Waktu Baca: 3 menit

Bertemu dengan Eddy si pengelola Mata Kopian ini berarti harus siap siap dagu sakit. Sakitnya karena kita ketawa terus. Eddy adalah seorang dokter, tapi ia mengakui kalau jiwanya itu ya jiwa dagang. Lha gimana engga? Dari kecil hobinya mengamati orang tuanya berdagang. Mengamati itu sambil membantu nggak ya by the way? He..he..

Gimanapun juga, kebiasaan suka mengamati pria yang juga berprofesi sebagai dokter ini berguna untuk memajukan usahanya. Konon kebiasaannya ini membuatnya berhasil menyulap usaha toko roti kuno milik orang tuanya menjadi café dan bakery kekinian. Ya, cerita punya cerita, jumlah pengunjung naik sampai 400 persen! Wak waw.

Dari Suka Kelewatan Rumah Sendiri

Ini kocak sih, Eddy sering ‘kelewatan’ dengan rumahnya sendiri. Ya, secara teknis nggak tersesat juga. Ia juga hapal rumahnya kan dimana. Tapi dia tuh sering gak sadar pas lewat depan rumahnya. Ya, dia kan masuknya lewat pintu belakang. Gimanapun hal ini mengusik Eddy.

“Gimana yah, kalau lewat tuh suka ngerasa ini gak keliatan kayak toko roti gitu lhoh,” kata Eddy.

Hal ini membuat otak kreatif Eddy mikir untuk merubah toko roti kunonya.

Nekad Aja

Mata Kopian

Berbekal pengetahuan akan kenalannya dengan designer interior, ia memutuskan untuk membeli desain untuk toko rotinya.

“Aku beli aja pokoknya, semeter seratus ribu rupiah,” kata Eddy.

“Lha kalau gak disetujui orang tua gimana?” tanya saya.

“Nyatanya setuju.”

Nah, setelah Eddy menunjukkan desain toko rotinya yang baru. Orang tuanya luluh hatinya kayak nerima mantu baru (halah!). Langsung desain toko yang baru ini direalisasikan. Nah, diam diam Eddy menyiapkan satu bar untuk jualan kopi.

“Sebenarnya orang tua agak kurang setuju sih saya jualan kopi,” kata Eddy.

“Jadi gimana caranya kamu meyakinkan mereka?”

“Tetap gak dapet izin saya, langsung aja saya bangun. Pas orang tua lihat, lho apa ini?”

“Lha?”

“Ya habis itu saya minta maaf. Lebih baik kan minta maaf daripada minta izin,” ujar pria lulusan UKDW ini terkekeh kekeh.

Konsep Yang Terus Berkembang

Mata Kopian

Eddy mengakui bahwa konsep yang ada sekarang tidak langsung jadi. Ia memang memiliki desain dasar. Tapi desain dasar itu tidak serta merta ia biarkan begitu saja. Seiring berjalannya waktu, ada yang ia ubah, ada yang ia tambah supaya jauh lebih menarik.

“Bangku semen yang di luar itu ya saya bikin juga,” kata Eddy sembari menunjuk bangku semen yang ada di teras Mata Kopian. “Bareng ayah saya.”

Eddy mengakui ia masih terus berusaha mengembangkan usahanya. Termasuk mesin kopinya. Ia mengaku sudah mengganti mesin kopinya sampai tiga kali. Tujuannya ya supaya upgrade terus sehingga hasil kopinya juga jauh lebih baik.

“Belumlah saya menikmati keuntungan dari usaha ini. Tiap ada profit ya saya pakai untuk mengembangkan usaha,” kata Eddy. Rupa rupanya ia berkomitmen betul pada usahanya.

Sebelum Pulang

Sebelum pulang saya enggan kembali ke rumah dengan tangan kosong. Saya membeli beberapa roti kuno dan juga pastry khas Mata Kopian sebagai oleh oleh. Untuk anda ketahui harga dari roti dan pastry di Mata Kopian terhitung sangat murah. Jadi, enggak ada salahnya untuk membeli roti roti berbagai rasa ini.

Yuk jajan!

Baca juga :
Humam Rosyid, Bukti Bahwa Bisnis Itu Gak Perlu Ribet!

Awor Coffee Kaliurang, Ngopi Dengan Energi Positif

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini