Waktu Baca: 3 menit

Masih ingatkah sobat – sobat semua mengenai kenangan saat SD dulu? Dibangunkan ibu di pagi hari dalam keadaan lemah lesu dan kelopak mata yang rasanya kaya diselotip,apalagi keadaan rambut bagaikan sarang burung tanpa penghuni. Usai bangkit dari kasur, masih ada sofa yang menggoda didepan televisi. Biar ngga ngantuk, dinyalakan lah televisi oleh Ibu. Sarapan nasi kuning dengan setengah sadar. Menekan – nekan tombol remot, berganti dari chanel yang satu ke chanel lainnya. “Jeng – jeng !” ketemulah dengan kartun yang menghibur nan mengasyikan. Nah, untuk membawa kembali memori indah sobat – sobat sekalian. Berikut adalah beberapa film masa kecil nostalgia yang tak boleh kita lupakan.

 SpongeBob SquarePants

Are you ready kids ? Eye, Eye, Captain!

I can’t hear you! EYE, EYE CAPTAIN!

Intro yang dibawakan oleh bajak laut ikonik bermata satu. Apalagi kalau bukan animasi SpongeBob SquarePants si mahluk kotak berwarna kuning. Tinggal di kota bawah laut yang ikonik, Bikini Bottom. Rumah nanas berwarna oranye dan peliharaan siput, Gary. Karakter utama yang keakehan polah dan gembira hampir disegala situasi rasanya sangat enjoyable. Belum lagi Patrick si bintang laut yang sangat bersahabat dengan kelakuan SpongeBob.

Ragam tindakan bodoh dan ceria dalam interaksi mereka sungguh menghibur, sampai kita lupa “sudah jam berapa sekarang ?”. Selain di kediaman rumah nanasnya, ragam aksi menarik lainnya juga dibawa sampai ke tempat kerja. Krusty Krab tercinta yang menampilkan Squidward si cumi – cumi murung (seperti wajah kehilangan semangat terhadap PJJ). Isi kartunnya tidak melulu soal kehidupan SpongeBob, persaingan Plankton si kecil licik dengan pak bos Krusty Krab juga kerap dikenang-kenang saat masa SD dulu. Ragam hal ikonik lainnya yang sering jadi bahan ngumpul dulu ; ada ketawa Mr. Crab, resep rahasia Krusty Krab, dan “Hidup seperti Larry”

Chalkzone

Kartun yang sering lewat di layar kaca sebelum kita berangkat sekolah. Menceritakan petualangan ajaib di dunia kapur. Mungkin animasi ini dapat menjadi kali pertamanya sobat berharap apa yang ada di film masa kecil menjadi kenyataan. Itu tindakan bully, kan sudah menjadi kenyataan. Maksudnya bukan kesitu juga, tapi betapa nikmatnya kalau sekolah itu tidak melulu soal belajar. Kalau ada hal luar biasa yang bisa terjadi di sekolah kan rasanya tidak jenuh begitu.

Baca Juga : Vaksin Bagi Anak Belum Teruji, Prokes Tetap Pilihan Terbaik

Saya punya kisah menarik. Gara – gara animasi yang satu ini, saya sempat berpikir kalau ada dunia pertualangan nan indah di balik papan tulis guru mengajar. Menginjak SMP, ekspektasi tersebut seketika lenyap dengan kenyataan kalau dibelakang papan hanya ada tembok bersih. Indah si, tapi sayangnya tidak ada pertualangan. Rasanya sia – sia. Tapi kalau dipikir – pikir, penonton animasi ini secara tidak langsung sudah menonton genre science fiction dong. Di animasinya kan ada alat – alat futuristik. Tidak sia – sia dong.

Rabbids Invasion

“Bwa bwa beblaw bla!” sebagian besar dialognya seperti itu. Walaupun dialognya berkesan tidak jelas, tetapi kenangannya jelas tidak kalah dari 2 animasi sebelumnya. Kisah kelinci – kelinci berkelompok ini hampir sama seperti SpongeBob SquarePants, dimana mereka menampilkan kelakuan bodoh, usil, dan penasaran terhadap sesuatu. Bisa jadi skateboard, televisi, bahkan alat teleportasi.

Baca Juga : Bruce Almighty Adalah Film Komedi Cerminan dari Bobroknya Para Pria

Hal yang menjadi daya tariknya adalah ketidaktahuan dan percobaan acak mereka terhadap benda – benda tersebut. Namun, ada hal aneh dimana suara “bwa bwa!” sebagai dialog mereka tidak dianggap aneh dan bahkan dapat dimengerti oleh manusia disekelilingnya. Manusia didalam animasi ini seperti menganggapnya lumrah. Tapi, mau bagaimanapun juga ‘namanya juga animasi’.

Dora the Explorer

“Katakan peta, katakan peta !” “Lebih keras !”. Saat kecil dulu kedengarannya mengasyikan, sampai kita mengikuti perintahnya. Begitu sudah besar lama – lama kelihatan seperti kelakuan jomblo ngenes. Tidak ada pasangan, layar kaca pun jadi. Walau begitu, masa kecil rasanya jadi lebih berwarna karena kita tidak hanya sekedar menonton kelakuan sang tokoh saja. Kita bisa merasakan keceriaannya, ikut masuk ke dunia petualangannya, bahkan beberapa kaum adam mungkin sudah menjadikannya waifu masa kecil. Kartun Dora juga kini bisa dikreasikan oleh content creator. Seperti yang dilakukan oleh youtuber Kevin Anggara contohnya, dimana kita dihibur dengan parodi mengikuti perintah Dora saat kita dewasa. (Akhirnya kartun penghibur segala umur telah muncul).

Avatar: The Last Airbender

Kartun legendaris dengan karakter seorang bocah berkepala botak dan banyak tingkah, walau begitu ia terlihat keren dengan aksi dan mode ‘mata menyala’. Gambaran seperti itulah yang melekat dalam pikiran ketika mendengar kata kunci avatar. Gerakan – gerakan elemental yang mereka tampilkan sampai masuk ke imajinasi kita. Layaknya senam pemanasan aliran china. Mengayun ke kiri kanan, keatas dan kebawah, berputar. Kalimat “fix, saya keren banget ini” rasanya menjadi boost untuk melnajutkan gerakan. Pandangan orang tua pun mengeluarkan kalimat “Semoga anakku tetap sehat walau kemasukan roh avatar ini”. Namun, sobat sekalian pernah bertanya tidak mengenai hal penting ini. Sebenarnya avatar ini termasuk Cartoon atau Anime sih?

Gimana adakah film masa kecil yang menjadi favorit teman-teman?

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini