Waktu Baca: 3 menit

Mudah buat kita mengatakan, jangan mau masuk ke dalam hubungan toxic relationship. Ya, menurut mereka yang mengatakan seperti itu, cara menghindari toxic relationship dengan tidak menjalani hubungan. Gampang tho? Ya enggak. Setidaknya ada beberapa kelemahan dari premis ini. Yang pertama, tidak semua orang sadar dirinya berada dalam toxic relationship atau enggak. Hal inilah yang harus dianalisa terlebih dahulu. Kedua, toxic relationship itu gak melulu soal hubungan cowok-cewek, hubungan pertemanan juga bisa sangat toxic.

Menanggapi masalah toxic relationship ini, rumah konseling Aku Temanmu mengadakan webinar bersama dengan psikolog Zahwa Islami. Zahwa bisa dikatakan pribadi yang tepat untuk membicarakan topik ini. Gadis asal Solo ini merupakan bagian dari generasi Z dan memiliki kepedulian tinggi pada isu relationship. Ia juga paham dengan toxic relationship karena ia adalah bagian dari generasi yang sering menghadapi isu ini/ merasa menghadapi isu ini. Nah, lalu poin poin apa yang bisa kita ambil dari isu toxic relationship ini?

Berawal Dari Diri Sendiri

 

Ya, menurut Mbak Zahwa orang terjebak dalam suatu toxic relationship bukan karena tidak beruntung semata. Ada kecenderungan personal yang membuat orang terus menerus terjebak dalam siklus ini. Salah satu yang menjadi perhatian Mbak Zahwa adalah bahwa orang yang mengalami toxic relationship biasanya memiliki masalah saat childhoodnya.

“Ya, ada misalnya seseorang yang lahir dari keluarga broken home karena ayahnya selingkuh. Saat dewasa ia secara tidak sadar akan mencari pasangan yang kurang setia karena dia merasa memiliki kebutuhan untuk mengubah orang yang tidak setia menjadi setia. Padahal ya tidak bisa begitu,” kata Mbak Zahwa.

Hal ini juga berlaku untuk hal lainnya. Misalnya saja anak perempuan yang dibesarkan dengan ayah yang suka menekan anak perempuannya untuk melakukan sesuatu, ia juga akan cenderung memiliki suami yang suka menekan. Ini mungkin menjadi suatu siklus yang terus menerus terjadi. Karena itulah, menghentikan toxic relationship harus mulai dari diri sendiri. Namun, tetap saja seseorang membutuhkan bantuan. Kenapa? Kembali ke poin pertama, orang kadang tidak sadar bahwa dirinya berada dalam toxic relationship.

Menetapkan Batasan

Menghindari Toxic Relationship

Ya, penting untuk memahami apakah kita dalam toxic relationship atau tidak. Mbak Zahwa pernah mengalami kejadian menarik ketika seorang followernya di instagram mengaku bahwa ia memiliki ‘sahabat yang toxic’. Dua hal ini jelas bertentangan karena sahabat kan tempat mencurahkan perasaan dan curhat. Tapi kok ya yang punya sahabat merasa bahwa sahabatnya toxic?

Nah, di sinilah Mbak Zahwa melihat bahwa sebenarnya manusia itu ada baik dan buruknya. Kadang karena kita merasa dia sahabat kita, lalu kita ceritakanlah semua permasalahan kita. Menurut Mbak Zahwa, ini bukan sikap yang baik. Seseorang harus punya batasan yang sehat.

“Jangan terlalu rigid atau enggak mau share sama sekali mengenai permasalahan yang dihadapi. Tapi juga jangan terlalu Porous atau membagi semua permasalahan hidup kita,” ujar Mbak Zahwa. Menurutnya hubungan yang sehat ya harus bisa memberi batasan baik itu mental, fisik dan seterusnya.

Ya, jangan mentang mentang sahabat terus kita terlalu over share atau mau berkorban apa saja untuk sahabat. Menghindari toxic relationship harus dimulai dengan memberi batasan yang sehat dalam hubungan, apapun itu.

Dalam Pacaran, Gimana Menghindari toxic relationship?

Gongnya dalam membicarakan toxic relationship pastilah hubungan dengan lawan jenis. Nah, ini agak kompleks. Tapi gimana kalau pacar kita toxic tapi kita sedang sayang sayangnya? (Wa-di-daw).


Tenang, jadi gini, menurut Mbak Zahwa, manusia tidak bisa berubah kecuali karena tiga hal. Beberapa hal yang mungkin membuat orang berubah adalah awareness, willingness, readiness. Orang harus aware dulu, hal apa yang bisa ia rubah dari dirinya.  Sebab, banyak juga orang yang gak tahu kalau dirinya toxic. Kalau ia sudah aware, pertanyaan selanjutnya adalah apakah ia mau atau punya willingness untuk berubah. Kalau enggak ada kemauan ya sama aja. Kayak punya pacar kasar tapi ngomongnya ‘ya ini gue!’. Waduh banget kan. Nah, selanjuttnya adalah readiness. Iya dong, mau siap berubah enggak. Kalau enggak ya susah kita. Kalau pacarmu gak punya tiga hal ini. Ya mungkin bijaknya kamu menyelesaikan hubungan kamu. Kalau enggak ya kamu berada dalam toxic relationship itu.

Nah itu tadi adalah beberapa tips menghindari toxic relationship dari Mbak Zahwa. Semoga hal ini bisa membantu kamu memiliki hubungan yang lebih bahagia.

Sumber gambar : J.D. Mason

 Baca juga :

Toxic Relationship itu Apa? Apakah Kita Juga Mengalaminya?

Mendengarkan Omongan Motivator Malah Bikin Emosi

 

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini