. Salah satu yang mungkin bisa menjadi pilihan adalah Richarlison, tapi diapun tidak punya postur yang kuat kuat amat. Calvert-Lewin mungkin pilihan alternatif menarik, tapi apa ya mudah menggoda andalan Everton ini? Apa mau coba Luka Jovic? Kenapa enggak? Toh Jovic tak cocok dengan Spanyol dan fisiknya bisa jadi jauh lebih berguna di Premier League.

Nah, selain membeli, tim itu juga bisa mengambil dari akademi. Apakah Arsenal siap menyulap salah satu pemain akademinya menjadi nomor 9 jagoan seperti Robin Van Persie?

Yang jelas, tanpa nomor 9 murni, tiga klub ini benar benar dalam bahaya.

 Masa Depan Nomor 9 Murni

Untuk semusim ke depan, penyerang masih akan jadi primadona. Kini tinggal klub klub pemilik striker gacor yang harus mampu membangun skema agar para pencetak gol murni ini nyaman dan bisa mendapat banyak peluang mencetak gol. Kejadian semalam saat Aston Villa mampu menekan Chelsea lumayan jauh membuktikan bahwa striker murni saja belum cukup. Lini tengah yang mumpuni juga sangat vital.

sumber gambar : cocotbodol.com

Baca juga :
Marc Cucurella si Spesialis Kiri

Indra Sjafri Menjadi Musuh Bersama, Kenapa?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini