Waktu Baca: 2 menit

Kalo ada orang kecelakaan di jalan, publik lebih gampang mengeluarkan handphone dari saku ketimbang mengulurkan tangan untuk menolong. Menonton memang lebih gampang ketimbang menolong. Bukan hanya kecelakaan, tapi hal-hal terjadi di jalanan tampak lebih menarik untuk didokumentasikan ketimbang diselesaikan. Dalam bahasa saya, ini adalah content first, sebuah laku hidup yang nir empati.

Content first, ketika kita lebih spontan berpikir soal bahan unggahan konten di media sosial kita. Kalo bisa, kita menjadi satu-satunya pemilik video yang otentik. Kalo bisa juga, kita jadi pihak yang paling pertama posting berita jalanan itu. Dalam perspektif psikologi, setiap tindakan seseorang umumnya didasari oleh motivasi tertentu. Ada beberapa kemungkinan motivasi yang melandasi content first. Selain Fear of Missing Out alias FOMO, bisa juga karena keinginan untuk mendapat pengakuan atas eksistensinya. Banyak orang yang berpikir bahwa ukuran eksistensi kita adalah aktivitas di media sosial, kualitas konten yang dihasilkan, dan seberapa banyak orang yang follow atau like konten kita. Bicara kualitas, ternyata bukan soal bobot makna atau aspek edukatif kontennya, tetapi kecepatan merespon terhadap peristiwa aktual.

Lepasnya sisi manusiawi

Media sosial memang mengandalkan aktivitas manusia. Sejauh ini belum ada burung perkutut yang bermain medsos. Mereka hanya jadi simbol twitter saja. Nah, meski media sosial melibatkan aktivitas manusia, tapi tidak banyak sifat humanis di situ. Demi mengejar konten, orang dengan entengnya melepas sisi kemanusiaan. Bahkan bisa juga, rasa kemanusiaan jadi tunggangan untuk bahan konten. Tangan kiri mengulurkan bantuan ke orang miskin, tangan kanan pegang HP untuk selfie, itu buktinya.

Menolong demi mendapatkan apresiasi

Saat menolong orang miskin, ada beda rasa antara foto selfie untuk laporan kegiatan lembaga dan foto selfie untuk konten media sosial. Letak kepuasannya jelas berbeda. Yang satu puas karena dapat ucapan terima kasih dari donatur dan juragan yayasan, yang satunya puas karena dapat like and comment yang banyak dari netizen. Kalo sebuah yayasan atau komunitas amal dapat apresiasi dari masyarakat karena menolong orang miskin, itu wajar. Tujuan lembaga amal itu memang untuk tindakan karitatif. Kalo tidak ada bukti aksi amal, malah dipertanyakan peran lembaga itu. Tapi kalo kita secara personal beramal dan puas karena dapat pujian dari orang lain, itu namanya nir empati. Sasarannya bukan help first, tetapi content first.

Memaksa menolong orang

Saya malah merasa miris ketika melihat aksi youtuber atau selebgram yang ‘memaksa’ menolong orang miskin. Namanya juga orang miskin, bukankah mereka juga sama seperti kita? Sama-sama manusia. Kita punya hak untuk menerima sekaligus menolak bantuan orang lain. Celakanya, di hadapan lensa kamera orang yang menolak bantuan orang lain lantas tampak keras kepala dan bodoh. “Loh, dapat bantuan gratis kok nggak mau, sih?” Itu pikiran yang muncul pada netizen. “Ini yang membantu youtuber terkenal lho, masak nggak kenal sih?” Kesan ini muncul kuat ketika kang Dedi Mulyadi mendapat penolakan dari seorang ibu yang mertuanya akan mendapat sumbangan dari kang Dedi.

Padahal kalo kita pikir, siapa sih yang mewajibkan kita mengenal dan mengingat satu persatu orang yang muncul di layar TV atau yang bertengger di trending topic? Miris lagi ketika youtuber dan selebgram tampak keren ketika berhasil membujuk orang miskin untuk bersedia menerima bantuan sembari mendapat sorotan kamera, Itu jelas content first, dan sakit.

Jangan-jangan, kita pernah menjadi pelaku nir empati lewat content first?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini