Waktu Baca: 3 menit

Ada masa dimana makan ayam goreng itu ya Yogya Chicken alias Jogchick. Untuk tempat yang paling spesial tentunya cabang Yogya Chicken Pelem Kecut. Konon, tempat ini paling ramai. Dahulu saya dan teman teman saya sering bersantap di sini setiap ada yang ulang tahunnya. Dengan harga di kisaran sepuluh ribuan, memang tempat inilah yang paling pas untuk kantong siswa SMA kelas menengah.

Dengan berlalunya waktu, Yogya Chicken sempat diisukan bakal bangkrut. Ah masa kata saya. Sayapun iseng pengen mampir di Yogya Chicken Pelem Kecut untuk membuktikan hal itu tidak benar adanya. Hasilnya, Yogya Chicken Pelem Kecut masih berdiri tegak seperti belasan tahun yang lalu. Namun, bukan berarti tak ada yang berubah.

Yogya Chicken Yang Muram

Yogya Chicken Pelem Kecut

Ketika saya tiba di sana, terbesit komentar teman saya yang mengatakan bahwa Yogya Chicken kini muram. Tampak bahwa perabotan dan juga berbagai furniture terlihat dari jaman lampau. Boleh saya katakan, Yogya Chicken memang jarang berubah. Logonya, tampilan kemasannya dan bentuk menunya ya masih sama seperti belasan tahun lalu. Namun, kini ada beberapa penambahan menu seperti ayam geprek misalnya.

“Tapi mereka tuh telat,” kata teman saya. “Pas era ayam geprek mereka tidak all out melompat ke pasar ini. Hasilnya ya sekarang ketinggalan. Wong era ayam geprek saja sudah mau lewat.”

Benar juga kata saya.

Teman saya menyiratkan kekecewaan karena menurutnya brand Yogya Chicken itu sangat kuat di Yogyakarta. Namun kok sekarang malah tepar begini. Ya enggak sampai jatuh tapi terlihat lemah ketika melawan Olive Chicken saingannya.

Menurut teman saya, owner dari Jogchick kurang all out dalam menghadapi persaingan.

Strategi Cabang Yang Lemah

Kalau berbicara Yogya Chicken, kayaknya memang ada yang salah dengan strategi franchisenya. Kalau kita melihat saingan seperti Rocket Chicken dan Olive, mereka seolah terlihat berada dimana mana. Sementara itu Yogya Chicken kadang tak tampak jelas eksistensinya. Makanya, saya sendiri tahunya Yogya Chicken ya Yogya Chicken Pelem Kecut. Balik ke ingatan saya yang dulu, ada Jogchick yang berada di sekitar bundaran UGM. Namun saya meragukan eksistensi dari restoran tersebut di masa kini.

Yogya Chicken Pelem Kecut

Kalau mau jujur, strategi penempatan cabang ini untuk ayam goreng sangatlah vital. Soal produk, ayam goreng tepung itu mirip mirip. Yang paling penting adalah bagaimana orang ingat dan mengasosiasikan ayam goreng dengan merk tertentu. Nah, penempatan lokasi cabang di tempat mencolok dan strategis adalah hal penting agar merkmu mudah terkenal.

Kalau untuk saat ini, sejujurnya Olive Chicken paling berjaya. Setelah itu, Rocket Chicken menyusul di belakangnya dalam masalah menempatkan merknya dalam top of mind warga Yogyakarta. Sementara itu Yogya Chicken masih tertinggal

Penggunaan Media Sosial Kurang Efektif

Kalau melihat soal branding dan pemanfaatan media sosial, saya kira Yogya Chicken masih jauh dari kata berhasil. Yang saya rasakan adalah strategi media sosial Yogya Chicken kurang jelas. Values apa yang mau dijual oleh Yogya Chicken? Apakah keotentikan rasa Jogja? Saya kira enggak karena ayam goreng tepung itu emang makanan impor. Apakah murahnya harga? Saya kira juga enggak karena Yogya Chicken memiliki harga sebelas dua belas dengan saingannya. Atau soal rasa paling enak? Saya kira juga enggak, karena namanya saja ayam goreng tepung gitu lhoh. Persaingannya agak terlalu tipis tipis.

Kalau saya jujur, values terbesar Yogya Chicken sekarang adalah nilai nostalgianya. Banyak siswa dan mahasiswa era 2000an yang menikmati berbagai kenangan dan makanan di Yogya Chicken.Yogya Chicken adalah cinta dan pengalaman klasik bagi banyak orang. Kenapa tidak Yogya Chicken mulai bangkit dari values itu? Selanjutnya untuk memenangkan persaingan adalah menjawab pekerjaan rumah bagaimana menyajikan bumbu yang lebih kuat, varian sambal dan seterusnya. Niscaya Yogya Chicken akan kembali bangkit.

Sebelum Meninggalkan Yogya Chicken Pelem Kecut

Setelah menghabiskan makanan. Saya dan teman saya memutuskan untuk nongkrong nongkrong sejenak. Di situ, kami menyempatkan ngobrol ringan dan mengamati orang sekitar. Kami melihat satu-dua pelanggan datang silih berganti.

“Yogya Chicken memang tak sejaya dulu, tapi aku rasa masih bisa bangkit. Lihat ruangan restoran ini, meski muram masih ada sisa sisa rasa kejayaaan jaman dulu. Kalau ditata dengan benar, kita bakal mendapatkan rasa vintage dari tempat ini.”

Ah, saya setuju sekali. Saya kepengennya Yogya Chicken bertahan sampai sepuluh, dua puluh tahun lagi bahkan hingga saya bisa makan di sini bersama anak istri.

Baca juga :
Kuliner Babi Jagalan Surakarta : Variatif dan Enak

Tong Tjiu Phia Nyonya Bie Hoen Magelang : Sejarah Tersembunyi Pia

Es Jaipong Kota Baru, Siap Segarkan Harimu

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here