Waktu Baca: 2 menit

14 Juni 2016, PN Jakarta Utara menyatakan Saipul Jamil  bersalah melanggar pasal 292 KUHP tentang perbuatan cabul. Hukuman 5 tahun penjara ia dapatkan. Tidak cukup dengan kasus itu, rupanya Saipul Jamil tahun 2017 mendapat vonis bersalah atas kasus penyuapan terhadap majelis hakim PN Jakarta Utara. Untuk kasus ini, ia mendapat hukuman 3 tahun penjara. 2 September 2021 yang lalu, Saipul Jamil  bebas murni. Anehnya, ada selebrasi kebebasan Saipul Jamil, seolah persoalan moralitas sudah usai dengan masa tahanan penjara. Di mana akal sehat kita?

Selebrasi kebebasan dilanjutkan melalui layar televisi. Jangan heran dengan Komisi Penyiaran Indonesia. Tak ada pencekalan untuk acara TV yang menayangkan selebrasi kebebasan Saipul Jamil. Soal moralitas, kita tidak bisa banyak berharap pada KPI. Mereka sedang sibuk  membersihkan diri dari kasus pelecehan seksual yang melibatkan 7 pegawainya. Jangankan bicara background Saipul Jamil. Kasus yang mengakar di dalam tubuh KPI saja baru ketahuan 6 tahun kemudian.

Hak Merayakan Kebebasan

Apakah lantas Saipul Jamil tidak boleh bergembira atas selesainya masa tahanan? Oh boleh saja. Kegembiraan itu hak setiap pribadi manusia. Tetapi kalau merayakan kebebasan atas kasus pelecehan seksual dan upaya suap pada penegak hukum, yang bener aja? Persoalan moralitas ini boleh dikata paket combo. Apakah masa tahanan itu pasti mengubah tingkah laku orang? Tampaknya tidak otomatis demikian. Sikap mental selebritis adalah merayakan apapun yang terjadi dalam hidupnya. Kalo perlu, selesainya masa tahanan dijadikan konten.

Tahun 2016 ia menyatakan menyesal atas perbuatannya dalam kasus pelecehan seksual. Namun kita mesti membedakan antara penyesalan karena faktor beratnya proses persidangan dan masa tahanan, dengan penyesalan karena faktor sadar diri bahwa perbuatannya itu salah. Menurut saya sih, yang sedang dirayakan kemarin adalah kelegaan setelah melalui beratnya proses masa tahanan, bukan karena faktor sadar diri atas kesalahannya.

Amnesia Masyarakat Kita

Urusan kasus kekerasan seksual maupun pelecehan seksual, masyarakat kita alhamdulillah sangat pemaaf. Beberapa minggu, atau bahkan beberapa hari kemudian masyarakat kita sudah melupakan kasus-kasus macam itu. Barangkali karena derajat rasa ngerinya lebih rendah ketimbang kita berurusan dengan kasus perampokan atau kasus pembunuhan berencana. Petuah ajaib akan muncul ketika pelaku (yang apalagi adalah selebritis) terlalu banyak dapat hujatan dari netizen. “Namanya juga manusia, selalu ada salah dan dosa. Manusia itu tidak sempurna. Jangan banyak menekan dia, kasihan dia.” Hehe.

Kalau di tahun-tahun berikutnya ia terjerat kasus yang serupa terkait seksualitas, saya sih tidak heran. Proses pembinaan di lapas tak ada kaitan langsung dengan perbaikan atas penyalahgunaan seksualitas.

Akal Sehat Kita

Kesehatan akal para pemuja Saipul Jamil patut kita pertanyakan. Ia diarak dan dielu-elukan bak pahlawan yang keluar dari penjara. Rasanya ini bertolak belakang dengan ungkapan penyesalan Saipul Jamil dalam proses persidangan tahun 2016. Salut pada karya seni tarik suaranya, boleh-boleh saja.  Masyarakat mengharapkan Saipul Jamil kembali mewarnai dunia hiburan Indonesia, boleh-boleh saja. Tetapi ketika kesalahannya kita kesampingkan dan kita abaikan, itu fatal.

Baca juga : Coki Pardede Ternyata Bisa Stress Juga

Hari ini melalui situs change.org, tak kurang dari 150 ribu orang melayangkan petisi pada KPI untuk membina stasiun televisi yang menyiarkan selebrasi kebebasan Saipul Jamil. Meski sekali lagi kita tak bisa berharap banyak pada KPI, tapi setidaknya ini sikap yang baik dari sebagian masyarakat. Kita mesti menempatkan pandangan terhadap pelaku pelecehan seksual secara tepat. Masa hukuman mungkin tidak akan merehabilitasi nama baik pelaku pelecehan seksual.

Selebrasi atas kebebasan Saipul Jamil mestinya mengganggu akal sehat kita. Sekali lagi itu idealnya. Tetapi persoalannya kita hidup dalam masyarakat yang unik, yang seringkali pemikirannya jauh dari ideal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini