Waktu Baca: 2 menit

Sejujurnya saya merasa geregetan setiap ada kegiatan refleksi terkait hari-hari nasionalisme macam Peringatan Kemerdekaan RI, Hari Sumpah Pemuda, atau Hari Kebangkitan Nasional. Di momen-momen macam itu kita lebih mudah terseret untuk memuja kondisi masa lalu dan mengkritik masa kini. Seolah kita ini lupa bahwa setiap angkatan memiliki konteks jaman masing-masing. Ini tak beda dengan orang yang bilang ‘jaman kami dulu lebih sulit ketimbang jamanmu sekarang, dik!’ Saya berpikir, sudah saatnya kita optimis dalam peringatan hari nasionalisme, termasuk sumpah pemuda.

Optimis bukan berarti mengabaikan kisah kisah sedih seputar hidupnya orang muda yang no life. Bukan juga mengabaikan adanya teman-teman kita yang cacat dalam berbahasa Indonesia. Kita tetap menyadari hal-hal macam itu, tetapi kita bisa lho untuk memilih mencatat hal-hal baik yang selama ini sudah kita kerjakan.

Satu Nusa, Satu Kesatuan Rasa Soal Kewilayahan

Kita sudah terbantu sekali dengan adanya teknologi informasi. Saya yang di Jawa bisa dengan cepat turut merasakan keprihatinan soal kasus anjing Canon di Aceh. Seolah-olah kasus itu terjadi tidak jauh dari area tinggal saya. Nah, siapa yang berkiprah membuat konektivitas rasa masyarakat antar kota? Ya orang-orang muda dengan mantra Twitter please do your magic. Apakah kondisi ini lebih baik ketimbang situasi pemuda jaman mbah Soegondo Djojopuspito? Oh tidak juga. Ini soal anak jaman saja, ini konteks kekinian.

Satu Nusa juga berarti kita udah siap untuk menjelajahi kota-kota di Indonesia, siap merantau ke pulau-pulau selain Jawa. Atau barangkali kita ada di Jawa, tetapi objek pekerjaan kita ada di Palembang, karena kita bisa bekerja secara remote. Dalam kondisi macam itu kita nggak ada urusan dengan faktor kesukuan. Kerja ya bekerja, namanya berkarya ya tetap berkarya.

Satu Bangsa, rasa sebagai Bangsa Indonesia. 

Kini rasa Keindonesiaan tidak hanya terasa di Nusantara; tidak hanya dari Sumatera hingga setengah Papua.  Rasa Keindonesiaan gampang kita temukan di berbagai tempat di luar negeri. Tengoklah Afrika tengah yang sedang hype dengan indomie. Bukankah itu juga bagian dari identitas kebangsaan kita, sebagai bangsa mie instant?

Atau kita juga bisa mengingat beberapa serangan psikologis lewat media sosial yang dikerjakan oleh teman-teman kita, ketika di media sosial ada warga negara lain yang merendahkan Indonesia. Hasilnya, beberapa akun bisa lumpuh. Meski dalam beberapa aspek hal macam itu kelakuan o’on, tetapi bolehlah kita sebut bahwa kadang-kadang kita bisa dengan cepat bersatu.

Satu Bahasa, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. 

Kita patut berterima kasih pada Uda Ivan Lanin dan segenap jajarannya, yang giat edukasi soal cara berbahasa yang baik dan benar. Itu membuat bahasa Indonesia bisa lebih tahan lama, tidak cepat punah. Lagipula, orang mau belajar bahasa asing seperti apapun, tetap aja butuh pakai bahasa Indonesia. Ya kali, ngomong sama mamang penjual cilok pakai bahasa Inggris? Kalo banyak orang muda yang cara berbahasa Indonesia nya buruk, ya so what? Bukankah di Australia, US, maupun Inggris, tetap saja ada orang-orang muda yang cara berbahasa Inggrisnya buruk? Entah baik atau buruk, suka atau tidak suka, toh Bahasa Indonesia tetap punya posisi penting di masyarakat kita.

Ungkapan ‘Nggak Bisa Bahasa Inggris’ , satu sisi itu konyol dan memalukan. Masak sih bertahun-tahun belajar bahasa Inggris tapi nggak paham-paham juga? Tapi sisi lain ya oke lah, setidaknya kita masih bisa berbahasa Indonesia. Pada dasarnya kita itu bisa belajar berbagai macam bahasa, kok. Dengan catatan, asalkan punya niat dan ada sarana.

So, kita jadi merayakan Sumpah Pemuda hari ini, kah? Perlukah kita mengulangi sumpah pemuda untuk memastikan kita optimis soal Keindonesiaan?

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini