Waktu Baca: 2 menit

Dari zaman SMP bahkan SD, memberi paraban atau nama panggilan merupakan kebiasaan. Nama nama panggilan paling standard adalah nama bapak teman teman kita. Nah, kalau sudah agak dewasa sedikit, kita menjadi lebih kreatif. Nama paraban bisa saja muncul karena spontanitas saja misalnya teman kita mendapat panggilan Ambon karena ia berasal dari Ambon. Atau bisa saja teman kita mendapat paraban karena ia mengingatkan kita pada seseorang. Misalnya saja, ada teman saya yang mendapat panggilan Komeng karena memang mirip komedian Komeng. Tapi paraban bukan bentuk bullying, sebaliknya, banyak yang setuju paraban tanda sayang. Ya, sayang kita ke teman teman kita.

Kini Tidak Sesederhana Itu Ferguso

Namun, pada hari hari ini, memberi paraban tidak sesederhana kelihatannya. Memberi paraban bisa jadi masuk kategori body shaming. Ya, konsep body shaming ini tiba tiba menjadi vital karena konon korban body shaming mengalami masalah tekanan mental yang berat. Karena itulah, memberi paraban menjadi masalah tersendiri.

Bukan rahasia kalau paraban kadang terinspirasi oleh bentuk muka dan tubuh teman yang mendapat paraban. Misalnya saja ada teman saya yang mendapat panggilan musang karena mukanya mirip tanuki alias musang jepang yang sering muncul di televisi. Ada juga teman yang mendapat panggilan ‘Kethek’ atau kera karena wajahnya mirip penggambaran monyet di anime anime.

Mereka yang mendapat panggilan itu pada masanya tidak tersinggung. Namun, hal hal kayak begitu kini bisa jadi isu serius. Pasalnya ya itu tadi, gak semua orang bisa menerima dinilai mirip monyet atau musang.

Batasan Kabur

Gara gara konsep body shaming, memang muncul garis abu abu antara paraban tanda sayang atau bullying psikologis. Secara umum, manusia memang menyukai hal yang lucu lucu. Jadi, ketika melihat temannya mirip monyet ya mereka senang mentertawakannya. Mereka jadi ingat terus dengan si teman dan bahkan menimbulkan afeksi pada teman saya itu. Tapi, lagi lagi, di sisi lain, yang dianggap mirip monyet juga bisa saja sedih. Apalagi orang tuanya, gimanapun gen anak kan berasal dari orang tua. Kalau anaknya lahir dengan muka mirip monyet, sama saja itu menyalahkan orang tua dong?

Nah, cuman, ada juga yang menganggap itu bukan masalah besar. Meski mukanya dianggap mirip monyet, ada orang yang santai santai saja tuh karena mereka tahu yang mentertawakan dia bukan karena benci dia. Ya ia memang lucu aja. Bisa jadi ia malah bangga karena menjadi sumber kegembiraan teman temannya. Sekilas agak pelik ya?

Lakukanlah Pendekatan Sebelum Memberi Paraban

Sebelum anda memberikan nama paraban untuk teman anda, alangkah baiknya untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu. Pastikan dulu bagaimana sifatnya. Apakah ia menerima mendapat panggilan sayang atau enggak. Bagaimanapun tingkat sensitivitas orang berbeda beda. Beberapa orang juga tidak bisa menerima bahwa dirinya mendapat sebutan yang agak kocak. Ia bisa merasa harga dirinya direndahkan.

Kalau misalnya anda menemukan teman yang asyk, hargailah dia. Di dunia dimana banyak orang begitu mudah terprovokasi, teman yang masih mau mendapat paraban adalah teman yang keren. Teman yang satu ini sudah memiliki tingkat kedewasaan tinggi dan paham bahwa paraban tanda sayang kawannya pada mereka.

Yah, gimanapun kedewasaan menerima paraban tumbuh seiring berjalannya waktu. Ingat Tulus? Dulu dia suka marah mendapat paraban ‘Gajah’ oleh teman temannya. Eh tapi kemudian ia menjadi dewasa dan malah senang bisa mendapat panggilan ‘Gajah’. Menurutnya, gajah ternyata hewan yang banyak memiliki nilai nilai positif dan merupakan hewan yang menyenangkan.

Baca juga :
Jakarta Bikin Stress Tapi Narkoba Haram

Coki Pardede Ternyata Bisa Juga Stress

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here