Waktu Baca: 4 menit

Mungkin diantara kita dahulu ketika masih menempuh jenjang pendidikan mendengar sistem ranking ini. Saya tidak mengetahui apakah sebagian besar sekolah di era sekarang masih menerapkan sistem lucu ini atau tidak. Namun beberapa kali saya mendapati anak-anak sekarang masih sering mengetahui ranking berapa dia semester ini. Ada yang dengan bangga menyebut ranking 5, 4, 3, 2 bahkan ranking 1 dan ada juga yang tertawa ketika ditanya “ranking berapa di semester I kelas 11 SMA?”. Ternyata jumlah ranking yang dia dapatkan harus dihitung dengan jari satu kampung alias bukan ranking yang baik. Tapi sebenarnya ranking ini adalah hal teraneh dari pendidikan kita. Bahkan kita bisa menyebut sistem ranking kacau. Kok bisa?

Ranking Diharapkan Dapat Menunjukkan Kemampuan Siswa

Sistem ranking harapannya sih buat kita tahu anak kita atau kitanya sendiri sepintar apa sih. Namun tentunya hanya sebatas pintar akademik ya – kalau jamanku dahulu, ranking ini selalu mendapat iming iming hadiah PS 1 yang kemudian seiring munculnya PS 2 maka hadiahnya pun berkembang ke PS 2 –. Dengan adanya pengumuman ranking baik secara individu ataupun diberitahukan ke satu kelas bahkan satu angkatan orang tau yang memiliki anak yang mendapatkan ranking tinggi tentunya akan mendapatkan kepuasan – yang menurutku fana hehehe…. –.

Begitu pula dengan para siswa, yang merasa sangat bangga bisa mendapatkan ranking yang tinggi dan tragisnya, secara tidak sadar kepuasan ini juga hadir karena bisa “mengalahkan” teman-temannya. Rasa puas karena “mengalahkan” teman-teman sekelas atau seangkatannya inilah yang akan menjadikan pendidikan tidak sehat. Sistem ranking kacau malah menyebabkan kompetisi tidak sehat dan tidak mendorong anak anak untuk berkolaborasi.

Tumbuhnya Persaingan di Kelas Sama Saja Mencoreng Pendidikan

Pendidikan adalah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak, kata Ki Hajar Dewantoro seperti itu. Dalam penjelasan bapak pendidikan Indonesia ini kita bisa menggaris bawahi kata “tuntunan”. Iya, tuntunan, sinonimnya adalah bimbingan. Itulah pendidikan kita yang sebenarnya. Memberikan bimbingan atau tuntunan kepada siswa atau mungkin bisa dibilang sesama siswa memiliki kesempatan untuk saling membimbing, bukan bersaing.

Persaingan inilah, yang aku alami sendiri, membuat siswa menjadi terkesan individualis. Beberapa kali ketika bersekolah, aku melihat teman-temanku yang memiliki rasa persaingan, sama sekali tidak mempedulikan temannya yang lain, teman-teman yang kurang bisa memahami pelajaran dengan baik. Hal ini bisa kita bilang menjadi dampak buruk bagi siswa itu sendiri, yang seharusnya mendapat bimbingan menuju kekedewasaan dan berkembang sikap sosialnya.

Ia justru malah memancing permusuhan. Kemudian ia mendapat kebencian oleh teman-temannya yang merasa orang itu sangat individualis, dan tentunya, akan menjadi bahan ghibahan ketika teman-teman sedang berkumpul, atau jika terjadi sekarang mungkin dibentuk WhatsApp Group tanpa dirinya. Benar benar sistem ranking kacau untuk kesehatan pergaulan. Hahaha….

Pada Akhirnya Pendidikan Hanya Akan Berorientasi Pada Total Nilai

Kita pastinya sudah tahu dong penentuan ranking ini seperti apa. Penentuan sistem ranking di kelas adalah akumulasi dari semua nilai yang mata pelajaran yang tersedia. Nilai IPA kita tambahkan dengan nilai IPS. Lalu masih kita tambah lagi dengan nilai Bahasa Indonesia. Kemudian kita tambah lagi nilai Matematika dan seterusnya, dan bimsalabim bak sulap kita seakan-akan menemukan siswa terpintar sedunia di sebuah topi.

Orientasi pada total inilah yang akan membuat siswa – atau mungkin kita dahulu – akhirnya dipaksa untuk mempelajari semua hal. Baik bahasa, ilmu sosial, alam dan matematika. Mata pendidikan yang selalu melihat ke total nilai ini akan membuat siswa tidak berkembang sepenuhnya. Pemaksaan memahami semua mata pelajaran akan menghapuskan keunikan siswa sepenuhnya. Siswa tentunya memiliki ciri khasnya sendiri, ciri khas atas kelebihannya pada suatu mata pelajaran.

Meminta Siswa Mempelajari Semua Mata Pelajaran Sebenarnya Tidak Masalah. Tapi…

Apakah dengan apa yang kita baca di atas berarti siswa jangan belajar semua mata pelajaran? Sepertinya sah-sah saja, ya, setidaknya menurutku – mungkin kalau kalian punya pendapat lain bisa komen di bawah atau bisa juga ikut bikin artikel di pakbob. Hehehe…. –. Namun, ada yang harus kita ubah pada konsep memberikan semua pelajaran. Nah pengubahan konsepnya seperti apa? Sebenarnya sangat sederhana lho tapi kok ya pendidikan kita nggak sadar-sadar. Konsep yang saya maksud adalah siswa mempelajari semua mata pelajaran bukanlah agar siswa mendapatkan nilai baik di semua pelajaran tapi adalah proses pengerucutan minat dan kemampuan siswa.

Nah, melalui proses siswa mempelajari semua mata pelajaran inilah kita bisa melihat potensi dari siswa. Apakah si “A” jago di IPS? Apakah si “B” jago di IPA dan Matematika? Dan ternyata si “C” adalah juaranya kesenian dan bahasa. Membantu siswa menemukan apa yang menjadi minat dan kemampuan adalah tugas dari guru. Tugas guru bukanlah memaksa siswa memahami semua mata pelajaran. Memahami diri sendiri, kemampuan dan minat, adalah sebuah hal yang sangat menyusahkan di era sekarang, jangan sampai anak-anak akan mengalaminya di kemudian hari.

Sistem Ranking Lebih Baik Jangan Ada

Menilik dengan bencana-bencana yang lahir karena sistem ranking, maka sebaiknya sistem ranking ini lebih baik kita hapus. Bila ingin tetap menggunakan sistem ini, maka biarlah menjadi dokumen sekolah saja dan tidak mempengaruhi sudut pandang guru terhadap siswa.

Lalu kalau kita tiadakan sistemnya, apa penggantinya? Sistem ranking bila kita ganti maka bisa kita ubah menggunakan sistem pembelajaran kooperatif. Siswa bisa saja kita ubah dari saling bersaing menjadi saling membantu. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, siswa bisa saja ikut membimbing sesama siswa agar pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara tercipta. Siswa akan membimbing temannya sesuai dengan caranya. Mungkin akan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan perspektif orang dewasa mengenai sebuah bimbingan yang ideal, namun tidak ada cara membimbing yang ideal bila tidak ada latihan terlebih dahulu. Bukankah guru juga berproses untuk berlatih membimbing siswanya? Maka siswa pun begitu.

Dengan adanya sistem yang kooperatif, mungkin saja siswa bukan hanya belajar mengenai ilmu pengetahuan sosial tapi juga praktek untuk bersosial. Selama ini kita hanya belajar contoh-contoh kepekaan seperti “membantu nenek nenek menyeberang jalan” namun tidak sungguh-sungguh menjadi praktek di dunia nyata.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here