Waktu Baca: 2 menit

Cacha, teman saya yang sedang menempuh program master di Jogja kemarin mengeluh suntuk. Untuk orang yang introvert, ngumpul dengan teman-teman bukanlah cara refreshing yang efektif. Malah bisa jadi tambah capek. Saya menyarankan Cacha untuk coba staycation di cabin house. Kebetulan saya punya cabin house di tengah sawah yang menghadap ke gunung Merapi, dan dia mau tinggal di situ untuk 2 hari. Barangkali kalo kamu punya situasi yang sama dengan Cacha, kamu bisa coba staycation untuk rekreasi di cabin house.

Konsep Cabin house

Di Indonesia konsep berlibur di cabin house itu belum jadi hal lumrah. Tetapi kalo di eropa dan amerika utara, liburan ke cabin house sudah jadi pilihan masyarakat. Cabin house itu kalo di Indonesia tak ubahnya seperti gubuk ndeso. Lokasinya jauh dari pemukiman penduduk; bisa di hutan, di tepi sungai, atau di pinggir pantai. Meski ndeso, tetapi fasilitas dasar tetap ada : perapian / dapur, kamar mandi, ruang kerja, dan ruang keluarga. Nah, soal ketersediaan listrik dan gas, bisa ada, bisa juga tidak. Ukuran cabin house itu kecil-kecil saja. Yang penting bisa untuk tinggal 2 atau 3 orang.

Kalo di luar negeri, cabin house itu jadi properti milik pribadi. Ada pula yang disewakan. Meski disewakan, kondisinya tetap layak pakai dan tanpa pengawasan intensif dari pemiliknya. Cara pakainya berbeda dengan sewa villa di kawasan wisata. Kalo Villa kita menikmati liburan dalam kemewahan, tetapi kalo di cabin house, kita menikmati liburan dalam kesederhanaan.

baca juga : Adonara, Surga Tersembunyi di NTT

Bekerja sambil berlibur

Orang pergi ke cabin house tidak melulu berlibur. Ada pula yang tetap membawa berkas pekerjaannya ke cabin house. Pergi ke cabin house tidak berarti kita putus kontak secara total dengan dunia keseharian kita. Hanya saja, kita menyegarkan pikiran kita dengan tinggal sejenak di tempat yang sederhana, jauh dari keramaian.

Ngapain di cabin house? Sebetulnya ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. Mau menyelesaikan pekerjaan secara online juga bisa. Tetap mengerjakan skripsi atau tesis juga bisa. Itulah makanya tadi saya mengusulkan pada Cacha untuk ke cabin house. Selain untuk nenepi, dia juga bisa tetap produktif dengan suasana yang baru. Kalo pun kita mau meninggalkan pekerjaan sejenak, itu juga oke. Hal mendasar yang kita lakukan di cabin house adalah mengurus segala kebutuhan kita secara mandiri, dengan cara-cara yang tradisional. Pada cabin house yang masih sederhana, untuk memasak air kita perlu menyalakan perapian dengan kayu bakar. Nah, ini butuh waktu dan kesabaran juga. Di luar cabin house, kita juga bisa menikmati alam dengan tracking, memancing, atau memanggang daging. Yang jelas, tidak untuk main game atau scrolling media sosial.

Pengalaman Pengguna

Fungsi cabin house adalah untuk menyegarkan jiwa kita. Bayangkan, bangun di pagi hari kita buka jendela kamar dan melihat pemandangan sawah yang hijau atau deburan ombak. Kita juga bisa menikmati kicauan burung yang liar, yang ini tidak ada di kota. Di dalam cabin house, timeline hidup kita seolah jadi lebih lambat. Misalnya, yang biasanya masak mie instant bisa dalam waktu 10 menit, ini bisa satu jam karena perlu menyiapkan perapian. Suasana cabin house juga sepi. Ini cocok banget untuk kamu yang punya jiwa introvert dan tidak suka keramaian. Kamu bisa charge energi hidupmu dengan maksimal.  Tetapi kalo kamu merasa aktivitas macam itu menyebalkan, berarti kamu tidak cocok untuk tinggal di cabin house.

Soal biaya, rata-rata tinggal di cabin house butuh kocek 100-200 ribu per malam. Makin lengkap fasilitasnya, makin mahal pula biayanya. Kalo kamu punya tabungan cukup pun, mending bikin cabin house sendiri di tengah hutan. Sewaktu-waktu cabin house bisa kamu manfaatkan untuk rekreasi ketika kamu suntuk di rumah.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini