Waktu Baca: 3 menit

Era sekarang kita udah nggak asing dengan kesetaraan gender. Perempuan boleh berkarir sebagaimana laki-laki  Perempuan memang memiliki hak yang sama dengan pria untuk berkarir, mandiri dan berpenghasilan. Namun bagaimana kalau kita balik situasinya? Bukan tentang perempuan yang berkarir, tapi pria yang di rumah. Mari kita ulas figur bapak rumah tangga.

Menyoal Emansipasi Perempuan dan Pola Pikir Masyarakat

“Cewek ya di kerjaannya di rumah, cowok di kantor.”, kata seorang pria Indonesia. Pola pikir ini sedikit demi sedikit sudah mulai berubah. Perempuan dipersilakan untuk berkarir. Aku pun punya pemikiran yang sama. Aku selalu senang melihat perempuan yang mau untuk menempuh studi master. Mereka mulai menggapai sebuah target yang pada masa lampau masih hanya sekedar angan-angan, yaitu perempuan karir.

Masalahnya, pola pikir ini nggak berkembang secara penuh. Perempuan memang berhasil untuk memperjuangkan dirinya untuk berkarir. Sementara pria, masih terjebak pada pola pikir patriarki di mana mereka harus bekerja. Bahkan kalo bisa, jangan sampai karir dan penghasilannya kalah dengan istrinya.

Analogi Timbangan

Sebenarnya kesetaraan gender itu ibarat sebuah timbangan. Pria dengan beban dan perannya, begitu pula dengan perempuan. Dalam sudut pandang aku sendiri, keseimbangan sudah terjadi di mana perempuan bekerja di rumah dan pria bekerja di kantor. Namun sayangnya, keseimbangan ini nggak memberikan perempuan sebuah kebebasan untuk ikut berkarir juga. Tak ada jenjang karir di urusan rumah tangga.

Nah, kini beban di timbangan itu diubah. Aku membayangkan perempuan yang bekerja di kantor, dan pria yang mengurus rumah. Tentu saja keseimbangan timbangan itu berubah kan? Perempuan memiliki porsi peran dan beban yang lebih daripada laki-laki. Inilah yang membuat posisi timbangan jadi berat sebelah; berat di pihak perempuan

Baca juga : Maudy Ayunda dan Cowok Sapioseksual

Bapak Rumah Tangga

Penyeimbangan peran di keluarga bisa dilakukan dengan menggeser tanggung jawab seorang perempuan ke wilayah pria, yaitu pengelolaan kebutuhan rumah. Penyeimbangan ini mungkin lebih sering kita denger sebagai “bapak rumah tangga”. Istilah yang sepertinya agak tabu kalau didenger sama orang-orang yang konservatif.

Perubahan peran bapak ini sebenarnya jadi kunci untuk perempuannya juga. Bukan hanya bagi perempuan, tapi kunci di keluarganya. Coba bayangkan saja jika kalian berdua bekerja nine to five, sementara kondisi rumah tidak yang mengurus. Rasanya jadi menyebalkan. Sebenarnya ini bisa dijawab dengan menggunakan asisten rumah tangga. Tapi peran mendidik anak tidak bisa digantikan oleh ART. Harus ada figur bapak atau ibu di rumah.

Anak Butuh Teman

Semua anak membutuhkan figur orang tua. Entah salah satunya atau keduanya. Orang tua itu teman pertama bagi anak ketika lahir. Pastinya kalau jadi orang tua sebisa mungkin jadi teman yang baik. Menjadi teman anak di jaman ini menurutku penting banget. Kehadiran satu orang tua sebagai teman bisa mengendalikan tindakan anak, salah satunya di media sosial.  Hadirnya bapak sebagai teman anak bukan cuma mengontrol anak di internet maupun di media sosial, tapi juga soal keterbukaan anak. Dengan jadi teman anak bukan berarti anak dengan mudah curhat pada orangtua. Toh ada anak yang terlahir dengan kepribadian yang tertutup dan ada yang terbuka. Keterbukaan anak adalah kunci dalam perkembangannya di era yang makin digital.

Bagaimana kalau anak dititipkan pada kakek neneknya?  Ya bisa aja sebenarnya. Tapi muncul problem baru, apakah iya generasi kakek neneknya bisa memahami dunia anak jaman sekarang? Kita pun menyadari bahwa generasi yang sekarang, generasiku dan kamu punya fleksibilitas yang lebih tinggi daripada orang tua kita kan? Bahkan mungkin saking kakunya orang tua kita, ada yang mendidik kita sesuai dengan era mereka bukan era kita yang cukup digital. Tetapi ketidakcocokan ini bukan berarti pola asuh orang tua kita buruk sekali.

Pemahaman dunia digital dan kelebihan berupa bisa jadi orang yang lebih fleksibel menghadapi jaman bisa jadi “gaman” buat kita untuk lebih cair dalam membahas peran di keluarga. Bukankah generasi kita terkenal memang suka mendobrak pemikiran-pemikiran lama? Mungkin yang penting saat ini juga mendobrak pemikiran pria wajib karir di tengah perempuan yang berkarir. Perubahan beban dan peran perempuan harus seimbang juga dengan yang pria. Mungkin bisa jadi ada yang mengambil figur jadi bapak rumah tangga. Yang pasti, jangan sampai tidak ada yang berkorban mengurus rumah. Kalau yang punya pacar coba diajak sharing, kalau yang belum ya cari dulu lah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini