Waktu Baca: 2 menit

Pernah tidak ada yang merasa kalau FOMO itu menyiksa. Iya, FOMO alias Fear of Missing Out itu adalah perasaan saat kita tuh kok takut ketinggalan dengan orang lain. Ketinggalannya bisa macam macam ya. Tapi enggak termasuk ketinggalan kereta. Kalau itu wajar kamu takut. Sudah capek capek swab test, beli tiket mahal mahal, eh lupa lagi jadwal keretanya. Wadooh. Nah, ketinggalan di sini itu bisa ketinggalan trend, prestasi atau hal hal lainnya. FOMO ini mungkin belum masuk kategori penyakit jiwa. Tapi ternyata, kalau kamu kena FOMO, kamu sudah ada nih kecenderungan gangguan jiwa. Bahaya dong, iya kan?

Nah, untuk mengatasi FOMO ini, rumah konseling Aku Temanmu mengadakan seminar mengenai FOMO ini dengan mengundang psikolog klinis dewasa Dessy Ilsanty. Lalu, apa kata Mbak Dessy Ilsanty soal FOMO ini.

FOMO Itu Apa?

Bicara FOMO itu kita bicara soal tekanan. Tekanan dari siapa? Ya dari mana mana, bisa teman, bisa orang tua dan seterusnya. Hal ini wajar saja terjadi karena sebagai anak muda kita mengalami perubahan drastis pada rentang usia awal 15 tahunan menuju ke jenjang kuliah. Dari yang awalnya kita terbiasa diatur, tiba tiba harus mandiri dan membuat pilihan sendiri. Di sana kita melihat tiba tiba teman kita sudah lulus kuliah duluan. Ada yang tiba tiba bekerja di kantor dengan gaji dua digit. Ada yang tiba tiba sampai Labuan Bajo. Hal hal begini membuat kita stress.

Wajar jika kita akhirnya cemas dan khawatir. Hal inilah yang membuat kita merasa tidak sehat dan mengalami FOMO itu tadi.

Bisa Gila?

Memang belum ada penelitian yang mengkategorikan FOMO sebagai penyakit jiwa, tapi FOMO menyiksa dong. Pastilah, siapa yang merasa nyaman dengan FOMO. Gak ada kan? Maka dari itu, FOMO sebenarnya sudah masuk kecenderungan gangguan jiwa. Orang yang kena FOMO bisa jadi akan mengalami gangguan atau penyakit jiwa lainnya. Tentu gak ada yang mau mengalami penyakit jiwa. Jadi apa nih kiatnya menghindari FOMO.

Menghindari FOMO versi Dessy Ilsanty

Dessy menyebut bahwa kita harus mulai nih mengurangi fokus pada apa yang tidak kita miliki. Fokus pada kelebihan yang bisa kita olah untuk membuat diri kita menjadi lebih baik. Setiap orang memang lahir dengan kelebihan yang berbeda beda. Tidak perlu kita merasa rendah diri karena tidak memiliki kelebihan tertentu.

Lalu, penting untuk bisa menilai diri sendiri. Ya, gampang memang untuk menilai orang lain. Tapi, menilai orang lain itu tidak ada gunanya. Tidak ada faedahnya. Lebih baik jika kita mengenali diri sendiri dengan lebih baik sehingga bisa mengevaluasi diri ke depannya. Dengan pintar mengevaluasi diri, maka karakter kita yang semakin baik akan berguna untuk meningkatkan pencapaian kita.

Berikutnya, tentukan tujuan hidup yang baik. Gak harus mau kerja apa dan sukses di bidang apa. Mulai saja dengan pertanyaan: Kamu pengen jadi orang yang kayak apa? Apa mau jadi manusia beban gitu? Bikin susah orang? Tentu tidak. Coba kamu definiskan dengan sederhana misalnya jadi orang yang menyelamatkan banyak hewan terlantar. Atau misalnya, mau jadi orang yang bisa kasih banyak pekerjaan ke orang orang kesusahan. Ini jauh lebih realistis dan makes sense.

Lalu, coba jalin hubungan dengan temanmu. Kuatkan hubungan interpersonalmu. Kenapa? Karena teman yang kamu kira hidupnya lebih baik dari kamu itu juga nggak seenak itu. Kamu harus bisa ngobrol sama mereka sehingga kamu lebih memahami bahwa hidup gak cuma pelangi dan sinar matahari (Ce-i-laah).

Nah, sekian tadi soal FOMO. Mari bersama kita hindari FOMO dan menjadi pribadi yang lebih positif.

sumber gambar : Free Pictures

Baca juga :
Kisah Viktor E. Frankl Menemukan Makna Hidup Dalam Kesedihan

Ketika Passion dan Karir Bentrok Dengan Orang Tua

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini