Waktu Baca: 3 menit

Bagian punggung kaki saya tampak belang. Sisi yang lebih cerah membentuk pola jejak webbing sandal gunung. Sementara bagian yang tidak tertutup webbing sandal gunung jadi lebih gelap karena terbakar panasnya sinar matahari. Kok bisa? Ya karena saya sudah pakai sandal gunung selama 15 tahun. Soal beginian, saya tidak sendirian. Ada teman-teman mahasiswa yang kakinya belang juga, tanda cinta mereka pada sandal gunung.

Kenapa pakai sandal gunung? Sebetulnya sih bukan sandal gunung. lebih tepatnya sepatu sandal yang dipakai untuk kegiatan outdoor. Perkara pilihan alas kaki berupa sandal gunung atau sepatu kets, itu sih selera saja. Pepatah latin mengatakan de gustibus est non disputandum. Selera tak dapat diperdebatkan. Tetapi kalau saya, istiqomah ikut mahzab sandal gunung sebagai alas kaki adalah jalan hidup saya.

Kenapa tidak pakai kaus kaki?

Oh ya bisa-bisa saja. Kalo kamu pakai sandal gunung untuk aktivitas dalam ruangan yang pasti kering, it’s okay kalo kamu mau pakai kaus kaki. Tapi sebetulnya sandal gunung didesain untuk aktivitas luar ruangan, yang siap berpanas-panasan dan basah-basahan. Kalo pun basah, tetap nyaman, cepat kering, tidak membuat langkah kaki jadi berat. Lah, kalo pakai sandal gunung untuk aktivitas luar ruangan dan kamu masih pakai kaos kaki, itu malah akan memberatkan. Maka soal rasa panas menyengat atau kehujanan, itu risiko penggunaan sandal gunung.

Benefit penggunaan sandal gunung

Sebagai mahasiswa, sandal gunung ini menguntungkan. Apalagi kalo dipakai ke kampus. Berhadapan dengan aturan ketertiban kampus soal penampilan, sandal gunung (sepatu sandal) ini masih lolos skrining. Mau masuk kategori sandal juga bukan, karena ada webbing yang menutup tumit kaki kita. Mau masuk kategori sepatu juga bukan, karena punggung kaki kita tidak tertutup sepenuhnya. Berhubung saya malas pakai sepatu kets dan suka bertelanjang kaki, maka pemakaian sandal gunung ke kampus jadi pilihan yang oke. Meski fleksibel, tapi jangan sekali-kali pakai sandal gunung untuk sidang skripsi atau ikut menonton ujian disertasi. Itu norak, bung !

Soal keawetan, ini juga alasannya. Sandal gunung itu relatif awet. Tapi tergantung merk juga, sih. Tergantung pula aktivitas harian kita. Sandal gunung saya umurnya mencapai 5 tahun, dan belum jebol. Pernah juga saya beli merk terkenal, ternyata umur pakainya cuma setahun saja.

Rasa persaudaraan

Ada rasa yang beda ketika melihat teman-teman sesama pengguna sandal gunung. Mungkin ada rasa solidaritas, seperti semangat anak-anak mahasiswa pecinta alam. Belang pada kaki itu jadi tanda solidaritas, tanda cinta mahasiswa pada sandal gunung. Cuma terkadang nasibnya sandal gunung itu seperti kalo sandal swallow di masjid. Bisa aja tertukar, apalagi kalo tali webbing nya sama-sama hitam. Pola tali webbing jadi identitas pembeda antar sandal. Maka saran saya, kalo kamu beli sandal gunung, jangan pilih webbing yang hitam total. Pilihlah yang ada motif tertentu, biar tidak jadi sepatu sandal yang tertukar.

Pilihan merk

Sandal gunung sebagai bagian dari outdoor gear itu cukup jujur dalam hal kualitas. Pokoknya ada harga ada kualitas. Para penikmat outdoor gear tahu hal ini. Maka jangan harap harga murah dapat kualitas prima. Tapi bukan berarti harga yang tertinggi itu kualitasnya terbaik, lho. Produk yang top of mind misalnya Eiger. Secara fitur, in sole nya empuk. Kalo kamu pakai untuk jalan kaki jarak jauh, tidak cepet bikin kaki panas. Sayangnya, Eiger udah banyak produk palsunya.

Nah, sudah 10 tahun terakhir ini saya pakai merek Akasaka. Sol nya memang lebih keras dan lebih kaku dari Eiger. Tapi karena faktor itu, malah lebih awet dari Eiger. Soal harga sebetulnya produk made in Bekasi ini tidak beda jauh dengan merek-merek lain, sih. Kisaran harga sepatu sandal gunung Akasaka ada di rentang 150 – 200 ribu. Memang sih, pilihan modelnya tidak sebanyak Eiger. Tapi ya itu, awetnya gilak. Untuk pembeliannya pun mudah, bisa dibeli secara online dan ada garansi kualitasnya.

Nah soal pilihan, sekali lagi, kembali pada selera. Kamu boleh join klub kaki belang, seperti saya ini.

Baca juga : Thrift Shop Korean Style, Gingerline Jawabannya. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini