Waktu Baca: 3 menit

“Kamu bisa kasih apa aja ke perusahaan?” Pertanyaan yang kerap muncul saat kita melakukan interview pekerjaan. Sadar gak sadar, pertanyaan sejenis ini lebih sering muncul daripada pertanyaan “Apa harapanmu untuk perusahaan ini?”. Mungkin, hal itu juga yang menjadi salah satu red flags bagi para pencari kerja karena hal yang mendapat perhatian dari manajemen  hanya hal yang menguntungkan perusahaan saja. Berkaca dari tragedi kebakaran pabrik petasan Kosambi yang menewaskan 48 pekerja, kita patut berpikir, apakah keselamatan kerja di Indonesia sudah layak dan mumpuni? Sebetulnya yang menjadi berkuasa itu keselamatan kerja atau kepentingan produksi? Yuk, kita simak artikelnya!

Kebakaran Kosambi 2017: Bukan Sekadar Kecelakaan Kerja!

Dilansir dari KOMNAS HAM, kebakaran pabrik petasan yang berlokasi di Kosambi, Tangerang pada tahun 2017 silam ini bukan hanya sekadar kecelakaan kerja. Tragedi ini menjadi bukti bahwa praktik keselamatan kerja pada perusahaan di Indonesia masih berada di bawah kata “layak”. Kecelakaan kerja tidak hanya berakibat pada ruginya pihak perusahaan, namun juga para pekerjanya. Urusan ini sangat jarang mendapat perhatian oleh pihak perusahaan. Pada umumnya, perusahaan hanya berfokus pada bidang produksi saja tanpa memikirkan keselamatan para pekerjanya. Asuransi keselamatan pekerja pun belum semua perusahaan mengurusnya. 

Tak berhenti di situ, beberapa sumber menyebutkan bahwa para pekerja di pabrik petasan Kosambi ini kebanyakan adalah anak di bawah umur legal yang seharusnya tidak boleh bekerja di area berbahaya. Lebih lagi, para pekerja di pabrik petasan Kosambi ini mendapatkan gaji di bawah UMR. Hal seperti ini seharusnya menjadi fokus para penggerak bisnis/usaha. Masalah personalia dan tanggung jawab pekerja seharusnya berbanding lurus dengan jumlah produksi, bukannya malah sebaliknya.

Tanggung Jawab Pekerja dan Implementasinya

Praktik keselamatan kerja yang masih rendah tidak berhenti di tahun 2017. Sampai tahun ini, masih banyak perusahaan yang berdiri tanpa memikirkan keselamatan kerja para pekerjanya. Praktik ini bukan hanya terbatas pada pekerja lapangan, namun juga pada pekerja non-lapangan. Contohnya saja, sekarang ini banyak kita temui perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan untuk magang (pegawai tidak tetap). Program magang atau yang dikenal dengan istilah kerennya “internship” ini kerap kali menjadi buah bibir masyarakat. Mengapa? Karena pada praktiknya, banyak sekali perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan karyawan magang ini tanpa memperhatikan aturan atau batasan tertentu. Status pegawai tidak tetap ini kemudian menjadi ancaman bagi para pekerja agar mereka patuh pada atasan mereka. Apalagi jika ditambah embel-embel “Kan masih anak magang,” yang tentunya membuat para pekerja tidak tetap ini seakan-akan lebih rendah statusnya daripada pemilik perusahaan.

Baca juga : Langsung Kerja Setelah Kuliah, Apa Mungkin?

Kasus seperti ini tentunya tidak hanya terjadi pada perusahaan kecil saja, perusahaan yang sudah kondang pun belum semuanya memperhatikan keselamatan kerja dan personalia tiap pekerjanya. Banyak perusahaan yang kurang memikirkan aspek tersebut yang tidak hanya mencakup asuransi keselamatan jasmani, namun juga standard penghasilan (UMR), hingga jobdesk masing-masing karyawan. Seringkali pada praktiknya banyak sekali perusahaan yang mengesampingkan jobdesk dan porsi kerja pekerjanya dengan embel-embel “mau kerja dibawah tekanan”. Tentu ini menjadi konsentrasi bagi para pemilik perusahaan serta penggerak bisnis dalam mempekerjakan pekerjanya. 

Beberapa Harapan bersama

Terlepas dari praktik keselamatan kerja di Indonesia yang masih kurang, tentunya para pekerja juga berharap bahwa nantinya para penggiat bisnis semakin memperhatikan personalia tiap pekerjanya. Hal yang kita inginkan bukan hanya sekadar baik dan buruk bagi perusahaan namun juga bagi pekerjanya. Porsi pekerjaan dan waktu kerja yang proporsional juga semoga bisa menjadi fokus para penggiat bisnis, sehingga kecelakaan kerja karena overwork minim terulang. Sebagai salah satu pekerja lepas, tentunya saya juga berharap dan mendukung sepenuhnya keputusan pemerintah untuk menindaklanjuti perusahaan-perusahaan yang tidak memperlakukan pekerjanya secara layak. Karena dengan sumber daya manusianya yang layak terpenuhi, negara kita Indonesia pun akan semakin berkembang dengan baik. Dengan begitu, kita tidak perlu berdebat mana yang lebih berkuasa, urusan keselamatan kerja atau kepentingan produksi. Kita sudah tahu jawabannya. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini