Waktu Baca: 2 menit

Masyarakat Indonesia sepertinya sudah sangat familiar dengan fenomena selingkuh dan perselingkuhan. Hal ini bukan lagi menjadi bulan-bulanan masyarakat, namun juga menjadi salah satu penyakit sosial. Banyak sekali pasangan yang terlibat isu perselingkuhan dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Kalau ditelisik lebih jauh, sebenarnya bagaimana sih selingkuh menurut pelaku? Kenapa sampai bisa memutuskan untuk melakukan tindakan ini? 

Melihat Dari Sisi Lain

Selama ini yang banyak dibahas adalah perspektif dari sisi korban. Jarang sekali artikel yang menyorot tentang perspektif sang pelaku perselingkuhan. Tidak heran karena pelaku mendapat stigma negatif. Masyarakat terlanjur menganggap sang pelaku sebagai orang jahat. Namun, jika kita lihat kembali, sebenarnya motif sang pelaku juga bisa bermacam-macam dan belum tentu karena intensi atau maksud yang jelas. Bisa saja, seseorang yang memutuskan untuk selingkuh sebenarnya sedang melarikan diri dari hubungan yang tidak sehat. Selain itu, bisa jadi ada hal lain yang cenderung membuatnya tidak nyaman dengan rutinitas hubungan yang sedang ia jalani.

Eksistensi masyarakat pun menjadi bagian yang cukup besar dalam hal menghakimi sang pelaku. Terlebih, stigma negatif pun biasanya cepat sekali bermunculan sesaat setelah sang pelaku tertangkap basah atau sang korban sudah mengungkap perilakunya. Kalau sudah seperti ini, yang perlu dilakukan hanya menjatuhkan komentar pedas di kolom komentar dengan dalih mendukung korban. Situasi seperti ini tentu sangat toxic karena masyarakat hanya melihat dari satu sisi saja tanpa mempertimbangkan sisi yang lain. Selain itu, ya stigma tentang pelaku perselingkuhan pun sangat akrab dengan sosok jahat karena hal seperti ini. 

Komentar Pedas Yang Tidak Produktif

Tidak berhenti disitu, komentar pedas pun sudah pasti akan terlontar untuk orang ketiga yang mendapat label “merusak hubungan”. Setelah puas melontarkan komentar pedas, netizen pun juga tidak segan untuk mengkotak-kotakkan gender dengan membuat panggilan-panggilan tertentu seperti pelakor (perebut laki orang). Panggilan seperti ini cenderung menyudutkan salah satu gender dimana biasanya yang mendapat title/cap tersebut adalah perempuan.

 

Selingkuh dari Kacamata Pelaku: Ingin Melarikan Diri?

 

Tindakan selingkuh ini memang tidak bisa kita benarkan. Namun juga tidak bisa kita lihat secara terbatas dari satu sisi. Fenomena perselingkuhan terjadi karena kesediaan dan consent (kemauan) dari kedua belah pihak (pihak pertama/kedua dengan pihak ketiga). Tentunya, setiap tindakan pasti ada penyebabnya.

Jika seseorang memutuskan untuk selingkuh, tentu ada sesuatu yang sudah tidak bisa lagi tertolong. Dalam beberapa kasus, kemungkinan seseorang untuk selingkuh karena mengalami tekanan, perasaan tidak mendapat penghargaan, hingga sudah tidak lagi nyaman dengan pasangannya. Hal hal semacam ini justru lebih banyak kita temui dalam kasus perselingkuhan daripada perselingkuhan yang hanya berdasarkan nafsu. 

Apa Solusinya?

Melihat hal ini, satu hal yang menjadi pertanyaan. “Lalu, harus apa?”. Sebagai seseorang yang menjalin hubungan dengan orang lain, tentu kita tidak ingin apabila pasangan kita melakukan tindakan selingkuh. Maka dari itu, penting bagi tiap hubungan untuk melakukan refleksi, baik pada diri sendiri maupun dengan pasangan. Selain itu, hubungan yang sehat adalah hubungan yang mengutamakan komunikasi. Jika refleksi dan komunikasi ini berjalan dengan baik, maka menjalin hubungan pun tidak akan terasa seperti beban. Perasaan tidak nyaman, bosan, dan menyerah pada pasangan pun tidak akan muncul dan memacu kita untuk berselingkuh. Sebaliknya, justru perasaan menghargai, menyayangi, dan nyaman pun akan terus bertumbuh karena kedua belah pihak saling menjaga secara sehat.

Lebih lagi, masyarakat bukanlah pihak ketiga yang harus terlibat dalam penyelesaian masalah dalam hubungan. Mengumbar masalah dan kejelekan seseorang di media sosial bukanlah hal yang keren, apalagi tren yang harus kita ikuti. Jadi, jangan sampai termakan fenomena dan tren ya!

Baca juga :
Toxic Relationship Itu Apa, Apa Kita Mengalaminya?

Bahasa Cinta Pasangan Adalah Kunci Kesuksesan Hubungan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini