Waktu Baca: 2 menit
Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tekonologi (Kemendikbudristek) menyatakan sekolah-sekolah yang berada di wilayah PPKM level 1-3 diizinkan membuka pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas mulai Senin (30/8).
Epidemiolog UGM, dr. Bayu Satria Wiratama, M.P.H., menyebutkan  pembelajaran tatap muka harus dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Menurutnya, pembelajaran tatap muka di level manapun tetap harus memperhatikan protokol karena upaya testing, tracing, dan treatment (3T) di seluruh wilayah tanah air belum berjalan dengan baik meski sudah ada peningkatan dibanding sebelum PPKM.
Semua level PPKM kalau pembelajaran tatap muka harus disiplin dengan protokol dan melaksanakan uji coba dulu kemudian di evaluasi oleh semua pihak termasuk pihak kesehatan,”tuturnya.
Di samping disiplin menjalankan protokol kesehatan saat pembelajaran tatap muka, Bayu mengatakan sistem tanggap dan pengawasan Covid-19 di sekolah harus berjalan dengan baik. Dengan begitu bisa cepat mendeteksi siswa yang diduga terkena Covid-19. Selain itu juga ditunjang dengan pengawasan terkait kedisplinan 5M dari semua warga sekolah termasuk staf non guru dan orang tua.
“Kemudian ditunjang dengan memastikan sebagian besar warga sekolah yang terlibat pembelajaran tatap muka sudah divaksin,” tambahnya.
Lalu bagi siswa yang menjalani pembelajaran tatap muka diharapkan sudah mendapatkan vaksin Covid-19. Lalu,  siswa juga diimbau mematuhi atau displin menjalankan 5M baik saat di sekolah maupun di luar sekolah.
“Tidak boleh ada siswa yang hanya disiplin didalam sekolah tapi di luar sekolah kendor 5M-nya karena siswa seperti itu berisiko tinggi menjadi sumber penularan. Harapannya semua warga sekolah ,”terangnya.
Adapun protokol kesehatan 5M yang dimaksud adalah :
  1. Mencuci tangan. Saat dilaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), semua pihak yang berada di sekolah haruslah saling mengingatkan satu sama lain. Mencuci tangan selama 20 detik menggunakan sabun merupakan salah satu cara untuk mencegah penularan Covid 19. Pastikan semua area tangan sudah dibasuh dengan sabun.
  2. Memakai masker. Cara untuk melindungi hidung dan mulut adalah menggunakan masker. Ada baiknya masker yang digunakan rangkap dua. Masker pertama adalah masker 3 lapisan (di bagian dalam). Sedangkan di bagian kuar menggunakan masker kain. Dengan penggunaan masker berlapis ini diharapkan mampu menghadang masuknya virus Covid 19 masuk ke tubuh.
  3. Menjaga jarak. Dalam pelaksanaan PTM haruslah menerapkan jaga jarak. Ruangan kelas harus diatur tata letaknya sehingga antara sesama siswa dapat berjarak. Guru pun juga sudah semestinya harus menjaga jarak saat mengajar. Jika diperlukan, sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar dilakukan penyemprotan disinfektan.
  4. Menjauhi kerumunan. Para guru juga harus aktif untuk memantau kegiatan yang dilakukan oleh siswanya. Jangan sampai dengan adanya PTM malah menimbulkan kerumunan. Biasanya siswa di sekolah akan cenderung bergerombol saat waktu istirahat tiba. Peran aktif semua pihak sangat diperlukan.
  5. Mengurangi mobilitas. Ini hal yang penting bagi sekolah yang menganut sistem moving class. Sebaiknya hanya menggunakan satu kelas terlebih dahulu daripada nantinya malah menyebarkan virus ke semua ruangan kelas. Cara lainnya untuk mengurangi mobilitas adalah memastikan siswa harus langsung pulang ke rumah saat waktu belajar sudah usai.
Demikian halnya untuk warga sekolah lainnya juga diharapkan dapat disiplin protokol kesehatan disekolah dan luar sekolah. Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah. Tentunya dengan adanya kebijakan ini bisa menjadi angin segar bagi siswa dan orangtua. Selamat belajar kembali dan bertemu teman-teman dan guru!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here