Salatiga Zona Nyaman Bagi Mahasiswa Perantauan

Waktu Baca: 3 menit

Mungkin dari kalian tahu bahwa Salatiga adalah kota paling toleran se-Indonesia. Bahkan Salatiga dijuluki sebagai “Indonesia Mini”, karena banyak pendatang yang datang ke Salatiga. Nah, para pendatang tersebut kebanyakan adalah para mahasiswa yang menempuh studi di kota nan sejuk ini. Boleh dibilang mahasiswa dari ujung barat Sumatera sampai ujung timur Papua ada semua di Salatiga. Saya boleh klaim bahwa Salatiga jadi zona yang nyaman bagi mahasiswa perantauan. Sebetulnya tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi orang bekerja yang merantau di Salatiga juga bisa merasakan kenyamanan di sini. Orang-orang keturunan Belanda pun masih ada jejaknya di Salatiga. Kalo kamu tahu nama Gading Marten, Roy Marten, dan Rudy Salam, riwayat keluarga mereka berasal dari Salatiga.

Nah, kenapa bisa salatiga kota kecil tersebut bisa memiliki banyak pendatang? Jawaban saya adalah salah satunya karena ada kampus UKSW. UKSW kepanjangan dari Universitas Kristen Satya Wacana adalah salah satu kampus yang  terkenal di Indonesia. Beberapa riwayat pemikiran akademik Indonesia berasal dari sini. Segmen mahasiswanya boleh dikata gethok tular, alias dari mulut ke mulut. Mereka yang dulu pernah studi di sini lantas merekomendasikan anak, keponakan, teman, atau tetangganya di kampung untuk pilih studi di Salatiga. Jelas ini jadi endorse gratisan untuk Salatiga. Para alumni tersebut dengan senang hati akan menceritakan pengalaman mereka selama mereka tinggal di Salatiga tanpa di-endorse. Ada beberapa alasan lain kenapa Salatiga jadi zona yang nyaman bagi mahasiswa perantauan.

Keramahan Warga Salatiga

Masyarakat Salatiga, meski jauh dari akses pelabuhan, bandar udara maupun stasiun, namun tidak ndeso-ndeso amat. Tidak  heran atau kaget dengan kehadiran para pendatang dari berbagai suku, ras, agama, dan budaya. Kesan ini bukan pencitraan dari orang Salatiga, tetapi memang dari penuturan mahasiswa yang merantau di Salatiga. Kaa mereka, masyarakat Salatiga itu ramah dan welcome pada mereka. Pada sisi sebaliknya, para pendatang juga merespon dengan baik, dengan menjaga tata krama mereka selamat tinggal di Salatiga. Hal yang paling lumrah terjadi adalah ketika orang berpapasan di jalan, mereka saling menyapa satu sama lain. Entah itu orang Salatiga asli maupun para pendatang.

Iklim Sejuk

Iklim di Salatiga itu mungkin terbilang unik. Saat siang, iklim Salatiga itu panas terik. Tetapi di saat malam hari, udaranya dingin. Maklum, posisi Salatiga ada di lereng gunung Merbabu. Ada cerita, teman saya yang berasal dari Palu merasa kaget dengan iklim di Salatiga. Bahkan teman saya yang berasal dari Palembang dan Pematang Siantar terkena demam selama 3 hari karena kaget dengan iklim yang ada di Salatiga. Namun pada akhirnya mereka mengaku bahwa hidup di Salatiga lebih nyaman daripada di tempat tinggal mereka sendiri. Mereka mengakui bahwa suasana di Salatiga lebih nyaman karena lebih sejuk dan penduduknya tidak padat.  Jika dibandingkan dengan Semarang misalnya, panas di sana bisa membuat badan gerah dan pasti butuh AC. Sedangkan Salatiga panasnya tidak membuat gerah.

Kuliner Murah

Berurusan dengan perut mahasiswa, kriteria utama untuk sebuah warung dikatakan recommended adalah soal harganya yang murah. Seorang kawan dari Medan bercerita bahwa soal rasa masakan  di Salatiga tidak beda jauh dengan di Medan. Kawan yang berasal dari Palembang mengaku bahwa masakan Palembang itu lebih manis ketimbang di Salatiga. Kawan yang berasal dari Palu mengaku bahwa masakan mereka lebih pedas ketimbang citarasa di Salatiga. Soal ini saya tidak tahu kebenarannya, karena soal rasa itu relatif. Namun mereka semua mengakui bahwa masakan di Salatiga termasuk cocok di lidah mereka. Jika anak Manado kangen dengan masakan tempat asal mereka, ada warung Makan Manado yang terletah tidak jauh dari Kampus UKSW Salatiga.

Harga nasi sayur plus ayam di warung sekitar kampus hanya 10 – 12 ribu.  ada bubur ayam satu porsi juga hanya lima ribu rupiah yang terletak di dekat kampus UKSW. Jika dibandingkan kota lain di Palembang misalnya, uang 10 ribu tidak bisa mendapat seporsi  nasi ayam. Maka untuk mahasiswa yang butuh makan kenyang di Salatiga, tidak butuh merogoh kocek yang dalam. Tetapi bukan berarti menu makan di Salatiga serba sederhana. Kalo lagi mau makan yang selera menengah ke atas pun juga ada.

Itulah nikmatnya tinggal di Salatiga. Sebagai anak ber KTP Salatiga, saya berharap kota kesayangan saya ini tak hanya menjadi kota paling toleran di Indonesia. Salatiga bukan hanya jadi zona nyaman untuk mahasiswa perantauan. Malah kalau bisa, toleransi dan kerukunan di Salatiga jadi standar bagi masyarakat di kota-kota lain di Indonesia.

So, kapan kamu mau ke Salatiga?

Pandu Wijaya
Pandu Wijaya
Lulusan Sarjana Pendidikan Yang Sadar Nggak Bisa Jadi Guru

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI