Waktu Baca: 3 menit

Di kesempatan kali ini, marketing S3 akan membahas mengenai bagaimana ‘bad marketing’ is a good marketing. Aneh ya? Tentu tidak jika kita melihat dari kaca mata yang berbeda. Bad marketing dalam hal ini dan good marketing dalam satu kalimat itu memiliki konteks yang berbeda. Ya, bad marketing yang saya bicarakan adalah sebuah kabar negatif atau citra yang kurang baik, tapi hal itu bisa ditransformasikan menjadi efek positif pada penjualan suatu barang/ orang. Kok bisa? Ya bisa saja, karena kabar buruk itu mengundang rasa ingin tahu seseorang.

Pernah gak kamu mendengar seseorang yang memiliki imej sangat buruk. Kata orang semua hal tentang dia itu negatif. Pas mendengar hal itu, kamu malah jadi pengen membuktikan sendiri bagaimana sebenarnya karakter orang itu. Akhirnya kamu menjadi kepo dengan orang itu dan akhirnya mengenal orang itu secara pribadi. Sampai sampai kamu tiba di titik, ah orang itu ternyata gak seburuk yang digambarkan teman teman. Eh ndilalah kamu malah jadi teman baiknya. Gila yah?

‘Bad Marketing’ dan Rasa Ingin Tahu

Bad Marketing

Ketika itu orang bingung dengan kaleng kaleng yang berserakan di penjuru kota London. Kaleng apaan sih ini? Begitu pikir mereka. Setelah mereka lihat lihat, mereka melihat dua ekor lembu merah yang seperti sedang berkelahi. Tak pernah mereka melihat dua lembu itu sebelumnya. Akhirnya mereka semakin penasaran. Sebab, kaleng itu beneran mudah untuk mereka temukan. Sampai akhirnya mereka pergi ke bar bar dan menemukan kaleng itu di kulkas. Kali ini mereka menemukannya sebagai red bull atau dalam Bahasa Thai Kratingdaeng.

Di situlah awal mula Kratingdaeng menemukan kejayaan dalam penjualan minuman berenergi. Saat ini, Red Bull menguasai 43 persen pasar minuman berenergi.

Lalu, siapa yang membuang kaleng kaleng itu? Tak lain dan tak bukan adalah perusahaan pemilik Red Bull itu sendiri. Mereka sengaja membuang kaleng kaleng itu agar orang mengenal Red Bull dari tong sampah. Ya, mereka jadi penasaran dan akhirnya membeli minuman itu. Inilah kekuatan ‘bad marketing’, rasa ingin tahu.

Saat banyak berita negatif ekstrim tentang sesuatu, orang malah jadi penasaran untuk mengetahui kebenarannya.

‘Bad Marketing’ Menurunkan Ekspetasi (Sampai Titik Terendah)

Salah satu keunggulan ‘Bad Marketing’ adalah menurunkan ekspetasi orang sampai ke titik terendah. Banyak cacian ke Young Lex dan itu cukup membuat orang penasaran untuk menilik di Youtubenya. Mereka berharap melihat rapper yang super parah penampilannya hingga ke titik layak hujat dan menjadi bahan bully. Tapi ternyata Young Lex tidak separah itu. Ia bisa nge-rap juga kok walau tidak sampai tahap super bagus. Hal ini malah membuat orang menjadi ‘suka’ dengannya dan mulai mendengarkan dia. Tak terasa followersnya naik terus.

Hal yang sama terjadi dengan Lion Air. Ya, maskapai ini mempunyai pemberitaan yang sangat negatif. Namun orang malah penasaran dengan maskapai ini. Setelah mereka menumpang pesawat Lion Air, mereka menemukan bahwa hei, maskapai ini tidak seburuk yang digambarkan. Jika kamu takut delay berkepanjangan, kamu bisa menaiki jadwal paling pagi dari pesawat ini. Harga tiketnya murah dan bagasinya cukup lega. Gak jelek he?

Bukan Tanpa Resiko

‘Bad Marketing’ bisa menjadi strategi yang jitu bagi orang yang lihai menggunakannya. Namun di sisi lain, Bad Marketing bisa membunuh usahamu juga. Kebanyakan kasus Bad Marketing yang menjadi Good Marketing adalah hasil dari keberuntungan. Namun, ada juga yang sengaja mereka buat. Bagaimanapun juga fenomena ini memberikan kita pelajaran bahwa selalu ada peluang di setiap kemalangan.

Baca juga :

Humam Rosyid, Bukti Bahwa Bisnis Gak Perlu Ribet!

Mau Memulai Bisnis Makanan? Riset Dulu Pak!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini