Waktu Baca: 2 menit

Beberapa waktu belakangan ini muncu varian Mu. Sebuah varian terbaru dari virus Covid 19. Setiap kali muncul varian baru juga berkaitan dengan erat kekhawatiran di masyarakat luas. Bagaimana tidak? Virus corona telah membuat banyak orang di dunia ini kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Lantas bagaimanakah kita dalam menghadapi varian baru ini? Mari kita simak bersama-sama penjelasan dari ahlinya.

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM dr. Gunadi, Sp.BA., Ph.D., mengatakan varian Mu atau B1621sebagai penyebab covid-19 tidak lebih ganas dengan varian delta karena Organisasi Kesehatan Dunia sudah menyebutkan varian Mu sebagai kategori variant of Interest (VoI) atau yang perlu mendapat perhatian. Dibandingkan dengan varian Delta yang masuk kategori Variant of Concern (VoC) atau yang perlu diwaspadai. Meskipun varian baru ini belum terdeteksi di Indonesia, menurutnya perlu diantisipsi pasalnya varian Mu diketahui menyebabkan penurunan kadar antibodi baik karena infeksi ataupun vaksinasi.”Hasil riset awal menunjukkan varian Mu menyebabkan penurunan kadar antibodi netralisasi baik karena infeksi alamiah maupun vaksinasi, serupa dengan varian Beta. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut,” kata Gunadi, Selasa(7/9).

Baca juga : Ivermectin Obat Apa? Ampuhkah Melawan Corona?

Gunadi menyebutkan hingga saat ini varian baru virus corona penyebab covid-19 yakni B.1.621 atau varian Mu ini belum terdeteksi di Indonesia namun perlu pengetataan pintu masuk ke Indonesia agar tidak sampai menyebar luas seperti varian delta sebelumnya. Namun soal tingkat keganasannya, Gunadi berkeyakinan varian ini tidak seganas varian delta.”Karena Delta kategori VoC levelnya tentunya di atas Mu yang kategori VoI,” paparnya.

Menurutnya virus covid-19 terus bermutasi dengan memunculkan varina-varian baru yang memiliki tingkat keganasan dan keparahan yang berbeda apabila terinfeksi. Namun demikian bagi mereka yang sudah pernah terpapar covid-19 atau pun yang sudah mendapat vaksin sudah memiliki kekebalan alami. “Kekebalan alami yg ditimbulkan oleh infeksi alamiah pasti ada, tapi seberapa besar bisa melindungi dari risiko terinfeksi varian lain diperlukan riset lebih lanjut,”tegasnya.

Kekebalan alami yang sudah terinfeksi walau belum vaksin menurutnya sama halnya mengukur mengukur efektivitas vaksin terhadap suatu varian dengan melakukan riset terlebih dahulu. Namun antisipasi tetap diperlukan dengan melaksankan protokol kesehatan secara ketat dan  percepatan program vaksinasi.

Baca juga : Kebijakan Corona Tanpa Komunikasi? Ini Daftarnya!

Meski demikian, bagi mereka yang sudah vaksin menurtnya mammpu meminimalkan tingkat keparahan apabila terpapar virus covid-19 dnegan berbagai varian yang ada. “Vaksin mencegah keparahan,” katanya.

Kemunculan varian MU tidak perlu kita tanggapi secara berlebihan. Yang tetap harus kita lakukan adalah tetap mematuhi protokol kesehatan di manapun berada. Ikuti pula program vaksin yang sedang digelar oleh pemerintah. Kunci dalam menghadapi pandemi berada pada diri kita sendiri masing-masing. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini