Waktu Baca: 3 menit

Street Photography atau dalam Bahasa Indonesia bisa juga disebut dengan fotografi jalanan adalah salah satu cabang fotografi yang paling lumrah dan mudah dilakukan. Tak perlu sebuah lensa mahal bahkan kamera mahal. Fotografi jalanan bisa dilakukan dengan telepon pintar sekalipun.

Sisi Lain Kota
Street Photography
Gambar oleh Matthew Henry

Bila kita melihat tagar #streetphotography di Instagram maka kita bisa melihat sisi lain dari sebuah kota yang selama ini mungkin luput terlihat oleh mata kita. Bisa saja kita bertanya-tanya apakah memang kota yang kita jepret sama estetiknya dengan hasil penglihatan sang fotografer? Ataukah memang fotografernya yang jenius sehingga bisa melihat dan menciptakan sebuah sudut pandang lain mengenai kota dan jalanan?

Di Indonesia sendiri ada tagar serta akun instagram yang dibuat untuk mengakomodir para fotografer jalanan agar karyanya dapat tersebar dengan luas. Sebut saja akun @streetphotographyindonesia dan @streetmoment yang merupakan komunitas bikinan orang Indonesia. Bila kita melirik akun-akun tersebut maka kita akan melihat sebuah “Indonesia yang lain” yang dibangun melalui diafragma, ISO, dan shutterspeed.

Bicara Soal Alami

Dalam Street photography atau fotografi jalanan kita memerlukan sebuah keahlian dalam merangkai cerita serta komposisi di sebuah lingkungan yang tidak boleh kita kontrol situasinya. Tidak boleh mengontrol situasi? Ya, itulah esensi dari fotografi jalanan, sebuah candid. Kita tidak bisa seenaknya meminta orang untuk diam untuk kita foto atau justru berpose sedemikan rupa. Kita perlu untuk bersabar menunggu momen selagi melakukan proses kreatif dalam otak kita.

Sebentar, kalau candid bagaimana dengan privasi orang yang kita foto? Hahaha… Kalau pernyataan ini keluar dari benak kalian, maka kalian bukan satu-satunya. Bahkan pada awalnya aku sendiri pernah mempertanyakan hal tersebut.

Memang kemauan untuk menjadi bagian dari foto atau tidak adalah privasi dari seseorang. Kita tidak bisa memaksa orang tersebut untuk mau masuk dalam frame. Inilah yang menarik dalam fotografi jalanan. Kemampuan kita berkomunikasi pasca menekan tombol rana kamera, pasca menghasilkan sebuah foto, ada kemungkinan orang yang merasa kita foto tidak nyaman dan meminta menghapus foto itu. Saat inilah kita menghargai privasi mereka, sebagus apapun foto yang sudah kita buat, bila yang kebetulan masuk ke dalam frame kita tidak mau kita foto maka dengan berbesar hati kita harus menghapus foto tersebut. Memang terdengar sayang, tapi kita harus kembali berproses untuk menghasilkan foto yang indah kembali.

Tidak Hanya Soal Privasi

Selain menghargai privasi orang, menurut saya sendiri seni dari fotografi jalanan adalah seni berbicara. Seni berkomunikasi. Kok bisa? Dalam proses melakukan fotografi jalanan, saya pribadi sering mendapat ajakan untuk mengobrol dengan berbagai pribadi. Banyak yang bertanya “fotonya buat apa?” atau “dari harian apa ya?” bahkan saya sendiri pernah dikira Satgas COV-19 yang sedang mendokumentasikan pelaksanaan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan). Adapula seseorang yang tiba-tiba menyodori saya KTPnya agar dia ikut masuk dalam harian 🙂

Ya… Menurutku fotografi jalanan ini memang menyenangkan. Selain kita mengasah kreatifitas kita, kita juga berkesempatan untuk mengobrol dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Mengobrol dengan pedagang, dengan orang yang sedang menyebrang, polisi, tukang bersih-bersih, dan lain sebagainya. Menyenangkan bukan?

Fotografi jalanan dapat juga menjadi sebuah cara agar kita, terkhususnya aku, membuang rasa penat. Membuang rasa lelah. Dengan melihat orang-orang, melihat pohon melihat bangunan, melihat pagar, melihat segalanya yang ada di sekitar kita, kemudian menekan tombol rana kamera. Cekreeekk…. Sebuah seni sudah tercipta.

Sebuah seni adalah rasa. Sebuah foto mewakili sebuah perasaan. Dengan fotografi jalanan kita bisa mengolah rasa kita dan mengajak orang-orang melihat kota yang terbangun dalam kreatifitas dan lensa kamera serta hati kita.

Baca juga :

Seni Mural Adalah Media Kritik Sosial, Jangan Overthinking!

Kain Polkadot dan Teman Thrifty

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here