Waktu Baca: 3 menit

Kemarin kawan saya cerita bahwa dia canggung ketika harus mengajar di depan kamera. Itu hari pertama dia mengajar dalam format Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).  Dia menyampaikan materi di kelas di hadapan segelintir siswa, plus satu webcam yang mengarah ke papan tulis. Sebagian besar siswanya menyimak melalui zoom meeting. “Aku nggak pinter public speaking, bung.” Begitu curhatnya pada saya. Kisah singkat itu membuat saya berpikir ulang, apa iya ada guru yang nggak bisa public speaking?

Aslinya, saya nggak percaya dengan keluhan macam itu. Yang bener aja? Tiap pagi guru sudah mengajar lewat zoom meeting, atau berdiri di depan papan tulis, dan masih mengalami demam panggung? Masak iya, guru nggak bisa public speaking? Lalu segala macam pengajaran yang dia lakukan, bukankah itu bentuk public speaking? Guru punya kekuasaan besar atas panggung pembelajaran, entah secara virtual atau tatap muka di kelas. Bahkan pahit-pahitnya guru salah mengajar pun, murid tidak spontan protes. Ya ciri khas murid negeri +62.

Kamera yang menakutkan

Kawan saya itu punya pikiran macam-macam ketika berhadap-hadapan dengan sorotan kamera. Padahal kalo dipikir-pikir, kamera itu benda mati. Ia tak bisa bertindak atau memaknai sesuatu atas apa yang ia lihat. Lain cerita dengan sorotan mata penonton. Mereka bisa bereaksi atas peristiwa yang mereka lihat. Tetapi saya bisa memahami sumber kekuatiran itu. Barangkali pembaca juga punya pengalaman yang sama.

Kamera memang tidak bisa memaknai rekaman visual, tetapi orang-orang yang memanfaatkan kamera itulah yang bagi kita terasa menakutkan. Kalo kita bicara vis a vis, kita bisa secara real time melihat reaksi orang yang menonton aksi kita. Entah menarik atau menyebalkan, kita bisa tahu reaksinya. Tetapi ketika di hadapan kamera, kita tak bisa menebak isi pikiran penonton kita nun jauh di sana. Karena kita tak bisa menebak, maka pikiran-pikiran liar tumbuh dalam benak kita. Bukannya menenangkan, tetapi malah mengganggu. Secara alamiah kita mengalami takut salah, takut perform tidak bagus, takut gagap, takut kelihatan jelek, dan seterusnya.

Guru menguasai panggung

Apakah guru harus bisa public speaking? Menurut saya sih tidak. Tergantung pula seberapa besar kelas yang harus dikuasai. Kalo kelasnya kecil hanya berisi 2 – 20 siswa sih guru nggak perlu ilmu public speaking. Dengan pendekatan personal, materi bisa tersampaikan. Ini juga berlaku untuk konteks perkuliahan. Tetapi ketika kelasnya lebih dari 20 siswa, mau tidak mau guru harus bisa mempengaruhi opini seisi kelas. Maka dari itu public speaking itu perlu, tetapi tidak harus ahli.

Pendiam tapi banyak omong

Di jaman hybrid learning macam sekarang ini, proses belajar tidak lagi terpusat pada guru atau dosen. Apapun bisa jadi sumber belajar. Tetapi soal guidance dan perintah belajar, guru tetap butuh power untuk public speaking. Kalo kata-kata seorang guru sudah tidak mampu mengarahkan pikiran dan tindakan siswa, nah berarti proses mendidik jalan di tempat.

Saya punya referensi beberapa dosen yang aslinya mereka itu punya karakter pendiam. Maklum, juru riset lebih suka membaca ketimbang berdiskusi atau berdebat dengan orang. Tapi meski mereka pendiam, nyatanya sampai tua dan pensiun pun mereka menghabiskan waktunya sebagai pengajar. Di kelas pun mereka bisa menceramahi mahasiswa sampai 100 menit nonstop. Lah, katanya orang pendiam, kok bisa betah ngajar di depan kelas? Ya itulah uniknya.

Guru nggak harus bisa public speaking

Alhamdulillah, selama kampus-kampus keguruan kita masih banyak peminat, kita masih punya stok guru di masa depan. Ada yang kuliah di FKIP karena terpaksa keadaan, ada pula yang karena passion mengajar. Tidak semua mereka yang punya passion mengajar juga punya kemampuan public speaking. Nggak papa sih, seiring dengan jam terbang, guru bisa bermain peran. Dalam real life mereka adalah pribadi pendiam dan hemat kata, tetapi di kelas mereka bisa saja berceramah panjang lebar. Peran ini bisa di switch setiap saat.

Baca juga : Homo Ludens dan Obsesi Orang Dewasa untuk Bermain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini