Waktu Baca: 2 menit

Pernah gak sih kalian punya jadwal yang padat banget selama seminggu, terus bingung mau mulai kerjain darimana? Nah, terus kalian mulai inisiatif nih susun jadwal sampai penuh dan padat. Pokoknya seharian harus produktif! Ehhh tapi ujung-ujungnya malah cuma rebahan dan males-malesan di kasur karena udah terlanjur capek liat jadwal yang beruntun. Duhh, kok bisa gitu ya? Yuk, kita cari tau!

Mengenal Toxic Productivity

Beberapa dari kalian mungkin masih kesulitan untuk mengatur jadwal dan manajemen waktumu masih kacau. Bagi sebagian orang yang mempunyai pekerjaan tetap dan harus bekerja selama jam kerja tertentu, tentu penting untuk mengatur jadwal dan aktivitas di luar pekerjaan yang kadang bisa mengganggu produktivitas. Namun, karena penerapan Working from Home yang masih berlaku di beberapa perusahaan, banyak dari para pekerja yang akhirnya kehilangan produktivitasnya saat bekerja. Hal ini bisa saja karena menurunnya antusias pada hal yang dikerjakan. Bisa juga karena para pekerja tersebut terkena syndrom toxic productivity. Apa sih Toxic Productivity itu?

Toxic Productivity merupakan kondisi saat kita memaksa tubuh dan pikiran agar tetap bekerja tanpa memikirkan batas kemampuan masing-masing. Lebih lagi, toxic productivity juga bisa berarti pura-pura menjadi produktif karena hanya ingin terlihat produktif dimata orang lain. Terkait toxic productivity ini, ternyata banyak kalangan milenial yang terjebak didalamnya. Embel-embel produktif dengan dalih jadwal yang padat menjadi salah satu pemicu terjadinya toxic positivity. Apabila semakin banyak jumlah tanggung jawab pekerjaan, maka seharusnya jadwal harian pun akan menyesuaikan dengan sendirinya. Tetapi bukan sebaliknya dengan membuat banyak jadwal agar terlihat produktif. 

Siapa yang kena Toxic Productivity?

Ternyata, toxic productivity ini tidak hanya menyerang kalangan milenial, melainkan juga orang yang sudah bekerja dan mempunyai pekerjaan tetap. Seringkali kita hanya terobsesi untuk membuat dan menyusun jadwal tanpa memikirkan konsekuensi atau batas kemampuan tubuh kita masing-masing. Hal ini nantinya hanya akan membuat pekerjaan yang sudah dijadwalkan untuk selesai dalam satu hari, menjadi tertunda dan akhirnya menumpuk di hari selanjutnya. Kebiasaan yang terus menerus seperti ini tentunya akan membuat badan kita letih. Selain itu, Toxic Productivity juga membuat kita tidak akan tenang karena target pekerjaannya selalu bertambah setiap harinya. Nah, sebaiknya kamu waspadai gejala Toxic Productivity.

Tips Cegah Toxic Productivity

Untuk menghindari toxic productivity, sebenarnya ada beberapa tips dan cara nih! Yang pertama, pastikan kamu menyusun jadwal dan kesibukanmu sesuai dengan timeline kalendar harian. Hal ini nantinya akan memudahkan kamu untuk menyelesaikan target dan juga sekaligus sebagai pengingat untuk berbagai deadline pekerjaan. Tips yang kedua, jangan bebankan diri kamu untuk terus-terusan bekerja! Percaya gak percaya, bekerja 24 jam non-stop bukanlah suatu hal yang produktif, yang ada malah kamu memforsir kapasitas tubuhmu dan bisa menyebabkan kelelahan dan sakit. Sebaiknya, buatlah skala prioritas untuk memilah kegiatan/pekerjaan dengan urutan. Mana pekerjaan yang harus menjadi prioritas penyelesaian, yang tidak butuh banyak waktu untuk menyelesaikan. Mana pekerjaan yang masih bisa kamu kerjakan di lain waktu, seperti mencuci piring atau menyapu halaman. Dengan membuat skala prioritas, nantinya alur pekerjaanmu akan terasa lebih nyaman dan tidak terburu-buru.

Tips terakhir adalah dengan mengenal batas/kemampuan diri sendiri sebelum melakukan ketiga tips di atas! Hal ini sangat penting karena eksekusi tidak akan berjalan dengan baik apabila kita tidak mempunyai energi atau tenaga yang cukup. Pastikan kuantitas kerjaan yang kamu lakukan tiap harinya itu sesuai dengan porsi tubuhmu dan tingkat produktivitasmu! Jadi, gaakan ada lagi deh yang namanya nunda pekerjaan! Buat kamu yang mau coba produktif, ayo waspadai gejala Toxic Productivity ya!

Baca juga : Bergulat dengan Quarter Life Crisis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here